SETIAP Natal dan Tahun Baru, inflasi selalu muncul sebagai cerita lama yang terulang, lonjakan harga pangan dan transportasi kembali terjadi, seiring meningkatnya aktivitas dan mobilitas masyarakat.
Pola ini bukan hal baru, justru karena berulang, seharusnya bisa lebih diantisipasi lantaran kerap bikin suasana jadi ribut. Malah seandainya saja si inflasi bisa ngomong, dia akan bilang “Saya memang sering muncul, tapi kalau Natal dan Tahun Baru, saya biasanya datang lebih berisik lagi.”
Data Badan Pusat Statistik mencatat, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Desember 2025 mencapai 0,64 persen secara bulanan (mtm). Angka ini lebih tinggi dibandingkan November 2025 yang sebesar 0,17 persen. Secara tahunan, inflasi 2025 tercatat 2,92 persen (yoy), masih berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia.
Di atas kertas, inflasi terlihat terkendali, namun di lapangan, ceritanya tidak sesederhana itu.
Apalagi, Natal dan Tahun Baru itu bukan peristiwa mendadak, tanggalnya jelas, aktivitasnya bisa ditebak, sehingga ketika inflasi kembali naik di Desember, sulit menyebutnya sebagai kejutan.
Kenaikan inflasi Desember 2025 terutama didorong oleh kelompok volatile food yang melonjak 2,74 persen (mtm). Cabai rawit, daging ayam ras, dan bawang merah kembali jadi langganan penyumbang inflasi. Penyebabnya pun klasik, gangguan cuaca, biaya produksi, dan lonjakan permintaan saat Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru.
Bukan cerita baru, dan ini cerita yang diulang, inflasi pangan bukan sekadar angka statistik, inflasi langsung terasa di dapur rumah tangga. Kenaikan harga yang datang serempak membuat ruang kompromi makin sempit, terutama bagi masyarakat berpendapatan tetap.
Secara tahunan, inflasi volatile food pada 2025 tercatat 6,21 persen (yoy). Angka ini memang masih disebut “terkendali” dalam kerangka kebijakan, tetapi bagi konsumen, setiap lonjakan musiman tetap terasa tajam.
Inflasi mungkin bersifat sementara, tapi efeknya nyata, terutama saat kebutuhan justru sedang tinggi.
Selain pangan, administered prices juga ikut menyumbang inflasi Desember. Kelompok ini mencatat inflasi 0,37 persen (mtm), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya.
Kenaikan harga bensin nonsubsidi, tarif angkutan udara, dan angkutan antarkota menjadi faktor pendorong. Mobilitas masyarakat yang meningkat saat liburan membuat penyesuaian harga nyaris tak terhindarkan.
Secara tahunan, inflasi administered prices tercatat 1,93 persen (yoy). Tidak tinggi, tapi cukup untuk menambah beban biaya perjalanan masyarakat yang ingin merayakan akhir tahun.
Dilaman resmi Bank Indonesia mencatat inflasi inti Desember 2025 sebesar 0,20 persen (mtm) dan 2,38 persen (yoy). Angka ini menunjukkan stabilitas permintaan domestik dan terjaganya ekspektasi inflasi.
Namun, dalam konteks Natal dan Tahun Baru, inflasi inti jarang jadi perhatian utama masyarakat. Yang paling terasa justru lonjakan harga pangan dan transportasi, dua pos yang sulit dihindari. Di sinilah jurang antara stabilitas makro dan realitas mikro terasa paling jelas.
Belum bisa ditaklukkan
Jika inflasi Nataru selalu muncul dengan komposisi yang hampir sama, pangan dan transportasi, maka persoalannya bukan lagi pada kejadian, melainkan pada pengelolaan pola. Setiap tahun, koordinasi pengendalian inflasi terus diperkuat. Sinergi pusat dan daerah berjalan. Program ketahanan pangan digaungkan. Tapi fakta lonjakan musiman tetap muncul menunjukkan pekerjaan rumah belum sepenuhnya selesai.
Inflasi musiman memang sulit dihapus. tapi lonjakan yang berulang dan terasa seharusnya bisa diperkecil.
Natal dan Tahun Baru adalah ujian paling jujur bagi sistem pangan dan distribusi. Bukan di hari biasa, tapi di saat permintaan melonjak dan tekanan datang bersamaan. Jika pada momen seperti ini harga masih mudah bergejolak, artinya sistem belum cukup lentur menghadapi tekanan musiman. Bukan soal niat, melainkan soal kesiapan teknis di lapangan.
Barangkali tantangan terbesar justru ada pada sikap, karena terjadi setiap tahun, inflasi Nataru sering dimaklumi sebagai sesuatu yang “memang begitu.” Padahal, sesuatu yang berulang seharusnya makin mudah diantisipasi, bukan makin diterima tanpa evaluasi.
Oleh sebab itu, secara tahunan, inflasi 2025 memang masih dalam sasaran. Angkanya aman. Stabilitas terjaga. Tapi Natal dan Tahun Baru kembali mengingatkan stabilitas makro belum tentu berarti kenyamanan mikro.
Inflasi musiman tidak akan hilang sepenuhnya. Namun ia bisa dibuat lebih jinak, lebih terkelola, dan tidak selalu datang dengan dampak yang terasa tajam, karena selama inflasi Natal dan Tahun Baru terus dianggap sebagai cerita lama yang wajar diulang, ia akan terus datang tepat waktu dengan pola yang sama, dan dengan beban yang kembali ditanggung masyarakat.
Tahun boleh berganti, semestinya cara membaca dan mengelola inflasi tidak berhenti di tempat yang sama. (***)