Minggu, 16 Agu 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Ekonomi » “Bayangkan Hidup, Cabai Lebih Mahal dari Gaji”

“Bayangkan Hidup, Cabai Lebih Mahal dari Gaji”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Jumat, 3 Okt 2025
  • visibility 1.440
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

MASUK ke dapur emak-emak zaman sekarang suasananya bukan lagi aroma bawang goreng atau kuah sayur asem, tapi aroma was-was. Betapa tidak, harga cabai merah sudah kayak barang koleksi langka, saking mahalnya, ada yang bercanda kalau mas kawin zaman sekarang cukup segenggam cabai, itu pun nilainya bisa sama dengan cincin emas.

Emak-emak pun berubah jadi manajer keuangan sekaligus ahli strategi, menu makan siang diubah-ubah sesuai kondisi pasar, kalau ayam naik, langsung ganti tempe. Tempe ikut naik, pindah ke tahu.

Bahkan kalau tahu pun ikutan mahal, ya… sudah, kerupuk dicocol kecap pun bisa terasa “wah”, asalkan makannya bareng keluarga, inilah yang disebut resiliensi rumah tangga kecil, bukan pilihan, tapi keterpaksaan.

Beberapa hari lalu, Pemkot Palembang sudah menggelar pasar murah di 44 titik, dan katanya akan ada 22 titik lagi sampai akhir tahun. Tujuannya jelas, meringankan beban rakyat menengah ke bawah. Tapi masalahnya, pasar murah ini sering terasa seperti hiburan musiman, ramai sebentar, rakyat tersenyum sebentar, lalu kembali menangis di pasar tradisional saat harga kembali normal.

Pasar murah itu ibarat obat warung, meredakan pusing sesaat, tapi tidak menyembuhkan penyakit, lantaran akar masalahnya jauh lebih dalam, dari gagal panen akibat musim hujan, distribusi yang mahal, hingga kebijakan Nasional yang membuat permintaan melonjak.

BPS mencatat inflasi September 2025 di Palembang sebesar 0,30 persen bulanan, angka itu terdengar kecil, seperti recehan yang jatuh ke kolong lemari, namun  dampaknya ke dapur rumah tangga jelas terasa, sebab yang naik bukan barang mewah, melainkan kebutuhan sehari-hari, cabai, beras, ayam, bawang.

Inflasi pangan selalu terasa lebih berat, karena menyangkut kebutuhan pokok, kalau harga iPhone naik, masyarakat kecil bisa pura-pura cuek, tapi kalau harga cabai melonjak sehingga dampaknya  emak-emak bisa ngamuk di dapur.

Keluarga menengah ke bawah kini hidup seperti akrobat sirkus, tiap bulan mereka harus jungkir balik mengatur strategi agar dapur tetap mengepul. Ayah jadi akrobat keuangan, ibu jadi badut yang harus menjaga senyum anak meski lauk makin sederhana.

Ada pepatah bilang “Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit”, tapi dalam kasus inflasi pangan, pepatah itu berubah jadi sedikit demi sedikit harga naik, lama-lama dompet jadi tipis.

Kenapa harga makin pedas?, jawabnya, cabai merah melambung karena musim hujan membuat banyak petani gagal panen. Ayam naik karena bibit terbatas, biaya produksi tinggi, dan permintaan meningkat akibat program Makanan Bergizi Gratis, malah bawang merah ikut terseret, bahkan emas perhiasan pun naik karena gejolak ekonomi global.

Artinya, inflasi ini bukan sekadar masalah “harga naik” di pasar, tapi cermin dari rantai pasok yang rapuh, kalau petani tak kuat panen, distribusi tidak efisien, dan kebijakan pusat tidak terkoordinasi, maka rakyat kecil lagi-lagi jadi korban.

Kecil dampak besar

Kalau mau serius menolong rakyat, ada beberapa langkah yang bisa ditempuh sebenarnya perkuat ketahanan pangan lokal, petani cabai harus dibekali teknologi sederhana seperti rumah tanam atau bibit tahan cuaca. Jangan biarkan musim hujan selalu jadi alasan harga melambung.

Selain itu, koordinasi Program Nasional, misalnya MBG memang bagus, tapi kalau tak disertai penguatan produksi ayam, justru bisa menekan harga semakin tinggi.

Dan efisiensi distribusi, maksudnya harga BBM non-subsidi sudah turun, pemerintah seharusnya bisa memastikan ongkos transportasi pangan ikut menurun. Terakhir pasar murah plus pengawasan, bukan hanya gelaran sesaat, tapi juga menjaga stabilitas harga di pasar agar pedagang tak seenaknya bermain.

Sering kali, rakyat kecil didorong untuk “sabar” dan “resilien”, tapi sampai kapan?,  mereka bukan mesin tahan banting. Mereka manusia dengan batas kemampuan, kalau setiap kali harga pangan melonjak solusinya cuma menyuruh rakyat untuk kuat, lama-lama yang habis bukan hanya isi dompet, tapi juga kesabaran.

Resiliensi boleh, tapi jangan sampai jadi alasan bagi pemerintah untuk lepas tangan, rakyat bisa bertahan, tapi negara harus hadir.

Cabai memang kecil, tapi dampaknya besar,  dari meja makan sampai meja kebijakan, semua ikut kepanasan. Hidup ini memang pedas, tapi jangan sampai lebih pedas dari harga cabai merah.

Rakyat kecil sudah terbukti mampu bertahan dalam situasi sulit, tapi pemerintah jangan sekadar mengandalkan daya tahan itu, karena kalau rakyat hanya dipaksa resiliensi tanpa solusi nyata, yang tersisa hanyalah pasrah.

Hari itu akan indah bila emak-emak bisa masak sambel tanpa takut dompet jebol, anak bisa makan ayam tanpa harus dianggap anak sultan, dan bapak bisa belanja ke pasar tanpa pulang dengan wajah lebih kusut dari setrikaan. Selama itu belum tercapai, judul berita ini tetap relevan, cabai lebih mahal dari gaji, hidup makin pedas.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jadi Kampus Digital, Sekolah Tinggi Multimedia Yogyakarta Siapkan SDM Bertalenta Digital

    Jadi Kampus Digital, Sekolah Tinggi Multimedia Yogyakarta Siapkan SDM Bertalenta Digital

    • calendar_month Minggu, 1 Agt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 768
    • 0Komentar

    KEMENTERIAN Komunikasi dan Informatika menyiapkan Sekolah Tinggi Multimedia (STMM) MMTC Yogyakarta menjadi kampus digital yang menjamin masa depan anak bangsa. Menurut Menteri Kominfo Johnny G. Plate hal itu sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo untuk menyiapkan sumber daya manusia dengan talenta digital. “Diperlukan lahirnya SDM digital andal yang bisa berperan menghadapi perkembangan teknologi digital. Perguruan […]

  • Sambut Pangeran Tampan, Serial Animasi Tia Lee Ambil Giliran Baru Episode Keempat

    Sambut Pangeran Tampan, Serial Animasi Tia Lee Ambil Giliran Baru Episode Keempat

    • calendar_month Senin, 28 Nov 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 578
    • 0Komentar

      Sumselterkini.co.id, HONG KONG SAR –  Tia Lee Yu Fen, ikon fesyen Asia, penyanyi C-POP, aktris film dan televisi, merilis bagian keempat dari serial animasi “GOODBYE PRINCESS” miliknya pada 22 November. Dengan banyak lika-liku dalam cerita, episode terbaru adalah yang paling dramatis dan romantis dalam serial ini. Jumlah pemirsa dari seri kampanye pra-rilis video klip […]

  • Pemudik Banyak Pilih Jalur Darat, Deru Lega

    Pemudik Banyak Pilih Jalur Darat, Deru Lega

    • calendar_month Senin, 3 Jun 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 991
    • 0Komentar

    GUBERNUR Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) H. Herman Deru secara mendadak meninjau lokasi dan kesiapan angkutan mudik Lebaran Idul Fitri 1440 H, Senin (2/6/2019) . Selain bandara, terminal bus dan pelabuhan, stasiun kereta api juga tidak luput dari pantauannya. Mengenakan setelan casual yang menjadi ciri khasnya, Herman Deru mulai memantau arus mudik di Bandara Internasional Sultan Mahmud […]

  • Jelang Nataru OKI Rumuskan Soal Ini

    Jelang Nataru OKI Rumuskan Soal Ini

    • calendar_month Rabu, 22 Des 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 925
    • 0Komentar

    JAJARAN Forkopimda Pemkab OKI memperketat dan melarang perayaan Tahun Baru dengan cara konvoi kendaraan di jalan, pesta kembang api bahkan yang menimbulkan kerumunan saat perayaan Natal & Tahun Baru [Nataru]. Namun Pemkab OKI tetap memberi kelonggaran terhadap kegiatan ekonomi dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.Hal itu dirumuskan guna menekan penambahan kasus Covid-19 serta mewaspadai varian […]

  • PKK Muba Masuk Era Digital, Rapat & Edukasi Jadi Praktis!

    PKK Muba Masuk Era Digital, Rapat & Edukasi Jadi Praktis!

    • calendar_month Kamis, 18 Des 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.096
    • 0Komentar

    MASIH ingatkah dulu jika rapat itu ribetnya minta ampun dan bisa bikin kepala cenut-cenut, meja-meja penuh tumpukan kertas, printer bunyinya kencang banget kayak suara jangkrik dimalam hari. Bahkan ada saja catatannya hilang tercecer kesana sini, dan kita juga sampai hafal bunyi printer lebih jago daripada alarm subuh. Rapatnya serasa lomba estafet kertas, siapa cepat, dia […]

  • Program Satu Desa Satu Rumah Tahfidz

    Program Satu Desa Satu Rumah Tahfidz

    • calendar_month Rabu, 16 Nov 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 617
    • 0Komentar

      Sumselterkini.co.id, Palembang – Program Satu Desa Satu Rumah Tahfidz yang diinisiasi Gubernur Sumsel H. Herman Deru sejak 2018 silam terus membuahkan hasil. Berkat gagasan briliannya itu kini penghapal Alquran makin tumbuh subur di kalangan pelajar.   Seperti diakui Kepala Sekolah (Kapsek) SMK Negeri 1 Gelumbang, Kabupaten Muaraenim, Burhanuddin. Sejak menerapkan Rumah Tahfidz beberapa tahun […]

expand_less
WordPress Archive Evendo – Event & Conference WordPress Theme Eveng - Event Catering Services Elementor Pro Template Kit Evenio – Event Conference WordPress Theme Evenizer – Event Planner & Organizer Elementor Template Kit Event Booking for WooCommerce Event Booking Pro : byDay Calendar Add on Event Booking Pro : Event Slider Addon Event Calendar – PHP/MYSQL Plugin Event & Conference WordPress Theme Event Espresso Core Events registration and ticketing