Inspirasi

KURSUS BAHASA : “Proyek Asing Makin Banyak, Apa Kita Udah Siap Ngomong ‘Ni Hao’?”

Foto : Pusri/ilustrasi

PROYEK pembangunan Pusri 3B Palembang, yang nilainya sampai triliunan dan katanya mau rampung dalam tiga tahun, ada satu warung kopi yang mendadak jadi pusat kecerdasan lokal, yakni Warung Kopi Hening, meski jaraknya jauh dari lokasi pembangunan pabrik pupuk urea tertua di Tanah Air itu, isinya jangan ditanya, kayak pasar malam, rame, penuh debat, dan kadang pakai bahasa isyarat.

Pemiliknya, Pak Darno, dulunya hanya dikenal sebagai ahli menyeduh kopi hitam dan perekam gosip proyek. Tapi kini, karena bisa sedikit Mandarin dan Inggris hasil nguping zaman kerja jadi OB di kedutaan, Darno berubah jadi penerjemah tidak resmi proyek. Ia jadi orang yang dipanggil kalau bos dari China kebingungan cari mur atau baut.

“Kalau mereka ngomong cepat kayak MC kuis TVRI zaman dulu, saya tinggal tuang kopi dan bantu terjemahin” katanya sambil goyang kursi plastik.

Cerita Darno viral di grup WA RT-RW, tapi bukan karena dia jago bahasa doang, tapi karena dia mewakili ironi besar di tengah derasnya proyek luar negeri dan masuknya TKA di Indonesia, terutama Tiongkok, banyak warga lokal cuma bisa bilang “yes bos” dan sisanya pakai bahasa mata dan tangan.

Proyek Pusri 3B di Palembang, hanyalah satu contoh, di seluruh Indonesia, proyek-proyek luar negeri bermunculan bak jamur di musim hujan global.

Dari Kalimantan ke Morowali, dari Batang ke Bali,  TKA asing berdatangan membawa skill, alat berat, dan tentu saja bahasa mereka masing-masing dan buruh TKA.

Sementara kita?, masih sibuk nyari subtitle YouTube buat ngerti omongan bule atau mata sipit itu.

Tengok Singapura, di sana, anak kecil di taman bisa ngomong Inggris kayak presenter BBC. Bahasa Inggris jadi bahasa sehari-hari. Mau sekolah, ke pasar, sampai marah sama kucing pun pakai Inggris.

Malaysia?, anak-anaknya dari SD udah diajarin dwi bahasa. Bahasa Melayu dan Inggris jalan bareng. Lulus SMA, mereka bisa lanjut kuliah ke Australia, UK, atau kerja di perusahaan global, bahkan banyak program kampus Malaysia memakai full-English system.

Begitupula dengan Filipina, waduh, jangan tanya lagi, call center dunia udah kayak diambil alih mereka. Gaya ngomongnya kadang lebih bule dari bule beneran. Sementara di sini, anak kita masih susah bedain antara “Can I go to toilet?” dan “Can I go to Tol Ilir Barat?”.

Jadi kalau tetangga sudah jauh melangkah, masa kita masih bingung milih antara daftar kursus atau beli kuota ML?

Kini makin banyak orang tua khususnya emak-emak cerdas nan militan yang sadar bahwa dari bahasa asing bisa jadi cuan. Oleh sebab itu, anak-anak harus dikenalkan bahasa asing sejak dini!

Lidah anak ibarat spons makin muda, makin mudah menyerap. Itulah kenapa tempat kursus bahasa asing sekarang menjamur dari mal sampai musholla, ada tempat kursus bahasa asing, sebut saja LPK & BLK ajarkan bahasa Inggris, Mandarin, Korea, Jepang untuk remaja dan dewasa.

Kursus anak dini, misalnya Playgroup bilingual, TK yang ngajarin “hello” dan “ni hao”. sambil nyanyi, sampai kelas “Baby English” bareng boneka beruang bahkan ada TK yang ngajarin counting 1-10 pakai gaya ala Dora the Explorer.

Nah, ada juga yang menarik menawarkan kelas online untuk komunitas RT, yang emak-emaknya bikin grup belajar, anak belajar sambil makan pisang goreng, gurunya kadang mahasiswa sastra, kadang suara Google Translate.

Anak-anak sekarang bukan cuma bisa nyanyi “Baby Shark”, tapi juga bisa bilang “shark itu hiu, dan hiu bisa makan peluang kalau kamu nggak belajar bahasa”.

Memang kita harus sadar, bahasa asing itu memang penting untuk anak-anak kita, dan kita harus bisa mengubah mindset, buka masa depan yang lebih ceria. Untuk emak-emak hebat “nggak usah malu belajar bareng anak. Emak bisa “good morning”, anak bisa “bonjour”, bapaknya cukup bisa “bayar kursus tiap tanggal muda”, bapak apes coy…he..he!.

Karena jangan tunggu anak gede baru disekolahkan bahasa, bahasa itu bukan kursus musiman. Itu bekal hidup jangka panjang, anak yang bisa dua bahasa, punya dua jalan rezeki, mikirnya harus gitu…

Untuk Kaum Milenial dan Gen Z “, kalau kamu bisa translate lirik lagu Korea buat caption IG, masa gak bisa translate CV ke bahasa Inggris?”

Bahasa asing itu bukan gaya-gayaan. Itu alat untuk melamar kerja di perusahaan global, nerjemahin kontrak kerja sama proyek, jadi jembatan komunikasi di dunia digital,bahkan bikin startup lintas negara!

Nah, kita ngomong ngalur ngidul itu harus punya kesimpulan, intinya, bahasa asing  adalah tiket ke mana saja yang bisa bawa kita terbang tinggi.

Darno hanya contoh kecil dari ribuan kemungkinan besar.
Proyek asing akan terus datang. TKA akan terus berdatangan.
Tapi bukan itu yang harus ditakuti.

Yang harus ditakuti adalah kalau kita terus diam, dan anak-anak kita cuma jadi penonton.

Dan mulailah dari hal sederhana, daftarkan anak ke kursus bahasa, belajar bareng di rumah, gunakan teknologi untuk jadi jendela dunia. Kata pepatah Pak Darno, he..he, “Bahasa asing bukan jimat, tapi tiket. Bukan buat gaya, tapi buat jalan”, seperti yang ditunjukkan Singapura, Malaysia, dan Filipina “Siapa yang lidahnya lentur, hidupnya cenderung makmur”.

Menurut catatan redaksi, tulisan ini merupakan seruan humoris namun serius untuk masyarakat Indonesia agar berani mengubah cara pandang terhadap pentingnya pendidikan bahasa asing.
Di tengah derasnya investasi asing dan proyek-proyek global, kemampuan berbahasa asing menjadi senjata utama generasi muda. Itu peluang lho kalau kita ambil positifnya.

Kursus bahasa asing, terutama sejak dini, adalah bentuk nyata dari kesiapan menghadapi masa depan.
Bukan sekadar tren, tapi kebutuhan zaman.

Mari belajar dari negara tetangga, jika anak-anak Singapura, Malaysia, dan Filipina bisa menjadikan bahasa asing sebagai alat komunikasi harian, maka anak-anak Indonesia pun bisa, asal ada kemauan, dukungan, dan arah yang jelas.

Jangan biarkan anak kita tumbuh jadi asing di negerinya sendiri. Mari cetak generasi penerjemah masa depan. Yang bukan hanya pintar berkata-kata, tapi juga pintar membuka dunia.[***]

Catatan :

Tokoh Darno dalam tulisan ini adalah fiktif, namun proyek Pusri 3B di Palembang adalah nyata sebuah simbol dari banyaknya proyek global yang kini tersebar di berbagai daerah Indonesia. Kehadiran tenaga kerja asing (TKA), khususnya dari Tiongkok, bukanlah hal yang sepenuhnya harus ditolak atau ditakuti. Justru inilah saatnya kita sebagai bangsa melihat ke dalam apakah kita sudah cukup siap menjadi tuan rumah di era global?

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk memicu prasangka terhadap TKA, melainkan untuk menyoroti pentingnya kesiapan SDM lokal, terutama dalam hal penguasaan bahasa asing sebagai bekal bersaing dan berkontribusi di tengah arus investasi internasional.

Terpopuler

To Top