PELATIHAN mangrove sering terdengar seperti kabar baik, tapi kali ini, ada cara lain untuk membacanya sebagai tanda sesuatu belum sepenuhnya berjalan.
Apalagi Sumatera Selatan sendiri merupakan provinsi di Pulau Sumatera tidak kekurangan mangrove.
Seperti contohnya di kawasan pesisir Ogan Komering Ilir dan Banyuasin sudah lama menyimpan kekayaan itu, hijau, dan diam-diam bekerja menjaga garis pantai.
Manfaat mangrove sendiri sangat penting untuk menahan abrasi, menyaring air, dan menyerap karbon.
Terlebih mangrove itu setia menjalankan tugasnya, bahkan saat manusia belum sepenuhnya menghargainya.
Namun satu pertanyaan sederhana mulai terasa mengganggu, kalau mangrove sudah lama ada dan potensinya besar, kenapa baru sekarang masyarakat didorong serius untuk mengolahnya?
Pelatihan teknis yang dibuka Sekretaris Daerah Sumatera Selatan, H. Edward Candra, di Hotel Santika Premiere, Rabu (8/4/2026), memang membawa harapan.
Peserta belajar mengolah produk turunan mangrove dan memahami konsep silvofishery, yaitu model budidaya yang menggabungkan tambak dengan pelestarian mangrove.
Tapi lebih dari itu sebenarnya, pelatihan ini seperti membuka lapisan yang selama ini tertutup ada jarak antara potensi dan pemanfaatan.
Pasalnya selama bertahun-tahun, mangrove lebih sering hadir dalam dua wajah ekstrem.
Di satu sisi, mangrove ditebang untuk kepentingan tambak dan pembangunan.
Di sisi lain, ia dilindungi ketat tanpa memberi nilai ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar.
Namun dua pendekatan ini sama-sama menyisakan masalah, pasalnya yang satu merusak, yang satu lagi sering tidak memberi insentif.
Di tengah tarik-menarik itu, masyarakat pesisir berdiri di posisi paling sulit.
Mereka paham mangrove penting, tapi kebutuhan hidup tidak bisa menunggu.
Ketika pilihan ekonomi lebih cepat datang dari aktivitas lain, mangrove sering kalah.
Di sinilah perlunya pelatihan guna mencoba mengubah arah cerita, bukan lagi sekadar menjaga mangrove, tapi menghidupkannya dalam ekonomi.
Produk turunan seperti sirup, makanan olahan, hingga bahan alami mulai dikenalkan sebagai peluang nyata.
Sementara silvofishery menawarkan jalan tengah yaitu tetap menghasilkan, tanpa merusak.
Pendekatan ini terdengar ideal, tapi tantangan sebenarnya tidak berhenti di ruang pelatihan.
Masalah klasik sering muncul setelah kegiatan selesai.
Peserta pulang membawa pengetahuan, tapi tidak selalu membawa akses pasar.
Produk sudah bisa dibuat, tapi belum tentu bisa dijual.
Akibatnya banyak program berhenti sebagai pengalaman, bukan perubahan.
Oleh karena itu, keberhasilan pelatihan seperti ini tidak bisa diukur dari jumlah peserta atau sertifikat yang dibagikan.
Ukurannya jauh lebih konkret sebenarnya, yaitu apakah dalam beberapa bulan ke depan akan muncul produk mangrove dari Sumsel di pasar?
Apakah masyarakat benar-benar mendapat tambahan penghasilan? atau semuanya kembali seperti semula?
Untuk menjawab itu, dibutuhkan langkah lanjutan yang lebih serius.
Misalnya, pemerintah daerah perlu memastikan pendampingan berkelanjutan, bukan hanya pelatihan sekali jalan.
Akses permodalan juga harus dibuka, terutama bagi kelompok masyarakat yang ingin memulai usaha berbasis mangrove.
Selain itu, koneksi ke pasar baik lokal maupun digital harus diperkuat agar produk tidak berhenti di skala kecil.
Edukasi juga perlu diperluas. Tidak hanya soal cara mengolah, tapi juga soal branding, kualitas produk, dan standar keamanan pangan.
Di era sekarang, produk bagus saja tidak cukup, sebab harus punya cerita, kemasan menarik, dan mampu bersaing.
Langkah lain yang tak kalah penting adalah konsistensi kebijakan.
Program ekonomi hijau sering terdengar menjanjikan, tapi goyah di lapangan sering berubah arah.
Padahal, masyarakat butuh kepastian, mereka butuh tahu usaha yang mereka bangun hari ini akan tetap relevan dan didukung ke depan.
Dalam konteks ini, mangrove sebenarnya punya peluang besar menjadi wajah baru ekonomi pesisir Sumsel.
Dunia sedang bergerak ke arah keberlanjutan.
Ramah lingkungan
Produk ramah lingkungan punya pasar yang terus tumbuh.
Jika hal ini dikelola dengan benar, mangrove tidak hanya menjaga lingkungan, tapi juga membuka pintu ekonomi yang lebih luas.
Namun semua itu kembali pada satu hal yaitu masalah keseriusan.
Pelatihan bisa menjadi awal yang baik, tapi bukan tujuan akhir, pelatihan ini hanya pintu masuk.
Sebab tanpa langkah lanjutan, pintu itu akan tetap terbuka tanpa ada yang benar-benar masuk.
Selain itu masyarakat pesisir juga perlu mengambil peran aktif.
Peluang yang datang tidak selalu sempurna.
Karena kadang datang dalam bentuk pelatihan sederhana, yang perlu dikembangkan lebih jauh secara mandiri.
Kolaborasi antar kelompok, inovasi produk, dan keberanian mencoba pasar baru menjadi kunci agar peluang tidak terlewat.
Sekretaris Daerah Sumsel, H. Edward Candra, dalam arahannya menegaskan mangrove memiliki peran penting sebagai pelindung pesisir sekaligus sumber ekonomi masyarakat.
Ia juga menekankan pentingnya keseimbangan antara konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan.
“Melalui pelatihan ini, masyarakat diharapkan mampu mengolah mangrove secara produktif dan tetap menjaga kelestariannya,” ujarnya.
Pernyataan itu bukan sekadar harapan namun menjadi pengingat masa depan pesisir tidak bisa hanya bertumpu pada satu sisi lingkungan atau ekonomi saja.
Keduanya harus berjalan bersama, pasalnya mangrove sudah lama menjaga pesisir Sumsel tanpa banyak tuntutan.
Kini giliran manusia mengelolanya dengan lebih bijak.
Karena pertanyaannya bukan lagi apakah mangrove itu penting, semua orang sudah tahu jawabannya.
Pertanyaannya adalah, apakah kita benar-benar siap menjadikannya bernilai?. (***)