Ekonomi

Muba Expo 2025: Latihan Bersinergi Sebelum Panggung Dibuka

ist

KALAU biasanya rapat pemerintah identik dengan wajah kaku, meja panjang, dan kopi yang cepat dingin sebelum sempat diminum, beda cerita dengan rapat persiapan Muba Expo 2025, Rabu (20/08/2025) di Ruang Serasan Sekate, rapat dipimpin Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Muba, Alva Elan. Suasananya serius, tapi kalau diperhatikan baik-baik, ada semacam “rehearsal komedi” sebelum panggung besar benar-benar dibuka.

Sebab, apa yang dibicarakan bukan sekadar tenda pameran atau panggung hiburan. Tapi soal kolaborasi lintas sektor dari OPD, Forkopimda, TP PKK, Dharma Wanita, sampai perusahaan swasta. Bayangkan saja, semua duduk satu meja, seperti keluarga besar yang mau gelar hajatan akbar. Bedanya, kalau di kampung biasanya ribut soal menu prasmanan, di sini ribut soal strategi promosi, koordinasi OPD, sampai peluang investasi.

Kolaborasi lintas sektor ini ibarat main orkes dangdut. Kalau ada yang salah nada, bukannya meriah malah jadi bahan ketawa. Pemerintah minta OPD aktif, Disperindag promosi, Diskominfo jadi corong informasi, perusahaan swasta tampil gagah di stand, perbankan siap buka peluang modal, sementara UMKM lokal jadi bintang utama, semua punya peran, semua harus kompak.

Kalau dipikir-pikir, konsep bersinergi ini mirip main bola tarkam. Ada kiper (Diskominfo) yang tugasnya jangan sampai bola informasi bocor ke luar. Ada striker (Disperindag) yang harus rajin bikin gol berupa promosi UMKM Muba. Ada juga wasit, yaitu Forkopimda, yang kadang harus meniup peluit kalau ada OPD yang sibuk sendiri kayak Cristiano Ronaldo tapi nggak pernah passing bola.

Asisten Ekonomi Alva Elan tegas bilang, “Muba Expo harus jadi kebanggaan bersama, bukan sekadar acara meriah. Semua OPD harus maksimal”. Nah, di sinilah dagelannya kalau biasanya OPD saling menghindar ketika diminta laporan, sekarang mereka harus saling cari muka, biar kelihatan siap mendukung, latihan sinergi pun jadi tontonan menarik, meski tanpa tiket masuk.

Yang bikin rapat persiapan Muba Expo 2025 ini unik adalah cara semua pihak mencoba menyatukan ego, seperti sedang mengatur orkestra, tapi pemainnya bukan musisi, melainkan camat, OPD, dan pengurus PKK.

Bayangkan saja kalau masing-masing jalan sendiri OPD bikin stand tanpa koordinasi, perusahaan sibuk selfie di booth, sementara UMKM bingung kenapa stand sebelah lebih ramai, bisa kacau.

Karena itu, rapat persiapan ini jadi “latihan bersinergi sebelum panggung dibuka”. Di sinilah pemerintah belajar, bahwa kolaborasi bukan cuma jargon, tapi benar-benar harus dipraktikkan. Kalau tidak, expo nanti bisa seperti resepsi pernikahan tanpa MC tamu bingung, pengantin salah masuk pintu, musik dangdut salah nada.

Beda dengan berita resmi yang sering kaku, rapat diisi orang-orang serius dengan kertas catatan, tapi dalam hati masing-masing mungkin ada yang mikir, “Nanti stand kita jangan kalah sama stand sebelah ya, minimal lampunya lebih terang atau ada bonus kopi gratis.” Nah, ini yang bikin lucu kompetisi terselubung antar OPD, tapi dibungkus kata manis bernama sinergi.

Kepala Disperindag Muba, Nwardi Endang, dengan wajah semangat bilang “Muba Expo 2025 bukan sekadar pesta rakyat, tapi sarana strategis untuk menampilkan capaian pembangunan, memperluas peluang investasi, dan mendukung UMKM”.

Kalimat itu terdengar berat, tapi coba bayangkan versi dagelannya expo bukan cuma tempat orang jajan pempek dan foto di depan lampu kelap-kelip, tapi juga tempat UMKM lokal bisa ketemu investor. Semacam speed dating antara pedagang gorengan dan bankir awalnya canggung, tapi siapa tahu pulang-pulang sudah jadi partner bisnis.

Di sinilah nilai SEO “UMKM Muba” dan “Investasi Muba” relevan. Bahwa expo ini harusnya jadi momentum, bukan sekadar kenangan. Kalau tahun lalu pengunjung pulang hanya bawa balon sama brosur, tahun ini targetnya pulang bawa kartu nama investor dan ide usaha baru.

Yang menarik dari Muba Expo 2025 adalah bagaimana pemerintah mencoba menyeimbangkan antara hiburan rakyat dan seriusnya promosi investasi, dari sisi rakyat, yang penting ada musik, ada jajanan, dan ada hadiah doorprize. Dari sisi pemerintah, yang penting ada kontrak bisnis, ada kolaborasi BUMN-BUMD, dan ada investor masuk.

Rapat persiapan pun terasa seperti latihan stand-up comedy serius tapi kadang bikin ngakak, misalnya, ketika Diskominfo diminta lebih gencar promosi, mungkin ada yang nyeletuk dalam hati, “Promosi di medsos jangan cuma upload flyer, bikin reels biar viral. Kalau bisa, pakai sound TikTok yang lagi hits, biar anak muda sekalian ikut nonton expo”.

Jika OPD benar-benar pakai strategi itu stand pameran dinas bisa viral bukan karena brosur tebal, tapi karena joget trending bareng camat. Pada akhirnya, rapat persiapan ini bukan sekadar formalitas, inilah awal latihan bersinergi, dari meja rapat yang kaku, semua pihak diajak membuka diri, saling koordinasi, dan memastikan expo nanti benar-benar spektakuler.

Karena kalau semua kompak, Muba Expo 2025 bisa jadi bukan cuma puncak perayaan HUT ke-69 Kabupaten Muba, tapi juga jadi mesin penggerak ekonomi baru,  UMKM yang naik kelas, investasi yang masuk, hingga hiburan rakyat yang bikin ngakak bareng.

Jadi, jangan heran kalau nanti Muba Expo 2025 bukan hanya ajang jalan-jalan, bisa jadi, inilah momen ketika ketawa rakyat dan kontrak bisnis duduk bareng di satu panggung.[***]

Terpopuler

To Top