Kamis, 20 Agu 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Industri Kreatif & UKM » Baca Dong ! “Kolaborasi Ekraf-Koperasi, Cinta Dua Dunia, Mirip Sinetron Tapi Lebih Berfaedah”

Baca Dong ! “Kolaborasi Ekraf-Koperasi, Cinta Dua Dunia, Mirip Sinetron Tapi Lebih Berfaedah”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Kamis, 17 Apr 2025
  • visibility 821
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sumselterkini.co.id, – Ada kalanya dua insan harus bersatu demi masa depan cerah. Bukan Rangga dan Cinta, tapi Koperasi dan Ekonomi Kreatif (Ekraf). Keduanya selama ini sering saling lirik, saling like story, tapi belum juga go public. Untunglah, sekarang mereka tampak siap menjalin hubungan lebih serius. bahkan sudah sampai ngobrolin rumah tangga bareng di kantor Kemenkop tanggal 16 April lalu.

Hadir pula dua ‘mak comblang’ utama Menteri Ekraf Teuku Riefky dan Menkop Budi Arie. Klopnya luar biasa. Ini bukan sekadar kolaborasi, ini sudah kayak tunangan. he..he..he!.

Bayangkan saja, di tengah tantangan ekonomi yang makin gesit macam pelari maraton pakai sepatu roda, Kemenekraf dan Kemenkop justru memilih duduk bareng dan mikirin masa depan bersama. Mereka ngomongin 8 pilar ASTA EKRAF yang kedengarannya kayak nama jurus pamungkas anime tapi isinya serius banget  dari penguatan kekayaan intelektual sampai penguatan kebijakan berbasis data. Lengkap, dari akar sampai daun.

Tapi bukan cuma itu. Mereka juga bahas soal koperasi subsektor ekraf, pendanaan LPDB, pelatihan digital marketing, sampai koperasi perfilman. Nah, ini dia koperasi perfilman. Kita belum tahu apakah nanti akan ada “Koperasi Sinetron Cinta Satu Emak” atau “Koperasi Produksi Film Indie dan Indomie”, tapi idenya cemerlang. Sebab perfilman itu padat karya dan padat tenaga. Kalau ada koperasi sebagai aggregator dana dan SDM, bisa jadi solusi buat para kreator yang selama ini kerja ngandelin semangat dan mie rebus.

Koperasi ini ibarat mangkok besar, tempat segala bahan bisa diracik jadi sajian istimewa. Sementara ekraf adalah isiannya ada fesyen, kriya, film, musik, kuliner, sampai konten kreator TikTok yang punya lighting lebih mahal dari kulkas. Nah, mangkok tanpa isi ya kosong. Tapi isi tanpa mangkok? Ya tumpah dong. Maka dari itu, hubungan ini penting, strategis, dan bisa jadi lokomotif pertumbuhan.

Biar koperasi dan ekraf nggak cuma saling kirim meme dan janji manis, tapi benar-benar menciptakan lapangan kerja seperti target Bappenas  27 juta lapangan kerja ekraf. Ini bukan main-main. Negara-negara maju sudah membuktikan kalau ekonomi kreatif yang kuat bisa jadi mesin pertumbuhan yang bertenaga kuda turbo.

Coba tengok Korea Selatan. Industri musik dan dramanya (K-pop dan K-drama) disokong oleh koperasi, asosiasi, dan sistem distribusi yang rapi. Mereka ngerti, satu lagu bisa jadi lapangan kerja buat puluhan orang dari produser, penari, sampai penjaga kamera.

Negeri para oppa ini bukan cuma jago bikin drama dan K-pop. Di balik bling-bling BTS dan BLACKPINK, ada sistem koperasi dan asosiasi yang rapi banget. Misalnya, koperasi konten digital yang bantu pendanaan produksi film, animasi, bahkan game. Pemerintahnya pun nggak pelit mereka kasih dana, pelatihan, sampai akses global lewat pameran budaya Korea.

Hasilnya? Satu boyband bisa jadi mesin ekspor nasional. Cuan masuk, lapangan kerja terbuka, ekonomi kreatif jalan terus. Koperasi di sana jadi tulang punggung, bukan cuma figuran.

Terus selanjutnya negara ini punya koperasi kreatif yang fokus di bidang desain, arsitektur, dan teknologi digital. Mereka mengelola coworking space, studio kolaboratif, bahkan menjual produk kreatif ke pasar global lewat platform koperasi. Yang menarik, sistem koperasi mereka mengutamakan demokrasi partisipatif, jadi bukan cuma bos yang kaya, tapi semua anggota koperasi ikut senang. Mirip gotong-royong versi digital.

Di Kanada, koperasi seni dan budaya berkembang pesat. Dari koperasi teater sampai koperasi pembuat film dokumenter, semua berjalan berkat dukungan sistem pembiayaan khusus dan regulasi yang ramah terhadap organisasi kolektif.

Mereka punya semacam LPDB versi maple syrup lembaga pendanaan khusus buat koperasi kreatif, dengan bunga rendah dan pendampingan legal gratis. Ini bikin seniman bisa fokus berkarya tanpa harus ngutang ke rentenir atau jadi korban paylater.

Indonesia punya bahan bakar melimpah  kreator muda, komunitas keren, budaya beragam, dan semangat digital yang nggak kalah. Tapi semua itu bisa jadi bubur kalau nggak dikawal dengan sistem yang kuat. Koperasi lah jalannya bukan koperasi jadul tempat simpan panci, tapi koperasi modern yang paham pasar, teknologi, dan kolaborasi.

Menteri Teuku Riefky udah bawa napas segar dengan ASTA EKRAF. Menkop Budi Arie juga udah siap jadi pengantin pria koperasi yang siap berumah tangga. Jangan sampai ini cuma jadi kawin kontrak program. Harus beranak pinak dalam bentuk lapangan kerja, brand kreatif lokal mendunia, dan desa-desa kreatif tumbuh subur.

Ekraf dan koperasi ibarat nasi goreng dan telur ceplok. Sendiri-sendiri enak, tapi kalau disatukan? Surga. Tapi ingat jangan cuma ditumis sebentar. Masak sampai matang, biar siap disajikan ke rakyat.

Kalau Korea bisa ekspor boyband lewat koperasi, masa kita nggak bisa ekspor kreator lokal lewat koperasi juga? Yuk, jangan cuma nonton. Ayo bantu ngadain resepsi besar-besaran buat pasangan Koperasi x Ekraf. Dan jangan lupa, bawa kado regulasi yang ramah dan pendanaan yang bermanfaat.

Kalau Indonesia ingin ke arah sana, ya jalan kolaborasi seperti ini kudu dirawat. Jangan sampai koperasi cuma jadi tempat simpan beras, dan ekraf cuma dianggap kerjaan anak muda yang “kerjanya ngedit video doang”.

Padahal dua-duanya punya potensi besar, bahkan bisa ngalahin sektor formal kalau digarap serius. Saatnya koperasi dan ekraf benar-benar disatukan dalam sebuah ekosistem cinta ekonomi rakyat. Jangan cuma jadi teman tapi mesra yang cuma muncul pas ada event dan foto bareng. Kalau bisa kawin, ya kawin. Kalau bisa jadi kekuatan ekonomi baru, kenapa harus malu?

Dukung koperasi jadi rumah besar ekraf. Biar pelaku kreatif nggak terus-terusan nyari modal ke rentenir digital dan pinjol bertopeng startup. Jadikan koperasi sebagai pelindung, pengayom, dan promotor. Biar industri kreatif kita bukan cuma hidup, tapi juga punya masa depan cerah secerah filter IG di jam 5 sore. Jangan sampai generasi kreatif kita cuma jago bikin konten tapi gak bisa bikin invoice. Ayo, kita kawinkan koperasi dan ekraf. Siapkan undangan, sewa tenda, dan pastikan nasi kotaknya cukup!.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • kurs-rupiah

    Pagi Ini, Rupiah Bertenaga Lepas dari Bayangan Dolar AS

    • calendar_month Rabu, 4 Okt 2017
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.167
    • 0Komentar

    Nilai tukar Rupiah langsung mempunyai tenaga untuk melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini, Rabu (4/10/2017). Tercatat, Rupiah menguat di level Rp13.400-an per USD dan menjauhi level Rp13.580-an per USD.

  • Penonton MotoGP, Akan Tempati Homestay

    Penonton MotoGP, Akan Tempati Homestay

    • calendar_month Kamis, 13 Jan 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 774
    • 0Komentar

    PRESIDEN Joko Widodo meninjau Homestay atau penginapan yang berada di Desa Gerupuk, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Kamis (13/1/2022). Penginapan ini nantinya diperuntukkan bagi penonton gelaran Akbar MotoGP Mandalika 2022 yang akan diselenggarakan pada 18-20 Maret 2022. Ada sekitar 300 penginapan yang akan menjadi tempat menginap para penonton gelaran Akbar di atas. “Saya […]

  • “Ngopi Bukan Sekadar Gaya, Tapi Cara Ekonomi Rakyat Bertahan di Palembang”

    “Ngopi Bukan Sekadar Gaya, Tapi Cara Ekonomi Rakyat Bertahan di Palembang”

    • calendar_month Senin, 6 Okt 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.550
    • 0Komentar

    DI SAAT banyak bisnis megap-megap karena harga bahan pokok naik, cuaca nggak jelas, dan tagihan listrik bikin jantung jedag-jedug, ada satu aroma yang tetap bikin orang betah, ialah aroma kopi.Ya, kopi itu, si biji ajaib yang bisa bikin orang dari yang galau jadi produktif, dari yang ngantuk jadi ceramahin dunia. Dan, ajaibnya lagi, justru di […]

  • Peduli Wartawan “Covid-19”,  Gubernur Bagi-Bagi Masker & Hand Sanitizer

    Peduli Wartawan “Covid-19”,  Gubernur Bagi-Bagi Masker & Hand Sanitizer

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 816
    • 0Komentar

    Di tengah-tengah pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID 19) Gubernur Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) H. Herman Deru terus berupaya agar seluruh masyarakatnya tetap terjaga dan terlindungi.   PERHATIAN itu juga tak luput diberikannya pada awak media yang menurutnya menjadi garda terdepan dalam penyebar luasan informasi mengenai penyebaran dan penanganan  covid-19 khususnya di Provinsi Sumsel. Karena […]

  • Ikuti Diksar di Gunung Dempo, Mahasiswa Universitas PGRI Sesak Nafas, Lalu…

    Ikuti Diksar di Gunung Dempo, Mahasiswa Universitas PGRI Sesak Nafas, Lalu…

    • calendar_month Minggu, 7 Feb 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.364
    • 0Komentar

    SEORANG mahasiswa Universitas PGRI Palembang meninggal dunia saat menjalani Pendidikan Dasar [Diksar] bersama denga 29 rekannya, mereka berencana menjalankan pelatihan tersebut di Gunung Dempo Kota Pagaralam, Sumsel. Korban meninggal tersebut, diketahui bernama Muhamad Wiyoto (23) merupakan mahasiswa semester 1 Universitas PGRI Palembang, Warga Musi Banyuasin [Muba], Dusun 4, Desa Berlian Makmur, Kecamatan Sungai Lilin RT […]

  • Pengelolaan Kearsipan  Provinsi Sumsel  Terbaik  Ke-2  Se- Sumatera, Apa Saja Yang Dinilai

    Pengelolaan Kearsipan  Provinsi Sumsel  Terbaik  Ke-2  Se- Sumatera, Apa Saja Yang Dinilai

    • calendar_month Rabu, 5 Mei 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 3.370
    • 0Komentar

    DINAS Kearsipan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) berhasil mengukuhkan diri masuk dalam 10 besar atau peringkat ke-9  dari 34 Provinsi di Indonesia sebagai  Pengelolaan Kearsipan dengan kategori Sangat Baik . Atas prestasi tersebut Dinas Kearsipan Sumsel juga menempati peringkat terbaik ke-2 untuk Wilayah Sumatera. Gubernur Sumsel H. Herman Deru melalui  Kepala Dinas Kearsipan Provinsi Sumasel, Drs […]

expand_less
WordPress Archive Childit – Kindergarten Elementor WordPress Theme Children Charity – Nonprofit & NGO WordPress Theme Chinchilla – Pet WordPress Theme ChiroHeal – Chiropractor & Physiotherapy Wellness WordPress Theme Chirokind – Chiropractor And Physical Therapy WordPress Theme Chiropracto – Physical Therapy WordPress Theme Chit Club | Board Games Club & Anticafe WordPress Theme Chloé – Personal Lifestyle WordPress Blog Theme Chloro – Skincare & Dermatology Elementor Template Kit Choicy - Digital Marketing Agency WordPress Theme