Sumselterkini.co.id, – Borobudur sebentar lagi tidak cuma jadi rumahnya lilin dan doa, tapi juga tempat di mana ide-ide kreatif mekar seperti bunga teratai. Hari Waisak Nasional 2569 BE tahun ini tampaknya akan lebih semarak, bukan hanya oleh suara gong dan mantra, tapi juga oleh suara ‘cha-ching!’ dari dompet UMKM yang mulai sumringah.
Di Museum Nasional Jakarta, suasana seperti warung kopi yang mendadak jadi ruang rapat. Di sana, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamenekraf), Irene Umar, hadir dengan semangat seperti penjual keripik pedas yang lagi viral.
Ia bilang, “Perayaan Waisak ini jangan cuma jadi acara hening-hening sedap, tapi juga momen untuk mengangkat ekonomi kreatif dan promosi budaya kita ke mata dunia.” katanya, minggu [4 /4 /2025].
Kalimatnya panjang seperti kereta api malam, tapi intinya jelas Waisak harus jadi lebih dari sekadar upacara. Harus ada gerakan ekonomi yang nyata. Harus ada aktivitas budaya yang membuncah. Dan kalau bisa, ada juga transaksi digital yang bunyinya lebih nyaring dari lonceng vihara.
Bayangkan Borobudur sebagai panggung besar. Di satu sisi, ada Bhikkhu yang melangkah pelan membawa mangkuk sedekah. Di sisi lain, ada pelaku UMKM yang membawa hasil kerajinan tangan, dari tas ecoprint sampai gelang dari biji kopi. Semuanya berpadu seperti sayur lodeh yang isinya campur-campur tapi tetap sedap disantap.
Wamenekraf Irene juga menggarisbawahi bahwa momen Waisak ini bisa menyatukan dua hal yang dulu sering dianggap bertolak belakang spiritualitas dan ekonomi. Tapi hei, siapa bilang berdoa dan berdagang tak bisa sejalan? Toh pepatah Jawa bilang, “Urip iku kudu eling lan waspada, tapi nek ono rezeki, yo disambut!”
Salah satu momen yang paling mengharukan dari rencana ini adalah kontribusi dari seorang seniman muda bernama Oliver Wihardja. Usianya baru 23 tahun dan ia adalah penyandang autisme. Tapi siapa sangka, kuas di tangannya bisa menari lebih luwes dari penari gambyong.
Oliver bisa bicara
Lukisan-lukisan Oliver akan dipamerkan di sekitar Borobudur. Ia tidak banyak bicara, tapi setiap goresan catnya, seperti punya bahasa sendiri menceritakan tentang kedamaian, semesta, dan kerinduan akan dunia yang ramah.
Kalau lukisan Oliver bisa bicara, mungkin mereka akan bilang, “Lihat aku, peluk aku, dan beli juga kalau bisa.” Karena ekonomi kreatif juga butuh pembeli, bukan hanya pengagum.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon juga angkat bicara. Ia bilang pemerintah siap mendukung perayaan Waisak sebagai peristiwa budaya yang inklusif dan berkelanjutan.
Ia ingin ada kolaborasi antar kementerian dan stakeholder. Istilahnya, jangan cuma saling tunjuk, tapi saling dukung. Jangan kayak acara kerja bak.ti, yang ramai waktu selfie, tapi hilang waktu nyapu.
Sikap terbuka pada masukan dari pemuka agama Buddha juga jadi poin penting. Karena dalam dunia pembangunan kebudayaan, yang ngatur panggung jangan cuma pejabat. Biarkan juga tokoh agama, budayawan, dan rakyat biasa punya suara. Ibarat masak nasi liwet, kalau yang ngeracik cuma satu orang, takutnya kebanyakan santan, kurang garam.
Perayaan Waisak 2025 ini menjanjikan lebih dari sekadar prosesi sakral. Ini adalah panggung akbar untuk ekonomi kreatif dan budaya lokal. Sebuah sinergi antara hening dan ramai, antara meditasi dan transaksi, antara kuas seniman dan kantong belanja wisatawan.
Pepatah bilang, “Rejeki tidak datang dari langit, tapi dari kreativitas dan kolaborasi yang kuat,” .Oleh sebab itu, kalau Borobudur bisa menjadi tempat umat bertemu damai, kenapa tidak sekaligus menjadi tempat UMKM bertemu pembeli?
Karena di zaman sekarang, membangun spiritualitas tanpa membangun ekonomi itu seperti minum kopi tanpa gula tetap bisa, tapi kurang greget. Jadi mari rayakan Waisak 2025 dengan hikmat, semangat, dan dompet yang ikut semarak.[***]