SETIAP pagi, sebelum berangkat kerja, sebenarnya kita semua mirip karakter kartun, berdiri di depan kaca, nengok kanan-kiri, cek badan sendiri. Kepala masih nempel? Oke. Tangan kanan-kiri masih utuh? Aman. Kaki dua masih bisa buat jalan? Sip. Kalau semua lengkap, barulah berangkat kerja sambil senyum optimis, seolah berkata pada diri sendiri, “Hari ini kita pulang versi utuh, ya.”
Di Musi Banyuasin, keinginan pulang versi utuh itu sekarang punya kostum resmi, seragam merah imajiner, dan nama gagah seperti Superman, Spiderman, atau pun “Gundala” tokoh kartun yang jadi pahlawan, kalo di Muba itu dinamakan Muba Zero Work Accidents. Superhero ini dipanggil langsung Bupati HM. Toha Tohet, lengkap dengan jurus andalan bernama Keselamatan dan Kesehatan Kerja alias K3, bertepatan dengan Bulan K3 Nasional 12 Januari sampai 12 Februari 2026 sesuai Kepmenaker Nomor 4 Tahun 2026.
Kalau K3 adalah tokoh kartun, dia bukan yang cool dan pendiam. Dia tipe yang loncat-loncat sambil teriak, “Pakai helm! Pakai sepatu! Ikuti prosedur ya…!” dengan wajah setengah galak untuk siapa yang bengal. Bahkan suaranya mungkin terdengar rame, tapi justru itulah yang bikin cerita aman sampai tamat. Tokoh yang diam-diam biasanya bikin plot twist, tetapi K3 tidak, K3 ribut dari awal supaya ending-nya bahagia.
Di tempat kerja, K3 itu seperti sabuk pengaman super elastis, dipakai, badan terasa sedikit kaku. Tapi tanpa sabuk itu, adegan bisa langsung berubah dari komedi ke horor. Helm, rompi, sepatu, sarung tangan semuanya bukan kostum cosplay tukang proyek, tapi perlengkapan bak tokoh super kelas pekerja agar tidak ada adegan “Aduh!” yang tidak direncanakan.
Bulan K3 Nasional ibarat episode spesial satu bulan penuh, bukan episode sedih, tapi episode penguatan karakter. Semua tokoh di cerita kerja, pimpinan, pekerja, pengawas naik level. Skill utama yang ditingkatkan bukan jurus cepat, tapi jurus aman. Karena di dunia kerja, kecepatan tanpa keselamatan itu seperti lari di kartun sambil nutup mata, seru sebentar, lalu bruuuk.
Di Musi Banyuasin, K3 diposisikan sebagai sutradara, dia yang mengatur adegan agar tidak ada yang jatuh dari panggung, tidak ada properti yang nyasar, dan tidak ada aktor yang cedera. Pemerintah memberi naskah, perusahaan menyiapkan panggung, pekerja memainkan peran dengan penuh kesadaran. Hasilnya? Cerita kerja berjalan rapi tanpa adegan darurat.
Zero Work Accidents bukan target yang bikin jantung deg-degan. Justru bikin tenang seperti nonton kartun favorit yang ending-nya selalu bahagia. Semua karakter pulang ke rumah masing-masing, makan malam dengan damai, tidur nyenyak, lalu besok muncul lagi di episode berikutnya dengan kondisi lengkap.
K3 juga punya efek samping yang lucu tapi nyata. Dengan K3, kerjaan berat terasa lebih ringan. Bukan karena bebannya hilang, tapi karena pikiran tidak sibuk membayangkan hal-hal aneh. Fokus lurus ke pekerjaan, tanpa suara latar awas, awas di kepala.
Pulang kerja pun berubah jadi adegan penutup yang menyenangkan. Pintu rumah dibuka, badan masih utuh, energi masih ada. Tidak ada cerita darurat, tidak ada dialog mendadak yang bikin semua orang terdiam. Hanya cerita ringan tentang hari yang berjalan normal dan justru itu yang paling mahal.
Oleh sebab itu, Muba Zero Work Accidents adalah cerita kartun yang ingin diwujudkan di dunia nyata. Cerita di mana K3 menjadi tokoh utama, keselamatan jadi alur cerita, dan pulang dengan nyaman jadi ending wajib. Tidak perlu adegan dramatis untuk disebut sukses. Cukup satu hal yaitu semua orang selamat.
Jadi, sebagai pesan penutup bekerjalah dengan aman, jalani K3 dengan kesadaran, dan pulanglah dengan kondisi lengkap, karena di Musi Banyuasin, kerja aman itu bukan gaya lebay, tapi kebiasaan cerdas, bahkan pulang juga bisa nyaman bukan keajaiban, tapi hasil dari K3 yang dijalankan sepenuh hati. (***)