Minggu, 16 Agu 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Ekonomi » EKONOMI HIJAU : Kopi, Bambu & Cuan, Hutan Juga Bisa Bikin Startup!

EKONOMI HIJAU : Kopi, Bambu & Cuan, Hutan Juga Bisa Bikin Startup!

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Senin, 27 Okt 2025
  • visibility 3.087
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

DI tengah hawa Majalengka, Jawa Barat yang masih ngantuk, sekelompok petani hutan mendadak tampil kayak peserta MasterChef bukan karena mereka masak, tapi karena sama-sama gugup di depan juri.

Bedanya, jurinya di sini memang bukan chef Gordon Ramsay, tapi para offtaker yang dompetnya bisa menentukan masa depan madu, kopi, dan bambu hasil pelukan hutan.

Nama acaranya kerennya Foresta Showbiz, tapi jangan salah kira dulu, ini bukan konser pohon bernyanyi atau fashion show ranting berdaun. Ini ajang temu usaha  alias tempat petani dan pembeli ketemu tanpa drama sinetron. Kalau mau disederhanakan yaitu  kayak Tinder, cuma yang di-swipe bukan wajah, tapi produk hasil hutan.

Bahkan, biasanya tangan mereka cuma akrab sama cangkul dan parang, eh… sekarang mulai belajar pegang mikrofon. Biasanya ngomongnya “Panen e kapan, Mang?”, sekarang jadi, “Produk kami memiliki nilai tambah berbasis HHBK yang berorientasi ekspor”
Wah…., bisa-bisa besok mereka minta dibuatkan LinkedIn profile.

Tapi ya….. begitulah kalau hutan mulai bicara dengan bahasa pasar. Aneh bukan?!. sebab petani hutan belajar tampil, bukan sekadar menjual.

Mereka belajar branding, bukan brenang (berenang), belajar marketing, bukan markiran (markir mobil). Dan lucunya, meski mereka kadang salah ucap istilah, semangatnya nggak pernah salah arah.

“Dulu saya jual madu ke tetangga,” kata salah satu peserta, “sekarang mau coba jual ke luar negeri. Tapi masih bingung cara ngirimnya, soalnya lebahnya belum punya paspor”. Nah, itu baru mindset growth yang sesungguhnya ngakak tapi visioner.

Hajatan akbar

Acara ini nyatu sama Pasar Pasisian Leuweung, semacam hajatan akbar di pinggir hutan yang suasananya campur antara seminar bisnis, piknik keluarga, dan reunian alumni SD. Yang satu bawa proposal, yang lain bawa termos kopi, namun ajaibnya, di antara asap tungku dan aroma daun, kesepakatan bisnis justru lahir.

Kalau di kota, orang bangun networking lewat webinar, kalau di hutan, cukup lewat wedangan bahkan satu cangkir kopi bisa lebih efektif dari seribu kata motivato, wow sangat mantappp!!.

Ada pepatah baru di sana mau tahu? “Siapa cepat menanam, dia yang duluan panen. Siapa cepat nyeduh kopi, dia yang duluan dapat kontrak”.

Oleh karena itu, hutan itu bukan sekadar tempat pepohonan numpang hidup, tapi sekolah paling tua di dunia. Dia mengajarkan sabar lewat pertumbuhan pohon yang pelan tapi pasti. Dia mengajarkan berbagi lewat akar yang saling kirim nutrisi. Dia bahkan mengajarkan etika: siapa menebang berlebihan, siap-siap diterjang banjir.

Petani hutan itu muridnya…..
Dan kini mereka naik kelas karena bukan cuma menjaga hutan, tapi juga menafsirkan ulang artinya berdaya, nah, keren juga kreatif
Karena itu, bagi mereka ini, bisnis bukan saja soal laba semata, namun bagaimana bisa membuat hutan tetap bernyawa sambil dapur tetap ngebul, istri bisa lega dan tersenyum simpul, anak tetap bersekolah dengan perut kenyang.

Nah, intinya, jika pingin belajar bisnis sehat, lihat aja misalnya lebah, karena lebah nggak pernah rakus, tapi hasilnya manis, lebah bisa kerja bareng tanpa rebutan kursi direktur. Dan kalau diganggu, baru deh dia menyengat, itu pun demi melindungi koloninya.

Petani hutan di Majalengka juga bisa begitu, mereka nggak pamer, nggak ngaku-ngaku pengusaha hijau berkelanjutan, tapi kerja nyata.
Yang di kota sibuk posting #SustainabilityGoals, mereka sibuk nyemprot hama dan menanam bibit.

Kadang  dunia memang terbalik, yang banyak bicara justru jarang menanam, yang banyak menanam malah jarang didengar.

Heri Suheri dari Kementerian Kehutanan ngomong bijak banget waktu itu “Kami ingin kemitraan yang adil dan berkelanjutan”.

Kalimatnya ini formal banget, tapi kalau diterjemahkan ke logat warung kopi, artinya “Kalau bisa kerja bareng, ya jangan saling jegal, apalagi saling ngibul”.

Dan ini penting banget.
Soalnya banyak yang ngaku cinta lingkungan, tapi kalau dapat tender, pohon pun ikut stres.
Sementara petani hutan justru ngerti keseimbangan itu bukan sekadar jargon itu cara hidup.

Jad, duit itu memang penting, tapi kalau semua daun dijual, nanti siapa yang kasih oksigen?. Kata orang tua, “Makan boleh kenyang, tapi jangan sampe kekenyangan sampe lupa napas”.

Foresta Showbiz ini mungkin cuma dua hari, tapi bekasnya bisa panjang.
Ia kayak cermin kecil yang memantulkan wajah masa depan Indonesia, yaitu masa depan yang seimbang antara ekonomi dan ekologi.

Dan pada akhirnya Majalengka mengajarkan bahwa bisnis tak harus di gedung tinggi, tapi bisa di bawah pohon rindang.
Bahwa petani bisa bicara tentang value chain tanpa harus pindah ke kota, apalagi masa depan hijau itu nggak dimulai dari pidato pejabat, tapi dari cangkul dan niat tulus di tangan petani.

Jadi, kalau nanti kamu stres kerja di kantor dan pengen healing, jangan buru-buru ke Bali. Coba datang ke Pasar Pasisian Leuweung.
Di sana, kopi diseduh pakai ketulusan, dan bisnis disepakati pakai jabat tangan yang masih bergetar oleh lumpur.

Karena dari leuweung, kita belajar satu hal tentang hidup yang  kayak hutan, makin dalam kamu masuk, makin banyak pelajaran yang nggak kamu sangka. Janganlah remehkan orang yang tangannya penuh tanah, karena seringkali, dari tangan itulah masa depan yang bersih tumbuh.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Indonesia Miliki Tiga Industri Mobil Listrik, Siap Produksi 1.680 Unit Pertahun

    Indonesia Miliki Tiga Industri Mobil Listrik, Siap Produksi 1.680 Unit Pertahun

    • calendar_month Jumat, 10 Jun 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 643
    • 0Komentar

    DIREKTUR Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Taufiek Bawazier, mengatakan ada tiga pelaku industri yang siap memproduksi bus listrik di Indonesia dengan kapasitas 1.680 unit per tahun dan ini menjadi kekuatan ekonomi nasional. “Saat ini ada tiga industri yang siap berproduksi dengan kapasitas 1.680 unit per tahun, di antaranya PT […]

  • Sumsel Optimistis Jadi Lumbung Energi Nasional, Tanjung Enim Kembali Bangun PLTU

    Sumsel Optimistis Jadi Lumbung Energi Nasional, Tanjung Enim Kembali Bangun PLTU

    • calendar_month Sabtu, 13 Mar 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.071
    • 0Komentar

    KEINGINAN Sumatera Selatan (Sumsel) untuk menjadi lumbung energi nasional semakin nyata. Hal itu menyusul dibangunnya Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tanjung Lalang atau lebih dikenal dengan PLTU 8 Sumsel yang berada di Desa Tanjung Lalang, Kecamatan Tanjung Agung, Kabupaten Muara Enim. “Pembangunan PLTU Tanjung Lalang ini semakin membuktikan Sumsel merupakan lumbung energi nasional,” ujar Gubernur […]

  • BI-BNM Resmi Gandengan, Duit Tetangga Tak Ribet Lagi

    BI-BNM Resmi Gandengan, Duit Tetangga Tak Ribet Lagi

    • calendar_month Senin, 11 Mei 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 48
    • 0Komentar

    HUBUNGAN Indonesia dan Malaysia itu kadang mirip tetangga kompleks. Dekat, sering ketemu, kadang saling ejek soal bola, tapi kalau ada masalah besar biasanya tetap saling bantu. Nah, kali ini yang lagi “gandengan” bukan warga komplek, melainkan dua penjaga dompet negara, Bank Indonesia (BI) dan Bank Negara Malaysia (BNM). Keduanya resmi menandatangani Nota Kesepahaman (NK) untuk […]

  • Kabel-Kabel Nakal Bakal Dikubur

    Kabel-Kabel Nakal Bakal Dikubur

    • calendar_month Kamis, 15 Mei 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 813
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Langit Palembang sebentar lagi bakal bisa me time. Setelah sekian lama dijejali kabel-kabel bergelantungan yang mirip jemuran mie instan dijemur massal, akhirnya Pemerintah Kota Palembang mau bergerak juga. Di bawah komando Wali Kota Ratu Dewa, operasi bersih-bersih kabel optik pun dicanangkan. “Penataan utilitas ini sangat penting. Untuk tahap awal, kita akan mulai merapikan […]

  • Kerusakan Jalan di Bumi Bende Seguguk Dikeluhkan Masyarakat

    Kerusakan Jalan di Bumi Bende Seguguk Dikeluhkan Masyarakat

    • calendar_month Selasa, 16 Jul 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 828
    • 0Komentar

    ADANYA pengerjaan Proyek Tol Kayuagung-Palembang, membuat sejumlah jalan yang di bangun Pemerintah Kabupaten OKI mengalami kerusakan. Informasi dilapangan menyebutkan, kerusakan jalan diduga akibat aktivitas kendaraan material proyek tol yang over kapasitas saat melintasi di jalan. Adapun sejumlah jalan yang rusak yakni di ruas jalan sepucuk dan jalan simpang kijang. Di Kecamatan Kota Kayuagung, kerusakan terjadi dari […]

  • Targetkan Sebelum Hari Raya Idul Fitri, KKP Targetkan Tanam 56 Hektare Mangrove di NTB

    Targetkan Sebelum Hari Raya Idul Fitri, KKP Targetkan Tanam 56 Hektare Mangrove di NTB

    • calendar_month Sabtu, 27 Mar 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.805
    • 0Komentar

    MENTERI Kelautan dan Perikanan (MKP) Sakti Wahyu Trenggono menargetkan penanaman 56 Hektare mangrove sebelum Hari Raya Idul Fitri Tahun 2021 ini di Nusa Tengara Barat (NTB). Hal ini disampaikan Menteri Trenggono saat kunjungan kerjanya ke tempat pembibitan (nursery) mangrove di Desa Cendi Manik, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, NTB beberapa waktu lalu. “Saya hadir di sini […]

expand_less
WordPress Archive Nifty - Business Consulting WordPress Theme Nightshade – Photography Portfolio WordPress Theme Nigiri – Restaurant WordPress Theme Nikado – Responsive Theme for WooCommerce WordPress NikanTicket – WordPress & WooCommerce Support Tickets Nikicivi – Elegant CV-Resume & Portfolio Elementor Template Kit Nillé – Elegant eCommerce WordPress Theme Nilo Slider | Creative Slider for Elementor Nimbo – Personal WordPress Blog Theme Ninedok - Laboratory & Research WordPress Theme