Ekonomi

Bisakah Jagung Ogan Ilir Bantu Gizi Anak Seluruh Indonesia?

PAGI, udara Jalan Palembang-Kayu Agung, Kelurahan Indralaya, Ogan Ilir Sumatera Selatan terasa hangat. Namun di lahan yang biasanya sepi.

Gubernur Sumatera Selatan Dr. H Herman Deru dan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo terlihat sibuk membawa cangkul, ikut menanam jagung bersama petani.

Kegiatan ini bukan sekadar seremoni ada pesan nasional yang kuat di baliknya.

Tanam jagung serentak kuartal I 2026 di Sumsel adalah bagian dari strategi pemerintah mendukung swasembada pangan dan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tetapi fakta yang jarang disentuh media adalah berapa luas lahan dan target produksi yang benar-benar bisa berkontribusi bagi anak-anak Indonesia.

Menurut Dinas Pertanian Sumsel, lahan yang ditanam mencapai ±500 hektar, dengan target produksi sekitar 3.000 ton jagung. Jumlah ini diproyeksikan cukup untuk menopang gizi Y ribu anak di Sumsel saja, tapi jika dikalikan dengan program nasional MBG, model ini bisa direplikasi di provinsi lain untuk mendukung gizi anak-anak di seluruh Indonesia.

Kapolri Listyo Sigit Prabowo menekankan kebutuhan pangan nasional meningkat, penanaman jagung di Sumsel adalah bagian dari strategi memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan gizi yang cukup, terutama melalui MBG.

Yang menarik, aksi ini memperlihatkan kolaborasi nyata lintas lembaga. Polisi membantu logistik dan distribusi bibit, Gubernur mengkoordinasi program pemerintah daerah, dan petani lokal menanam bersama.

Aktivitas ini menjadi simbol bagaimana pemerintah pusat dan daerah bekerja bersama untuk ketahanan pangan nasional.

Petani lokal merasakan efek langsung, Ahmad, salah satu petani, berkata, biasanya petani bekerja sendiri. Hari ini, pejabat tinggi turun ke ladang, semangat petani bertambah.

Semoga hasilnya membantu anak-anak di Sumsel dan bisa dicontoh provinsi lain.

Kalimat ini menggarisbawahi dua hal: jagung sebagai sumber pendapatan dan kontributor gizi anak-anak, sekaligus memberi perspektif nasional.

Dampak ekonomi juga signifikan, dengan harga jagung saat ini ±Rp 5.000/kg, perkiraan pendapatan petani Ogan Ilir dari kuartal I mencapai Rp 15 miliar, belum termasuk peluang UMKM berbasis jagung.

Model ini bisa menjadi contoh bagi provinsi lain, ketahanan pangan sekaligus mesin ekonomi lokal yang mendukung kesejahteraan masyarakat.

Di tengah isu nasional tentang ketahanan pangan dan gizi anak Indonesia, Ogan Ilir menjadi salah satu contoh nyata untuk program MBG.

Panen jagung di Sumsel bisa menjadi indikator keberhasilan program gizi nasional, apakah anak-anak mendapatkan cukup nutrisi dari upaya yang konkret dan terukur ini.

Bisakah jagung Ogan Ilir menjadi bagian solusi gizi anak seluruh Indonesia?

Jawabannya akan terungkap saat panen tiba, tetapi aksi nyata di lapangan sudah menegaskan satu hal, pangan lokal bisa bersinergi dengan kebijakan nasional untuk masa depan anak-anak Indonesia. (***)

To Top