Rabu, 21 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Inspirasi » “Society 5.0 vs Society Sabar Aja Dulu” [Antara Sekolah Pintar & Murid yang Masih Minta Colokan]

“Society 5.0 vs Society Sabar Aja Dulu” [Antara Sekolah Pintar & Murid yang Masih Minta Colokan]

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Minggu, 1 Jun 2025
  • visibility 1.496
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sumselterkini.co.id, – Kalau Jepang sudah melaju kencang dengan Society 5.0, kita di sini masih berpelukan mesra dengan Society Sabar Aja Dulu. Mereka sudah bikin sekolah pakai AI, kita masih sibuk mikirin siapa yang jaga UKS. Mereka ngajarin siswa bicara dengan mesin, kita masih ribut soal papan tulis magnetik yang raib entah ke mana.

Makanya, begitu Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pak Pratikno, belum lama ini mampir ke Kindai University High School di Osaka, Jepang, banyak yang mangap. Lha iya, ini sekolah, tapi mirip laboratorium masa depan.

Guru Bahasa Inggrisnya didampingi sistem AI, muridnya ngobrol sama robot dengan percaya diri, dan tak satu pun siswa ngeluh soal sinyal. Sementara di kampung kita, sinyal hilang sebentar aja bisa bikin murid teriak, “Pak, nggak kedengeran, Pak! Ulangi dari awal, Pak!”.

Di Kindai, AI bukan cuma alat bantu, tapi sahabat belajar. Sejak 2013, sekolah ini sudah jadi Apple Distinguished School, bukan karena tiap murid dikasih apel gratis, tapi karena mereka memetik hasil dari teknologi yang dirawat dengan filosofi. Teknologi di sana tidak digunakan untuk gaya-gayaan, tapi untuk memperkuat karakter. AI bukan untuk menggantikan guru, tapi untuk menajamkan metode. Di sini, masih ada yang anggap kalau pakai proyektor itu udah “paling digital”.

Program GIGA School Jepang memberi setiap siswa tablet dan internet cepat. Sekolah-sekolah negeri dan swasta dipacu bareng, tanpa pilih kasih. AI tidak dijadikan mata pelajaran tersendiri, tapi diintegrasikan dalam semua pembelajaran. Mereka sadar, masa depan bukan hanya butuh kecerdasan buatan, tapi juga hati yang tidak buatan. Di sinilah Jepang membangun Society 5.0  masyarakat berteknologi tinggi tapi tetap berpusat pada manusia. Kita? Masih sibuk cari charger di ruang guru.

Pak Pratikno tak cuma datang buat selfie atau lihat-lihat. Ia diskusi serius soal pelatihan guru, perlindungan data, tantangan infrastruktur, sampai kesenjangan digital. Hal-hal yang kerap kita anggap remeh tapi ternyata bisa bikin masa depan bobrok kalau dibiarkan. Kesenjangan digital antara sekolah negeri dan swasta, antara kota dan desa, itu bukan sekadar beda merek modem, tapi beda peluang hidup.

Pak Menko juga mendapati bahwa Jepang tidak menyembah AI. Mereka mendidik murid untuk memahami teknologi, bukan ditundukkan olehnya. Kurikulum menekankan kemampuan yang tidak bisa digantikan AI, seperti berpikir kritis, menyelesaikan masalah, dan etika digital. Di sini, kadang anak-anak malah belajar salin jawaban dari chatbot, lalu merasa pintar luar biasa.

Pepatah lama berkata, “Besi diasah jadi tajam, manusia diasah dengan ilmu.” Tapi di era sekarang, besi pun diasah pakai teknologi laser, masa manusia masih diasah pakai penggaris kayu?

Mau tidak mau, suka tidak suka, sekolah kita harus segera upgrade. Bukan cuma ganti LCD projector, tapi ganti pola pikir. Sekolah masa depan bukan tentang gedung mewah atau seragam rapih doang, tapi soal bagaimana anak-anak belajar berpikir sendiri, bukan disuapi soal.

Kita butuh kurikulum yang menantang murid untuk berpikir, bukan membebani guru dengan administrasi. Kita perlu guru yang jadi fasilitator eksplorasi, bukan penjaga absen dan pengisi tabel tak bernyawa. Dan kita juga perlu orang tua yang melek digital, bukan yang menyuruh anak ikut bimbel karena “biar kayak anak tetangga”.

Transformasi pendidikan ke arah Society 5.0 memang butuh waktu, tapi bukan alasan untuk berlama-lama di Society sabar aja dulu. Kesabaran itu mulia, tapi kalau kelewat sabar, nanti muridnya keburu jadi kakek sebelum dapat tablet dari sekolah. Kita harus sadar bahwa teknologi itu bukan tujuan, melainkan kendaraan. Tujuan sejatinya adalah membentuk manusia-manusia merdeka yang bisa berpikir, beretika, dan tidak tergantung pada mesin.

Kalau Jepang sudah memulai Society 5.0 dengan semangat “human-centered society”, maka kita harus mulai dari “reality-centered planning”. Jangan mimpi bikin robot kalau ngetik RPP saja masih tergantung jaringan tetangga. Jangan juga cuma pasang WiFi di sekolah tapi lupa ajarin murid cara berkomunikasi yang sopan di ruang digital.

Dan yang lebih penting, jangan sampai kita jadi negara yang pintar bikin slogan, tapi lupa bikin solusi, jangan sampai anak-anak kita pintar main filter TikTok, tapi gagap saat harus menyaring informasi. Dan jangan sampai teknologi membuat kita makin jauh dari tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan mencerdaskan algoritma belaka.

Karena bangsa besar bukan hanya yang bisa bikin satelit, tapi juga yang bisa membuat satu kelas belajar dengan bahagia, bermartabat, dan tidak panik saat lupa password. Selamat datang di Society 5.0. Selamat tinggal Society Sabar Aja Dulu asal sabarnya jangan terlalu lama.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Di Tengah Haji, Ada Peluh, Pelukan, Pelayanan & Cinta [“Ketika Irjen jadi Ojol di Tanah Suci”]

    Di Tengah Haji, Ada Peluh, Pelukan, Pelayanan & Cinta [“Ketika Irjen jadi Ojol di Tanah Suci”]

    • calendar_month Senin, 9 Jun 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 714
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Di bawah terik mentari Makkah yang menyengat, panasnya bukan kaleng-kaleng, bisa bikin kulit keriput dalam seminggu dan air mata netes tanpa sebab, seorang pria berseragam PPIH berlari kecil menyeberangi jalan. Bukan untuk mengejar bus haji yang salah rute, bukan pula sedang terburu-buru ikut tawaf tambahan, tapi karena di pelukannya, ada seorang jemaah lansia […]

  • Pangdam : Prajurit Telah Diikat Aturan Militer, Jadi Harus Ikuti

    Pangdam : Prajurit Telah Diikat Aturan Militer, Jadi Harus Ikuti

    • calendar_month Sabtu, 13 Feb 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 894
    • 0Komentar

    Pangdam II/Sriwijaya Mayor Jenderal TNI Agus Suhardi mengatakan bahwa prajurit telah diikat aturan militer sehingga itu harus diikuti. Prosesi pelantikan yang dilaksanakan tersebut menandai perubahan status dari masyarakat sipil menjadi prajurit TNI AD. “Perubahan status ini memiliki konsekuensi terhadap pola pikir, pola sikap dan pola tindak kalian sebagai prajurit, kata Pangdam saat melantik sebanyak 307 […]

  • Tim Sekretariat Wapres Monitoring Persiapan Asian Games

    Tim Sekretariat Wapres Monitoring Persiapan Asian Games

    • calendar_month Kamis, 1 Mar 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 835
    • 0Komentar

    Asian Games Palembang tidak hanya sukses penyelenggaraan juga sukses peningkatkan kunjungan wisata.

  • Benarkah, Video Sri Mulyani Disuntik Vaksin Kosong

    Benarkah, Video Sri Mulyani Disuntik Vaksin Kosong

    • calendar_month Sabtu, 26 Jun 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.025
    • 0Komentar

    BEREDAR unggahan video di media sosial Facebook yang memperlihatkan proses penyuntikan vaksin terhadap seorang perempuan. Unggahan itu disertai keterangan yang mengklaim bahwa perempuan dalam video tersebut adalah Menteri Keuangan, Sri Mulyani yang mendapatkan suntik vaksin kosong. Faktanya, perempuan yang divaksin dalam video tersebut bukan Menteri Keuangan, Sri Mulyani, melainkan Sekretaris Dewan Kesehatan Kota Quixada, Brasil, […]

  • Dihadapan Pansus DPRD Sumsel, Begini Kata Alex

    Dihadapan Pansus DPRD Sumsel, Begini Kata Alex

    • calendar_month Senin, 16 Okt 2017
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.438
    • 0Komentar

    “Mudahan- mudahan dengan selesainya jembatan Musi VI ini, tidak saja mendukung pelaksanaan Asian Games 2018 akan tetapi juga menjadi tonggak sejarah bagi kesuksesan pembangunan di Sumsel,”ujarnya.

  • Berikan Penghargaan, Gubernur Lepas Mantan Kapolda Sumsel Irjen Pol Eko Indra Heri

    Berikan Penghargaan, Gubernur Lepas Mantan Kapolda Sumsel Irjen Pol Eko Indra Heri

    • calendar_month Rabu, 1 Sep 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 674
    • 0Komentar

    GUBERNUR Sumatera Selatan (Sumsel) H. Herman Deru mengaku sangat kehilangan atas pindah tugasnya Irjen. Pol. Prof. Dr. Eko Indra Heri, M. M. terlebih selama yang bersangkutan menjabat Kapolda Sumsel dalam kurun waktu lebih kurang  satu tahun 4 bulan, telah  banyak memberikan sumbangsihnya dalam memajukan pembangunan di Provinsi Sumatera Selatan. “Keberhasilan pak Eko mempertahankan zero konflik […]

expand_less
WordPress Archive The Grid – Responsive WordPress Grid Plugin The Hanger - eCommerce WordPress Theme for WooCommerce The Keynote – Conference / Event / Meeting WordPress Theme The Kleaner – Industrial Cleaning Company WordPress Theme The Landscaper – Lawn & Landscaping WP Theme The Luxury – Dark / Light Responsive WordPress The Moon – Creative One Page Multi-Purpose WordPress Theme The Newspaper – Magazine Editorial WordPress Theme The Next Mag – Ecommerce Magazine WordPress Theme The Next Mag – Ultimate Magazine WordPress Theme