Senin, 7 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Inspirasi » “Emak-Emak Sawit Tak Sekadar Masak & Mengasuh, Kalau Perempuan Muba Melawan, Dunia Perkebunan Bisa Goyang!”

“Emak-Emak Sawit Tak Sekadar Masak & Mengasuh, Kalau Perempuan Muba Melawan, Dunia Perkebunan Bisa Goyang!”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Jumat, 25 Jul 2025
  • visibility 1.203
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BU Misnah, sampean itu kalau demo ke kebun jangan bawa ulekan, Bu. Takutnya nanti yang dipukul bukan ketimpangan gender, tapi kepala mandor!”

“Lah terus tak bawa apa, Mbok Jum?”

“Bawa strategi. Bawa data. Bawa suara perempuan. Sawit bisa hidup karena tangan perempuan juga ikut nyiram.”

Begitulah dialog pagi antara Bu Misnah dan Mbok Jum, dua tokoh imajiner yang konon katanya alumni Sekolah Kehidupan Jalur Perkebunan. Mereka bukan aktivis LSM, bukan pula politisi partai. Tapi dua-duanya mengerti satu hal: perempuan di kebun sawit itu bukan figuran. Mereka pemain inti.

Kalau ada yang bilang sektor perkebunan kelapa sawit adalah dunia lelaki, bisa jadi dia belum pernah ke dapur rumah petani sawit, belum pernah menyaksikan ibu-ibu mengurus anak sambil menimbang tandan buah segar (TBS), atau ikut arisan sambil nyicil cicilan semprot rumput.

Seperti kata Eleanor Roosevelt, “Perempuan itu seperti kantong teh. Kamu baru tahu kekuatannya saat ia dicelupkan ke dalam air panas.”

Forum Publik dan Refleksi Strategis di Muba yang mengusung tema “Bersama Perempuan, Membangun Ketangguhan Komunitas Perkebunan Kelapa Sawit” ini adalah satu langkah maju. Tapi mari jujur, satu forum belum cukup untuk menambal lubang-lubang diskriminasi yang selama ini nyaris tak terlihat. Seperti rumput ilalang yang tumbuh diam-diam, ketidakadilan itu tumbuh di sela-sela sistem.

Bu Sarmi dari Sungai Lilin misalnya, pernah suatu ketika suaminya jatuh sakit dua bulan. Siapa yang ambil alih mengurus lahan sawit? Dia. Siapa yang bangun jam 4 pagi, nyiapin sarapan, lalu semprot gulma, lalu sorenya ngaji sama anak-anak kampung? Dia juga. Tapi di rapat kelompok tani? Namanya tak pernah masuk undangan.

“Perempuan? Ibu rumah tangga saja,” kata pak RT dengan senyum ramah penuh bias patriarki.

Padahal di Kolombia, program “Women in Palm Oil” sudah mulai mengintegrasikan perempuan sebagai pemimpin koperasi sawit. Di Thailand, perempuan memimpin banyak koperasi sawit berkelanjutan dengan dukungan penuh dari pemerintah. Bahkan di Ghana, kelompok “Palm Queens” punya sistem tabungan sosial antar perempuan petani.

Kita di Muba? Masih banyak yang menilai emak-emak hanya pelengkap penderita. Tapi syukurlah, angin perubahan mulai berembus.

Mengintegrasikan perspektif gender dalam kebijakan bukanlah bonus, melainkan keharusan. Ini bukan soal memberi lebih kepada perempuan, tapi tentang mengakui kontribusi yang selama ini dianggap biasa.

Sebagaimana pepatah Bugis bilang, “Perempuan bukan sarung di lipatan laci, ia adalah tiang rumah; kalau ia patah, robohlah segalanya”

Sama halnya dengan komunitas perkebunan. Tanpa keterlibatan perempuan secara strategis, kita cuma setengah kuat. Cuma pakai satu pedal sepeda, jalannya miring dan lambat.

Bupati Muba melalui staf ahlinya sudah menyampaikan komitmen yang jelas. Tapi seperti kata anak muda zaman sekarang “Janji doang, realisasinya mana, Bestie?”

Kita pernah lihat banyak forum, seminar, deklarasi, lengkap dengan dokumentasi. Tapi ketika ibu-ibu mau akses kredit usaha? Nggak tahu ke mana. Ketika mau pelatihan peningkatan kapasitas? Ditanya dulu “Suaminya ikut nggak?”

Kalau semua harus nunggu suami, lalu kapan perempuan bisa berdiri sendiri?

Kata Michelle Obama, “There is no limit to what we, as women, can accomplish.”

Menurut Mbah Dirjo, tetua imajiner yang tinggal di tengah kebun sawit [ha..ha..bingung ya?] “Kalau perempuan sudah turun tangan, bahkan pohon sawit yang bengkok bisa lurus kena semangatnya”

Harus ada aksi nyata, jangan cuma seminar adakan pelatihan gender budgeting di level kelompok tani, bangun koperasi perempuan sawit berbasis profit-sharing. Beri kuota kepemimpinan kelompok tani untuk perempuan.Buat akses pembiayaan ramah ibu-ibu sawit. Sediakan ruang penitipan anak saat pelatihan lapangan.

Karena percuma bicara pemberdayaan kalau perempuan tak bisa hadir karena sibuk momong.

Jangan remehkan tangan ibu-Ibu, karena kalau tangan ibu-ibu bisa bikin sambal yang bikin kepala mandor keringetan, jangan kaget kalau tangan yang sama bisa menanam benih perubahan sosial yang mekar sampai generasi berikutnya.

Forum di Grand Ranggonang itu bisa jadi awal sejarah baru. Tapi jangan berhenti di kursi empuk dan spanduk. Perempuan Muba tak sekadar butuh tepuk tangan, tapi akses, ruang, dan keputusan nyata.

Ingatlah, kalau perempuan diberdayakan, sawit bisa lebih hijau, dapur lebih harum, dan masa depan lebih cerah. Kalau semua kabupaten belajar dari Muba hari ini, bisa jadi besok dunia perkebunan bukan lagi didominasi suara lelaki saja. Akan ada suara perempuan. Tegas, lembut, penuh arah.

Seperti kata Mbok Jum “Kalau sawit bisa tumbuh di lahan marginal, masa semangat perempuan enggak bisa tumbuh di ruang publik?”.[***]

Catatan Redaksi:
Bu Misnah, Mbok Jum, dan Mbah Dirjo memang tidak ada di KTP, tapi keresahan mereka nyata di banyak dapur dan kebun sawit. Fiksi di sini cuma bumbu, isi tulisannya tetap berbicara soal kenyataan.

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dukungan Untuk Para Pelaku UMKM

    Dukungan Untuk Para Pelaku UMKM

    • calendar_month Senin, 22 Jun 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.119
    • 0Komentar

    Di masa pandemi keberlangsungan usaha baik skala besar hingga UMKM perlu mendapat dukungan, mengingat pandemi berdampak sangat luas pada semua sektor kehidupan. Menurut Gubernur Sumsel Herman Deru belajar dari pengalaman krisis ekonomi pada tahun 1998 silam, Ia  yakin dengan menstimulan pelaku UMKM, pertumbuhan ekonomi Sumsel dapat bertahan. ” Tahun 98 ekonomi kita ada di titik […]

  • Ketum PBNU Pusat Said Aqil Beri Tausyiah Hari Santri di Muba

    Ketum PBNU Pusat Said Aqil Beri Tausyiah Hari Santri di Muba

    • calendar_month Kamis, 3 Okt 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 853
    • 0Komentar

    6 RIBU santri,memeriahkan dan meramaikan rangkaian HUT Muba ke-63 serta perayaan Hari Santri Nasional 2019 di Stable Berkuda Sekayu Kabupaten Musi Banyuasin. Kegiatan Pawai Santri dan Tabligh Akbar ini juga akan dihadiri langsung oleh Ketua Umum Pusat PBNU Prof Dr KH Said Aqil Siradj yang dalam momentum ini memberikan Tausyiah kepada Santriwan dan Santriwati di Bumi […]

  • Total Pasien Sembuh Covid di Sumsel Jadi 73 Orang, Positif Tambah 43 Orang

    Total Pasien Sembuh Covid di Sumsel Jadi 73 Orang, Positif Tambah 43 Orang

    • calendar_month Kamis, 14 Mei 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 924
    • 0Komentar

    JURU Bicara Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel)  Yusri, kembali mengumumkan penambahan pasien sembuh dari Corana Virus Disease19 (Covid19) di Provinsi Sumsel. Per tanggal 13 Mei 2020, Ia mengatakan terdapat penambahan sebanyak 3 orang pasien sembuh yang berdomisili di Kota Palembang, sehingga jumlah total pasien sembuh menjadi 73 orang. “Alhamdulillah, […]

  • GBG Rilis Studi Lembaga Keuangan Asia, “Memerangi Peningkatan Penipuan di Dunia Digital”

    GBG Rilis Studi Lembaga Keuangan Asia, “Memerangi Peningkatan Penipuan di Dunia Digital”

    • calendar_month Rabu, 1 Feb 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.003
    • 0Komentar

      Sumselterkini.co.id, SINGAPURA  – GBG (AIM:GBG), spesialis teknologi global dalam manajemen penipuan dan kepatuhan, verifikasi identitas, dan intelijen data lokasi, hari ini merilis Studi Lembaga Keuangan Asia, “Memerangi Peningkatan Penipuan di Dunia Digital” . Menurut studi TABInsights yang ditugaskan oleh GBG, lembaga keuangan (FI) terkemuka di Asia terus ditantang oleh lanskap ancaman yang meluas dalam […]

  • 1 Muharram di Sungai Angit, Masjid di Tengah Desa, Doa di Tengah Jiwa

    1 Muharram di Sungai Angit, Masjid di Tengah Desa, Doa di Tengah Jiwa

    • calendar_month Minggu, 29 Jun 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 678
    • 0Komentar

    SABTU pagi di Desa Sungai Angit itu rasanya seperti semesta sedang menyusun ulang kalender dan perasaan warga sekaligus. Ada drum band menggema, anak-anak melenggangkan tarian daerah, bahkan semilir angin pun seolah ikut mengucap Allahu Akbar pelan-pelan sambil menyibak tenda. Hari itu bukan cuma soal peresmian bangunan, namun tentang perasaan, tentang masjid, tentang At-Tauhid, tentang babak […]

  • Kurangi Risiko Dampak Sosial Berkepanjangan Muba Dukung PTM 100 %

    Kurangi Risiko Dampak Sosial Berkepanjangan Muba Dukung PTM 100 %

    • calendar_month Senin, 10 Jan 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 805
    • 0Komentar

    PEMERINTAH Kabupaten Musi Banyuasin (MUBA) mendorong penerapan proses Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas untuk mengurangi risiko dampak sosial negatif berkepanjangan. Merujuk pada Surat Keputusan Bersama (SKB) Mendikbudristek, Menag, Menkes, dan Mendagri Nomor 05/KB/2021, Nomor 1347 Tahun 2021, Nomor HK.01.08/MENKES/6678/2021, Nomor 443-5847 Tahun 2021 tanggal 21 Desember 2021 tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Coronavirus […]

expand_less
WordPress Archive KeyMaster – Locksmith & Key Maker Service Elementor Template Kit Keymoto – Motorcycle WordPress Theme Keyword Linking for WordPress Kezta – Gutenberg Portfolio WordPress Theme Khara – Ultimate Coming Soon & Maintenance Plugin Khubi – Dermatologist & Skin Care Template Kit Khuli – Construction & Architecture Elementor Template Kit Kiara – Fashion Elementor Template Kit Kiba Bar & Restaurant Elementor Kit Kiddo – Kid Fashion WooCommerce WordPress Theme