Ekspor Minyak Atsiri Indonesia Tembus USD 348,7 Juta, Minyak Nilam Jadi Kunci Hilirisasi
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 19 menit yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kemenperin.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Ekspor minyak atsiri Indonesia sepanjang 2025 mencatat lonjakan cukup besar. Nilainya mencapai USD 348,7 juta, naik 34,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka USD 259,5 juta.
Dibalik kenaikan tersebut, minyak nilam menjadi salah satu komoditas yang punya prospek kuat untuk dikembangkan lebih jauh. Bukan hanya karena pasarnya sudah terbentuk, tetapi juga karena bahan baku ini bisa diolah menjadi berbagai produk dengan nilai jual yang lebih tinggi.
Kementerian Perindustrian mencatat Indonesia berada di posisi kelima sebagai eksportir minyak atsiri terbesar dunia pada 2025. Indonesia berada di belakang India, Amerika Serikat, Prancis, dan Brasil.
Sementara itu, perdagangan minyak atsiri dunia pada periode yang sama mencapai sekitar USD 6,49 miliar. Nilai tersebut meningkat dari sekitar USD 6,29 miliar pada 2024.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita melihat pertumbuhan ekspor tersebut sebagai tanda bahwa minyak atsiri Indonesia masih memiliki daya saing di pasar internasional.
Menurut dia, kenaikan permintaan global perlu dimanfaatkan untuk memperkuat industri di dalam negeri. Artinya, peluangnya bukan hanya memperbesar ekspor, tetapi juga meningkatkan nilai yang dihasilkan dari setiap komoditas.
Salah satu yang mendapat perhatian adalah minyak nilam atau patchouli oil.
Pada 2025, nilai ekspor minyak nilam Indonesia mencapai USD 173,4 juta. Angka ini naik sekitar 22,7 persen dibandingkan ekspor 2024 yang tercatat USD 141,3 juta.
Pasarnya juga cukup luas. Produk minyak nilam Indonesia telah dikirim ke berbagai negara, antara lain India, Singapura, Prancis, Spanyol, Amerika Serikat, China, Swiss, Belgia, Belanda, Jerman, Britania Raya, dan Turki.
Pasar yang sudah terbentuk menjadi modal penting untuk mendorong minyak nilam naik kelas dari sekadar komoditas ekspor menjadi bahan baku industri bernilai tambah.
Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika mengatakan minyak nilam dapat dikembangkan melalui pemurnian dan fraksinasi. Proses tersebut memungkinkan lahirnya produk dengan spesifikasi dan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Pengembangannya dapat diarahkan ke hi-grade patchouli, fragrance, antiseptik, medicated oil, hingga aromaterapi.
Dari sana, penggunaan minyak nilam bisa semakin luas. Bahan tersebut berpotensi menjadi bagian dari rantai industri parfum, kosmetik, toiletries, farmasi, pestisida, dan aromaterapi.
Namun, peluang tersebut tidak akan maksimal jika penguatan hanya dilakukan di sisi industri hilir. Kualitas dan kesinambungan bahan baku dari tingkat petani hingga penyuling juga harus dijaga.
Karena itu, pengembangan industri minyak atsiri membutuhkan pembenahan di sepanjang rantai pasok. Kapasitas petani dan penyuling perlu ditingkatkan, sementara kelembagaan seperti koperasi juga perlu diperkuat.
Akses terhadap pembiayaan, teknologi, riset, serta pasar menjadi bagian lain yang tidak kalah penting. Dengan rantai pasok yang lebih tertata, industri hilir akan lebih mudah mendapatkan bahan baku sesuai standar dan kebutuhan produksi.
Putu mengatakan pengembangan industri atsiri membutuhkan kerja sama antara pemerintah, pelaku usaha, petani, lembaga riset, perguruan tinggi, dan mitra pasar.
Tujuannya bukan sekadar mempertahankan posisi Indonesia sebagai salah satu eksportir utama minyak atsiri dunia. Lebih jauh, pertumbuhan pasar tersebut diharapkan bisa mendorong lahirnya lebih banyak produk olahan di dalam negeri.
Peluang pasarnya masih terbuka. Nilai perdagangan minyak atsiri dunia pada 2025 mencapai sekitar USD 6,49 miliar, sehingga ruang untuk memperbesar peran Indonesia masih cukup besar.
Dengan basis produksi dan pasar ekspor yang sudah dimiliki, minyak nilam menjadi salah satu pintu masuk untuk memperkuat hilirisasi minyak atsiri Indonesia.
Tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan ekspor tidak berhenti pada penjualan bahan baku. Semakin banyak produk turunan yang bisa diproduksi di dalam negeri, semakin besar pula nilai ekonomi yang dapat ditahan dan dikembangkan di Indonesia. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
