Dulu Dianggap Limbah, Batok Kelapa Kini Jadi Komoditas Ekspor, Magelang Punya Ceritanya
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 7 jam yang lalu
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : beacukai.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Jangan anggap remeh batok kelapa, pasalnya benda yang biasanya berakhir sebagai sisa pengolahan itu ternyata bisa berubah menjadi komoditas bernilai ekonomi. Di Desa Bumirejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, batok kelapa bisa diolah menjadi arang dan mulai diarahkan untuk menembus pasar ekspor.
Bahkan targetnya juga bukan hanya angka kecil, produksi arang batok kelapa tersebut diharapkan mampu memenuhi kebutuhan hingga lima kontainer setiap minggu untuk dikirim ke India.
Luar biasa bukan, pasalnya batok kelapa bisa berubah cerita, dari sesuatu yang mudah dibuang, dicuekin, bahkan dianggap limbah, kini diperlakukan sebagai bahan baku yang punya pasar.
Kepala Desa Bumirejo, Sugeng, membangun tempat pembuatan arang batok kelapa dengan konsep yang lebih modern. Investasi yang ditanamkan mencapai ratusan juta rupiah.
Tujuannya yaitu, mengejar standar produksi untuk pasar ekspor sekaligus menciptakan aktivitas ekonomi baru di desa.
Bukan cuma soal kontainer
Pengembangan usaha tersebut juga diharapkan mampu menyerap puluhan tenaga kerja dari warga sekitar.
Artinya, ketika produk berhasil masuk pasar luar negeri, manfaatnya tidak berhenti pada transaksi ekspor. Ada ekonomi masyarakat yang ikut bergerak.
Dan batok kelapa bukan satu-satunya kejutan dari Magelang.
Di daerah yang sama, vanili juga sedang dikembangkan sebagai komoditas yang punya peluang menembus pasar global.
PT Pondok Tani Migunani, UMKM yang berada di Kebonkliwon, Kebonrejo, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, mengembangkan usaha perkebunan vanili dari hulu hingga hilir.
Mulai dari pembibitan, penanaman, penyerbukan manual, perawatan hingga pengolahan dilakukan dalam satu ekosistem.
Hasilnya pun tidak berhenti pada polong vanili.
Vanili diolah menjadi bubuk, ekstrak murni hingga pasta vanili. Konsistensi mutu menjadi salah satu perhatian, agar produk memiliki daya saing ketika masuk pasar yang lebih luas.
Founder PT Pondok Tani Migunani, M. Khoirul Soleh, menyebut jejaring petani yang dikembangkan pihaknya telah memiliki tujuan ekspor ke lebih dari 10 negara.
Dua cerita tersebut sangat menarik, sebab ternyata, barang lokal tidak selalu kecil nilainya. Yang sering kecil justru cara kita melihatnya.
Batok kelapa bisa menjadi arang untuk pasar ekspor. Vanili bisa diolah menjadi produk bernilai tambah dan dikembangkan menuju pasar internasional.
Namun ada pertanyaan yang bisa menjadi PR bersama, yaitu apakah produk tersebut mampu memenuhi standar dan kebutuhan pasar global?
Nah, inilah peran pendampingan menjadi penting, apalagi Bea Cukai memberikan asistensi kepada PT Pondok Tani Migunani pada Rabu (19/08) dan kepada petani batok kelapa Desa Bumirejo pada Kamis (27/08).
Kegiatan tersebut dilakukan untuk mengenali potensi usaha sekaligus memberikan pendampingan kepada pelaku UMKM yang memiliki peluang memperluas pasar hingga mancanegara.
Kepala Subdirektorat Humas dan Penyuluhan Bea Cukai, Budi Prasetiyo, mengatakan pelaku UMKM yang memiliki potensi ekspor perlu meningkatkan kualitas produk agar mampu bersaing di pasar internasional.
Melalui program Klinik Ekspor, UMKM didorong agar mampu melakukan ekspor secara mandiri.
Harapannya bukan hanya membuat produk daerah keluar negeri. Ada nilai ekonomi yang ingin dikejar: pasar baru, devisa, peningkatan pendapatan dan kesempatan kerja bagi masyarakat.
Magelang pun punya dua contoh menarik, yaitu satu berasal dari kebun, satu lagi berasal dari sesuatu yang selama ini dianggap limbah.
Keduanya membuktikan itu, sebab juga peluang ekspor memang kadang tidak datang dalam bentuk yang mewah. Tanpa disadari bisa jadi peluang itu justru ada di depan mata, bahkan selama ini dibuang. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
