INDONESIA dinilai masih memiliki peluang besar dalam pengembangan ekspor ke Australia, meski tantangan utama yang dihadapi bukan pada ketersediaan produk, melainkan pada kemampuan memahami standar dan karakter pasar negara tujuan yang dikenal ketat dan terstruktur.
Hal tersebut mengemuka dalam lokakarya Campuspreneur yang digelar di Australian National University (Australian National University), Canberra. Kegiatan ini diinisiasi Atase Perdagangan RI Canberra Agung Haris Setiawan bersama Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) ACT dan PPIA ANU akhir pekan ini dilaman resmi kemendag.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa Indonesia di Australia mendapatkan perspektif baru mengenai perdagangan internasional. Mereka tidak hanya diposisikan sebagai pelajar, tetapi juga memiliki potensi menjadi bagian dari rantai perdagangan, baik sebagai eksportir, buyer, maupun penghubung antara produk Indonesia dan pasar Australia.
Dalam pemaparannya, Agung Haris Setiawan menegaskan salah satu tantangan utama ekspor Indonesia adalah kemampuan memahami pasar tujuan secara menyeluruh. Hal ini mencakup standar produk, regulasi, pengemasan, legalitas usaha, hingga sistem klasifikasi barang atau HS Code yang digunakan dalam perdagangan internasional.
Ia menambahkan, mahasiswa Indonesia di luar negeri memiliki posisi yang strategis karena berada langsung di lingkungan pasar tujuan ekspor. Kondisi ini membuat mereka lebih mudah memahami perilaku konsumen, standar kualitas, serta mekanisme bisnis yang berlaku di Australia.
Seiring dengan itu, muncul pandangan bahwa keberhasilan ekspor tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga oleh kemampuan menjembatani perbedaan antara produsen dan pasar tujuan. Peran ini kerap disebut sebagai “penerjemah pasar”.
Produk-produk Indonesia seperti kopi, kakao, rempah, furnitur, alas kaki, fesyen, hingga produk digital dinilai memiliki peluang besar di pasar Australia dan kawasan Pasifik. Namun, seluruh produk tersebut tetap harus memenuhi standar ketat yang berlaku di negara tujuan.
Dalam kesempatan yang sama, pelaku usaha Agis Fendy Hasan Bachtiar membagikan pengalamannya membangun bisnis ekspor dari Australia. Berangkat dari latar belakang sebagai mahasiswa, ia kemudian mengembangkan usaha berbasis layanan rantai pasok, mulai dari pencarian pemasok, inspeksi pabrik, negosiasi, hingga pengiriman produk.
Saat ini, ia aktif mengekspor plywood Indonesia ke berbagai negara, termasuk Malaysia, Singapura, Thailand, Kuwait, dan Uni Emirat Arab dengan volume lebih dari 30 kontainer per bulan.
Menurutnya, kunci utama dalam ekspor tidak hanya terletak pada produk, tetapi juga pada pemahaman terhadap kebutuhan pasar serta kemampuan membangun kepercayaan dengan mitra dagang.
Kegiatan Campuspreneur ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat peran mahasiswa Indonesia di luar negeri dalam ekosistem perdagangan nasional. Melalui program tersebut, mahasiswa didorong untuk lebih memahami proses ekspor-impor sejak dini, termasuk aspek teknis dan praktik di lapangan.
Salah satu peserta, mahasiswa Master of Marketing Management di Australian National University, Muhammad Zukhri Ihsan, mengatakan kegiatan ini memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai perdagangan Indonesia–Australia, termasuk aspek teknis yang sebelumnya belum banyak diketahui.
Ia menilai pendekatan praktis seperti ini membantu menjembatani teori yang diperoleh di bangku kuliah dengan realitas perdagangan internasional.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa Indonesia di Australia diharapkan dapat berperan sebagai penghubung antara pelaku usaha Indonesia dan pasar Australia, sekaligus mendukung penguatan ekspor nasional secara berkelanjutan. (***)