Sabtu, 15 Agu 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Inspirasi » “Emak-Emak Sawit Tak Sekadar Masak & Mengasuh, Kalau Perempuan Muba Melawan, Dunia Perkebunan Bisa Goyang!”

“Emak-Emak Sawit Tak Sekadar Masak & Mengasuh, Kalau Perempuan Muba Melawan, Dunia Perkebunan Bisa Goyang!”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Jumat, 25 Jul 2025
  • visibility 1.198
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BU Misnah, sampean itu kalau demo ke kebun jangan bawa ulekan, Bu. Takutnya nanti yang dipukul bukan ketimpangan gender, tapi kepala mandor!”

“Lah terus tak bawa apa, Mbok Jum?”

“Bawa strategi. Bawa data. Bawa suara perempuan. Sawit bisa hidup karena tangan perempuan juga ikut nyiram.”

Begitulah dialog pagi antara Bu Misnah dan Mbok Jum, dua tokoh imajiner yang konon katanya alumni Sekolah Kehidupan Jalur Perkebunan. Mereka bukan aktivis LSM, bukan pula politisi partai. Tapi dua-duanya mengerti satu hal: perempuan di kebun sawit itu bukan figuran. Mereka pemain inti.

Kalau ada yang bilang sektor perkebunan kelapa sawit adalah dunia lelaki, bisa jadi dia belum pernah ke dapur rumah petani sawit, belum pernah menyaksikan ibu-ibu mengurus anak sambil menimbang tandan buah segar (TBS), atau ikut arisan sambil nyicil cicilan semprot rumput.

Seperti kata Eleanor Roosevelt, “Perempuan itu seperti kantong teh. Kamu baru tahu kekuatannya saat ia dicelupkan ke dalam air panas.”

Forum Publik dan Refleksi Strategis di Muba yang mengusung tema “Bersama Perempuan, Membangun Ketangguhan Komunitas Perkebunan Kelapa Sawit” ini adalah satu langkah maju. Tapi mari jujur, satu forum belum cukup untuk menambal lubang-lubang diskriminasi yang selama ini nyaris tak terlihat. Seperti rumput ilalang yang tumbuh diam-diam, ketidakadilan itu tumbuh di sela-sela sistem.

Bu Sarmi dari Sungai Lilin misalnya, pernah suatu ketika suaminya jatuh sakit dua bulan. Siapa yang ambil alih mengurus lahan sawit? Dia. Siapa yang bangun jam 4 pagi, nyiapin sarapan, lalu semprot gulma, lalu sorenya ngaji sama anak-anak kampung? Dia juga. Tapi di rapat kelompok tani? Namanya tak pernah masuk undangan.

“Perempuan? Ibu rumah tangga saja,” kata pak RT dengan senyum ramah penuh bias patriarki.

Padahal di Kolombia, program “Women in Palm Oil” sudah mulai mengintegrasikan perempuan sebagai pemimpin koperasi sawit. Di Thailand, perempuan memimpin banyak koperasi sawit berkelanjutan dengan dukungan penuh dari pemerintah. Bahkan di Ghana, kelompok “Palm Queens” punya sistem tabungan sosial antar perempuan petani.

Kita di Muba? Masih banyak yang menilai emak-emak hanya pelengkap penderita. Tapi syukurlah, angin perubahan mulai berembus.

Mengintegrasikan perspektif gender dalam kebijakan bukanlah bonus, melainkan keharusan. Ini bukan soal memberi lebih kepada perempuan, tapi tentang mengakui kontribusi yang selama ini dianggap biasa.

Sebagaimana pepatah Bugis bilang, “Perempuan bukan sarung di lipatan laci, ia adalah tiang rumah; kalau ia patah, robohlah segalanya”

Sama halnya dengan komunitas perkebunan. Tanpa keterlibatan perempuan secara strategis, kita cuma setengah kuat. Cuma pakai satu pedal sepeda, jalannya miring dan lambat.

Bupati Muba melalui staf ahlinya sudah menyampaikan komitmen yang jelas. Tapi seperti kata anak muda zaman sekarang “Janji doang, realisasinya mana, Bestie?”

Kita pernah lihat banyak forum, seminar, deklarasi, lengkap dengan dokumentasi. Tapi ketika ibu-ibu mau akses kredit usaha? Nggak tahu ke mana. Ketika mau pelatihan peningkatan kapasitas? Ditanya dulu “Suaminya ikut nggak?”

Kalau semua harus nunggu suami, lalu kapan perempuan bisa berdiri sendiri?

Kata Michelle Obama, “There is no limit to what we, as women, can accomplish.”

Menurut Mbah Dirjo, tetua imajiner yang tinggal di tengah kebun sawit [ha..ha..bingung ya?] “Kalau perempuan sudah turun tangan, bahkan pohon sawit yang bengkok bisa lurus kena semangatnya”

Harus ada aksi nyata, jangan cuma seminar adakan pelatihan gender budgeting di level kelompok tani, bangun koperasi perempuan sawit berbasis profit-sharing. Beri kuota kepemimpinan kelompok tani untuk perempuan.Buat akses pembiayaan ramah ibu-ibu sawit. Sediakan ruang penitipan anak saat pelatihan lapangan.

Karena percuma bicara pemberdayaan kalau perempuan tak bisa hadir karena sibuk momong.

Jangan remehkan tangan ibu-Ibu, karena kalau tangan ibu-ibu bisa bikin sambal yang bikin kepala mandor keringetan, jangan kaget kalau tangan yang sama bisa menanam benih perubahan sosial yang mekar sampai generasi berikutnya.

Forum di Grand Ranggonang itu bisa jadi awal sejarah baru. Tapi jangan berhenti di kursi empuk dan spanduk. Perempuan Muba tak sekadar butuh tepuk tangan, tapi akses, ruang, dan keputusan nyata.

Ingatlah, kalau perempuan diberdayakan, sawit bisa lebih hijau, dapur lebih harum, dan masa depan lebih cerah. Kalau semua kabupaten belajar dari Muba hari ini, bisa jadi besok dunia perkebunan bukan lagi didominasi suara lelaki saja. Akan ada suara perempuan. Tegas, lembut, penuh arah.

Seperti kata Mbok Jum “Kalau sawit bisa tumbuh di lahan marginal, masa semangat perempuan enggak bisa tumbuh di ruang publik?”.[***]

Catatan Redaksi:
Bu Misnah, Mbok Jum, dan Mbah Dirjo memang tidak ada di KTP, tapi keresahan mereka nyata di banyak dapur dan kebun sawit. Fiksi di sini cuma bumbu, isi tulisannya tetap berbicara soal kenyataan.

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Buka GPDRR, Ini 4 Konsep Tangani Resiko Bencana yang Ditawarkan  Presiden

    Buka GPDRR, Ini 4 Konsep Tangani Resiko Bencana yang Ditawarkan Presiden

    • calendar_month Rabu, 25 Mei 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 533
    • 0Komentar

    INDONESIA menawarkan empat konsep resiliensi penanganan risiko bencana yang berkelanjutan kepada dunia melalui pertemuan Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) 2022 di Nusa Dua Bali. Konsep itu, sebagai solusi untuk menjawab tantangan risiko sistemik menghadapi semua bentuk bencana termasuk menghadapi pandemi dan sekaligus mendukung implementasi pembangunan berkelanjutan. “Pertama kita harus memperkuat budaya dan kelembagaan […]

  • Menilik Gerakan Cinta Zakat di Sebatik Timur Yang Perlu Dicontoh, Sehari Tembus 70 Juta Rupiah

    Menilik Gerakan Cinta Zakat di Sebatik Timur Yang Perlu Dicontoh, Sehari Tembus 70 Juta Rupiah

    • calendar_month Senin, 3 Mei 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 923
    • 0Komentar

    GERAKAN cinta zakat terus menggeliat di penjuru negeri. Salah satunya yang dilakukan Penyuluh Agama Islam (PAI) Non-PNS Kantor Urusan Agama (KUA) Sebatik Timur, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Melalui program Kampung Sadar Zakat Sebatik Timur, para penyuluh ini terus menggugah kesadaran umat muslim di area perbatasan Indonesia ini untuk berzakat. Berbagai upaya pun dilakukan, salah satunya […]

  • Tanoto Foundation soroti perlunya mengkatalisasi pendanaan untuk atasi tantangan sosial

    Tanoto Foundation soroti perlunya mengkatalisasi pendanaan untuk atasi tantangan sosial

    • calendar_month Sabtu, 1 Jul 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 679
    • 0Komentar

      Sumselterkini.co.id, KUALA LUMPUR, MALAYSIA – Media OutReach – Berbicara pada Konferensi Global Asian Venture Philanthropy Network (AVPN) di Kuala Lumpur, Malaysia, Belinda Tanoto, Anggota Dewan Pengawas Tanoto Foundation, menyoroti kebutuhan untuk mengkatalisasi lebih lanjut berbagai jenis pendanaan untuk mengatasi kebutuhan sosial yang mendesak.   “Di negara-negara berkembang, penting untuk memobilisasi berbagai jenis pendanaan dari […]

  • Si Jago Merah Nyaris Hanguskan 1 Rumah Warga  Pagaralam

    Si Jago Merah Nyaris Hanguskan 1 Rumah Warga Pagaralam

    • calendar_month Senin, 15 Jun 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.273
    • 0Komentar

    SI Jago merah nyaris hanguskan 1 unit rumah milik warga Kota Pagaralam di Jalan Gunung, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Pagaralam Utara nyaris menghanguskan 1 rumah, Senin malam sekitar pukul 20.00 WIB, senin (15/6/2020). Kejadian disebabkan oleh percikan api yang memancar saat korban Andri yang keseharian nya membuka bengkel motor ini memotong besi menggunakan alat potong grinda, […]

  • Dewan Perjalanan Kesehatan Malaysia Mengumumkan Chief Executive Officer Baru

    Dewan Perjalanan Kesehatan Malaysia Mengumumkan Chief Executive Officer Baru

    • calendar_month Rabu, 18 Okt 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 771
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, KUALA LUMPUR, Malaysia, (GLOBE NEWSWIRE) — Malaysia Healthcare Travel Council (MHTC) dengan bangga mengumumkan penunjukan Chief Executive Officer barunya, Dr. Mohamed Ali Abu Bakar, efektif tanggal 16 Oktober 2023. Dr. Ali akan mempelopori semua aspek operasi MHTC, memastikan komitmennya untuk memfasilitasi dan mempromosikan industri perjalanan kesehatan nasional. Dengan pengalaman dan kepemimpinannya yang luas, beliau […]

  • Gunakan Aplikasi SIKD, OPD Muba Bakal Tak Repot Lagi Cari Data

    Gunakan Aplikasi SIKD, OPD Muba Bakal Tak Repot Lagi Cari Data

    • calendar_month Jumat, 23 Agt 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 785
    • 0Komentar

    Dinkominfo Muba telah berkolaborasi dengan DPK Muba dalam menerapkan Aplikasi SIKD ini

expand_less
WordPress Archive KeyMaster – Locksmith & Key Maker Service Elementor Template Kit Keymoto – Motorcycle WordPress Theme Keyword Linking for WordPress Kezta – Gutenberg Portfolio WordPress Theme Khara – Ultimate Coming Soon & Maintenance Plugin Khubi – Dermatologist & Skin Care Template Kit Khuli – Construction & Architecture Elementor Template Kit Kiara – Fashion Elementor Template Kit Kiba Bar & Restaurant Elementor Kit Kiddo – Kid Fashion WooCommerce WordPress Theme