MoLiNas Resmi Diluncurkan, Industri Motor Listrik Indonesia Punya Modal Besar
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 15 menit yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kemenperin.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTRKINI.CO.ID – Motor Listrik Nasional (MoLiNas) resmi diluncurkan Presiden Prabowo Subianto di fasilitas produksi ALVA, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (13/8/2026).
Peluncuran ini menjadi bagian dari upaya pemerintah mendorong Indonesia tidak sekadar menjadi pasar kendaraan listrik, tetapi juga mampu memproduksi sekaligus mengembangkan teknologinya sendiri.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan pengembangan MoLiNas harus dibarengi dengan penguatan industri komponen, peningkatan kandungan lokal, hingga riset dan pengembangan.
Menurut dia, Indonesia sudah memiliki modal manufaktur yang cukup besar. Saat ini terdapat 69 perusahaan yang memproduksi kendaraan listrik roda dua dan tiga dengan kapasitas mencapai 2,511 juta unit per tahun.
Di sektor roda empat, terdapat 14 perusahaan dengan kapasitas produksi 409.860 unit per tahun. Sementara kendaraan komersial listrik ditopang 10 perusahaan dengan kapasitas 7.500 unit per tahun.
Total investasi industri perakitan kendaraan listrik nasional kini mencapai sekitar Rp30,468 triliun.
“Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar kendaraan listrik, tetapi harus menjadi basis produksi dan pengembangan teknologi kendaraan listrik yang memiliki daya saing global,” kata Agus.
Populasi Kendaraan Listrik Meningkat
Besarnya kapasitas industri tersebut sejalan dengan pertumbuhan penggunaan kendaraan listrik di Indonesia.
Data Kementerian Perindustrian menunjukkan populasi kendaraan listrik telah mencapai 468.231 unit hingga sekitar April 2026. Sebanyak 242.909 unit di antaranya merupakan kendaraan listrik roda dua, sedangkan kendaraan listrik roda empat penumpang mencapai 223.100 unit.
Pertumbuhan kendaraan listrik juga terbilang sangat cepat. Sepanjang 2020-2025, populasi KBLBB mencatat CAGR lebih dari 150 persen.
Untuk sepeda motor listrik, penjualan yang sempat mencapai 77.078 unit pada 2024 turun menjadi 55.059 unit pada 2025. Pemerintah menilai kondisi tersebut menunjukkan pentingnya menjaga kesinambungan pasar.
Pengalaman program bantuan pembelian kendaraan listrik roda dua menjadi salah satu buktinya. Penyaluran bantuan melonjak dari 11.532 unit pada 2023 menjadi 62.541 unit pada 2024. Secara keseluruhan, 74.073 unit telah mendapatkan bantuan.
TKDN Jadi Tantangan Berikutnya
Setelah pasar mulai terbentuk, pemerintah kini menghadapi tantangan lain, yakni memastikan pertumbuhan kendaraan listrik ikut menggerakkan industri dalam negeri.
Per 22 Juli 2026, terdapat 48 perusahaan dengan 213 produk KBLBB yang telah mengantongi sertifikat TKDN. Khusus kendaraan listrik roda dua dan tiga, sebanyak 31 perusahaan dengan 98 produk telah tersertifikasi.
TKDN kendaraan listrik roda dua dan tiga saat ini berada di rentang 27 persen hingga 74,27 persen, dengan rata-rata 47,5 persen. Untuk kendaraan listrik roda empat, capaian tertingginya sudah mencapai 80,01 persen.
Pemerintah menargetkan TKDN minimum KBLBB sebesar 40 persen pada 2026. Angka tersebut akan naik menjadi 60 persen pada 2027-2029 dan minimal 80 persen mulai 2030.
Agus mengatakan peningkatan TKDN penting agar pertumbuhan kendaraan listrik tidak hanya meningkatkan jumlah kendaraan yang beredar, tetapi juga memperbesar nilai tambah yang tinggal di Indonesia.
“Semakin banyak kendaraan listrik digunakan masyarakat, semakin besar pula komponen yang diproduksi di Indonesia, investasi yang masuk, teknologi yang kita kuasai, serta aktivitas industri yang tumbuh di dalam negeri,” ujarnya.
Dalam peluncuran MoLiNas, Presiden Prabowo turut meninjau proses produksi motor listrik dan ekosistem kendaraan listrik di fasilitas ALVA.
Prabowo juga mengapresiasi keterlibatan perusahaan swasta, BUMN, pelaku usaha dan akademisi dalam pengembangan kendaraan listrik nasional.
Menurut Agus, kolaborasi tersebut menjadi bagian penting untuk membangun industri kendaraan listrik yang lebih mandiri sekaligus memperkuat penguasaan teknologi nasional. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
