Ekonomi

Rp189,5 Miliar Ikan Selamat dari Keranjang Kapal Asing, Dari Baby Tuna sampai Harga Sebuah Rumah Sakit

KKP

PERNAH dengar pepatah, “ikan di laut aspal di darat, uangnya bisa terbang ke luar negeri”? Nah, kira-kira begitu kalau kapal asing nekat cari makan di perairan kita. Untunglah kali ini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berhasil menyelamatkan “dompet laut” kita senilai Rp189,5 miliar dari kapal asing berbendera Filipina. Bayangin, sekali patroli saja, negara bisa hemat duit setara bikin belasan sekolah, beberapa rumah sakit daerah, bahkan bisa subsidi solar buat nelayan lokal sampai Ramadan depan.

Kalau dihitung-hitung, Rp189,5 miliar itu bukan receh. Itu angka yang kalau ditaruh di celengan ayam bisa bikin ayamnya langsung pingsan. Kalau dibagi jadi duit koin seribu, bisa bikin jalanan dari Papua sampai Jakarta penuh koin kayak film kartun Scrooge McDuck yang suka nyemplung di gudang duit.

Kapal asing yang ketangkap itu ukurannya jumbo, 754 GT, dengan jaring segede dua lapangan bola. Isinya? Dominasi baby tuna. Nah ini yang bahaya.

Baby tuna itu ibarat bayi balita di kampung: kalau belum sempat sekolah TPA tapi sudah ditarik ke kota, ya enggak bakal tumbuh besar. Kalau baby tuna habis diborong kapal asing, maka masa depan nelayan lokal ikut suram. Pepatah lama bilang, “habis manis sepah dibuang,” tapi kalau ini, “habis baby tuna, masa depan pun melayang.”

Coba kita main kalkulator sederhana, katakanlah hasil tangkapan kapal asing itu 400 ton sekali operasi. Kalau 1 kilo tuna harganya rata-rata Rp50 ribu saja, maka sekali jaring dilepas bisa narik Rp20 miliar. Sekali operasi! Lah wong nelayan lokal jangankan Rp20 miliar, kadang buat beli solar pun harus utang ke warung. Jadi kalau dibiarkan, ekonomi maritim kita bocor kayak ember bolong.

Menteri Kelautan dan Perikanan pernah bilang, illegal fishing itu sama dengan merampok masa depan. Dan benar saja, Rp189,5 miliar yang diselamatkan dari satu operasi ini setara dengan APBD beberapa kabupaten kecil. Kalau uang itu dipakai dengan benar, bisa bangun 10 Puskesmas, beli ribuan beasiswa anak nelayan, atau minimal buat perbaikan dermaga yang tiap musim hujan selalu ambruk kayak sandal jepit kena air panas.

Kapal Filipina ini ternyata enggak main-main, Pake rumpon, pake teknologi modern, dan mainnya di WPPNRI 717, Samudra Pasifik, wilayah yang sebenarnya kaya banget ikan. Kalau tidak ada pengawasan, mereka bisa bebas mondar-mandir. Ibarat maling masuk dapur rumah orang, bawa karung besar, terus pura-pura nyanyi lagu karaoke biar enggak ketahuan.

Untungnya, KKP sudah pintar main strategi. Kapal patroli Orca 06 dan Orca 04, plus pesawat pengawasan, langsung meringkus. Jadi ceritanya kayak film action versi laut ada kapal besar, ada “mata dari langit”, dan ada ending dramatis kapal ditarik ke Bitung buat diadili.

Kalau laut kita diibaratkan mesin ATM, maka kapal asing adalah maling yang coba intip PIN kita. Kalau kita lengah, mereka bisa tarik sampai saldo nol. Padahal yang punya kartu adalah nelayan lokal, yang masih butuh modal sekolah anak, bayar listrik, atau sekadar beli mesin kapal.

Pepatah Jawa bilang, “yen ora dijaga, ora bakal mulya.” Kalau laut tidak dijaga, jangan harap ekonomi maritim kita berjaya, illegal fishing itu bukan cuma urusan kapal besar, tapi urusan nasi di meja makan rakyat kecil.

Rp189,5 miliar ikan yang selamat bukan sekadar angka, tapi simbol bahwa negara hadir menjaga kekayaan lautnya. Bayi tuna tetap bisa berenang, nelayan lokal bisa terus berharap, dan bangsa ini punya alasan tersenyum.

Jadi, mari kita dukung terus pengawasan laut. Biar kapal asing mikir dua kali sebelum main-main di laut kita. Ingatlah, “air laut itu asin, tapi kalau dibiarkan dicuri, yang asin justru air mata rakyatnya”.[***]

To Top