1.000 HPK Anak Bukan Cuma Urusan Ibu, Ayah Juga Punya Peran Penting, Ini yang Harus Dilakukan
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 11 jam yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kemkes.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Selama ini, urusan menjaga kesehatan ibu dan anak kerap lebih banyak dibebankan kepada perempuan. Padahal, sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun, ayah punya peran yang tidak kalah penting dalam memastikan tumbuh kembang buah hati berjalan optimal.
Periode tersebut dikenal sebagai 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Masa ini dimulai sejak 270 hari kehamilan dan berlanjut hingga 730 hari pertama setelah bayi lahir atau sampai anak berusia dua tahun. 1.000 HPK merupakan periode penting yang menjadi fondasi pertumbuhan fisik dan perkembangan anak. Gangguan gizi dan kesehatan pada fase dapat berdampak terhadap pertumbuhan maupun perkembangan kognitif anak dalam jangka panjang. Oleh sebab itu perlu perhatian terhadap 1.000 HPK, seharusnya tidak berhenti pada ibu. Ayah juga perlu mengambil bagian sejak sebelum anak lahir.
Apa yang bisa dilakukan ayah dalam 1.000 HPK?
Peran ayah sebenarnya bisa dimulai jauh sebelum bayi dilahirkan. Pada tahap sebelum kehamilan, pasangan perlu memiliki kesiapan kesehatan yang baik. Pemerintah sendiri menempatkan kesehatan remaja putri serta skrining calon pengantin sebagai bagian dari intervensi awal 1.000 HPK.
Memasuki masa kehamilan, dukungan ayah bisa diwujudkan dengan mendampingi pemeriksaan kehamilan, membantu memastikan kebutuhan gizi ibu terpenuhi, serta ikut mempersiapkan persalinan di fasilitas kesehatan yang aman.
Setelah bayi lahir, keterlibatan itu justru semakin dibutuhkan. Ayah dapat membantu ibu memberikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama, ikut memastikan jadwal imunisasi terpenuhi, memperhatikan pertumbuhan anak, hingga membantu menyediakan makanan yang sesuai ketika anak mulai mendapatkan makanan pendamping ASI.
Kemenkes juga menekankan pencegahan masalah pertumbuhan tidak hanya berkaitan dengan makanan. Kebersihan lingkungan, pencegahan infeksi, imunisasi, serta stimulasi tumbuh kembang juga menjadi bagian penting dalam menjaga anak selama periode awal kehidupannya.
Ayah bukan hanya pencari nafkah
Selain itu konsep Ayah Siaga menjadi penting, membuat Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mendorong Fatherhood Movement atau Gerakan Keayahan agar ayah terlibat lebih aktif dalam pemenuhan kesehatan anak.
Menurut Dante, peran ayah tidak seharusnya hanya terlihat ketika istri hendak melahirkan. Keterlibatan tersebut perlu diperpanjang sepanjang 1.000 HPK, karena perkembangan otak berlangsung sangat pesat pada usia awal kehidupan.
Gagasan itu menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat program 1.000 HPK untuk menekan stunting sekaligus membantu menurunkan risiko kematian ibu dan bayi.
Artinya, Ayah Siaga bukan berarti ayah harus mengambil alih seluruh peran ibu. Justru sebaliknya, ayah menjadi pasangan yang ikut memastikan kebutuhan ibu dan anak terpenuhi.
Hal sederhana seperti mengingatkan jadwal pemeriksaan, menemani ke fasilitas kesehatan, membantu pekerjaan rumah agar ibu bisa beristirahat, atau meluangkan waktu bermain bersama anak juga menjadi bentuk keterlibatan yang nyata.
1.000 HPK dimulai sebelum bayi lahir
Pentingnya keterlibatan keluarga juga terlihat dari cara pemerintah membagi intervensi 1.000 HPK.
Tahap pertama bahkan berlangsung sebelum kehamilan. Kesehatan remaja dan calon pengantin perlu dipersiapkan agar pasangan memasuki kehamilan dalam kondisi yang lebih baik.
Berikutnya adalah masa kehamilan, persalinan dan bayi baru lahir. Pemeriksaan kehamilan, termasuk pemantauan kondisi ibu dan janin, menjadi bagian penting untuk mendeteksi masalah sedini mungkin.
Setelah bayi lahir, perhatian berlanjut pada ASI, gizi, imunisasi serta pemantauan pertumbuhan dan perkembangan. Ketika memasuki usia enam bulan, kebutuhan nutrisi anak mulai dilengkapi melalui makanan pendamping ASI yang sesuai.
Pada saat yang sama, layanan kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit juga harus mampu memberikan pelayanan yang dibutuhkan keluarga.
Empat rangkaian intervensi mengungkapkan pencegahan stunting tidak bisa dilakukan hanya ketika anak sudah terlihat mengalami masalah pertumbuhan. Upaya pencegahan harus dimulai sejak sebelum kehamilan dan dijaga secara konsisten sampai anak berusia dua tahun.
Bukan hanya soal makanan
Ada satu hal yang sering luput ketika membicarakan 1.000 HPK, yakni stimulasi dan interaksi dengan anak.
Pemenuhan gizi memang penting, tetapi tumbuh kembang anak juga membutuhkan rangsangan yang sesuai dengan usianya. Interaksi, komunikasi, bermain, serta perhatian orang tua ikut menjadi bagian dari lingkungan yang mendukung perkembangan anak. Kemenkes menilai stimulasi perlu dilakukan sejak awal kehidupan dan dilanjutkan sesuai tahapan tumbuh kembang anak.
Karena, kehadiran ayah tidak harus selalu diwujudkan dalam bentuk sesuatu yang besar, seperti membacakan cerita, mengajak anak berbicara, bermain, membantu aktivitas sehari-hari, atau tak hanya menyediakan waktu tanpa gangguan pekerjaan bisa menjadi bagian dari keterlibatan tersebut.
Wamen PPPA Veronica Tan sebelumnya juga menyoroti pentingnya quality time antara ayah, ibu dan anak. Menurutnya, kesibukan orang tua dan anak tidak boleh membuat waktu bersama keluarga hilang.
Ia juga mengingatkan pentingnya kembali membiasakan keluarga mengonsumsi masakan rumah sebagai bagian dari pola hidup sehat.
Pesan Ayah Siaga datang dari Kota Bogor
Dorongan agar ayah lebih aktif dalam 1.000 HPK tersebut disampaikan Dante saat kunjungan kerja lintas sektor di Kota Bogor, Jumat (28/8/2026).
Dalam kunjungan itu, rombongan kementerian tidak hanya berdialog mengenai kebijakan. Mereka juga melihat langsung pelayanan kesehatan ibu dan anak di Puskesmas Tanah Sareal.
Sejumlah layanan yang ditinjau meliputi pemeriksaan rutin ibu hamil atau antenatal care (ANC), pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak bawah dua tahun, serta imunisasi bayi.
Rombongan kemudian melihat pelaksanaan tes kebugaran siswa dan pemeriksaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) Anak Sekolah di SMPN 5 Kota Bogor.
Kunjungan tersebut melibatkan sejumlah kementerian dan lembaga, termasuk Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan, Sekretaris Menteri Koordinator Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan Imam Machdi serta Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Kepresidenan Ade Kadarisman.
Namun, pesan yang paling dekat dengan kehidupan keluarga justru sederhana: 1.000 HPK bukan proyek ibu seorang diri.
Kesehatan anak dibangun bersama sejak sebelum lahir. Ibu membutuhkan dukungan, bayi membutuhkan gizi dan perlindungan kesehatan, sementara anak membutuhkan stimulasi serta kehadiran orang tua.
Di situlah peran ayah menjadi penting, gerakan Ayah Siaga pada akhirnya bukan hanya tentang hadir ketika keadaan darurat. Lebih dari itu, ayah diharapkan hadir dalam rutinitas kecil yang dilakukan setiap hari agar fondasi kesehatan, gizi dan tumbuh kembang anak terbentuk sejak awal kehidupannya. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
