Pendanaan Startup Indonesia Turun, Ini Langkah Kemenperin
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 33 menit yang lalu
- visibility 2
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kemenperin.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Pendanaan startup Indonesia menurun sepanjang 2025 menjadi perhatian pemerintah. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melihat tantangan utama startup nasional saat ini bukan hanya soal ketersediaan modal, tetapi bagaimana membangun bisnis yang kuat, memiliki solusi nyata, dan mampu menarik kepercayaan investor.
Berdasarkan Indonesia Startup Report 2026, nilai pendanaan startup Indonesia pada 2025 tercatat sekitar USD355 juta, mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Kondisi ini menunjukkan perlunya peningkatan kualitas startup, agar tidak hanya tumbuh dari sisi jumlah, tetapi juga mampu bertahan dan berkembang dalam persaingan global.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, Indonesia sebenarnya memiliki modal besar untuk menjadi pusat pertumbuhan startup di kawasan. Saat ini, Indonesia tercatat memiliki lebih dari 3.100 startup aktif dan menjadi negara dengan jumlah startup terbanyak di Asia Tenggara.
Namun, besarnya jumlah startup perlu diimbangi dengan penguatan kualitas ekosistem.
Agus menilai tantangan yang harus dijawab adalah bagaimana startup nasional mampu membangun model bisnis yang jelas, memperoleh pembiayaan, serta masuk ke dalam rantai pasok industri nasional maupun global.
“Indonesia tidak hanya membutuhkan semakin banyak startup, tetapi startup yang mampu menyelesaikan persoalan nyata di sektor industri,” ujar Agus saat peluncuran Indo Startup Expo and Forum 2026 di Jakarta, Kamis (6/8).
Menurut dia, startup memiliki peran strategis dalam mendukung transformasi digital industri manufaktur.
Kehadiran startup teknologi, harapnya dapat menghadirkan berbagai solusi untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, hingga daya saing industri nasional.
Guna mendukung perkembangan startup industri, Kemenperin melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) menjalankan Program Startup For Industry sejak 2018. Program tersebut hingga kini telah membangun ekosistem dengan 2.577 startup binaan.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.740 startup atau sekitar 67,5 persen bergerak di bidang teknologi. Sebanyak 640 startup lainnya mengembangkan teknologi yang berkaitan dengan hardware adjacent, seperti Internet of Things (IoT), robotik, kecerdasan buatan (AI), dan 3D printing.
Di tengah tantangan pendanaan, pemerintah melihat peluang pasar teknologi dalam negeri masih sangat besar.
Salah satunya berasal dari sektor industri kecil dan menengah (IKM) yang jumlahnya mencapai sekitar 4,43 juta unit dan berpotensi menjadi pengguna berbagai solusi digital dari startup.
Kemenperin menilai kolaborasi antara startup dan industri menjadi kunci agar inovasi teknologi tidak berhenti pada tahap pengembangan, tetapi dapat diterapkan untuk menyelesaikan kebutuhan nyata di lapangan.
“Modal global tidak sedang langka. Yang dibutuhkan adalah startup yang mampu menunjukkan model bisnis yang kuat, memiliki solusi yang dibutuhkan industri, serta memberikan prospek pertumbuhan yang jelas,” kata Agus.
Untuk memperluas akses kolaborasi dan investasi, Kemenperin akan menggelar Indo Startup Expo and Forum 2026 pada 5–7 November 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang.
Ajang tersebut akan mempertemukan startup, investor, pelaku industri, regulator, serta komunitas teknologi melalui berbagai kegiatan seperti forum investasi, business matching, demo day, dan agenda kolaborasi lainnya.
Selain memperkuat ekosistem dalam negeri, Kemenperin juga menjalin kerja sama dengan Infineon Technologies Asia Pacific untuk mendukung pengembangan startup berbasis teknologi sekaligus memperkuat ekosistem semikonduktor nasional.
Melalui berbagai langkah tersebut, pemerintah berharap startup Indonesia tidak hanya menjadi pasar teknologi, tetapi mampu melahirkan inovasi yang memperkuat industri nasional dan meningkatkan daya saing di tingkat global. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
