Digital Ekonomi

Kenapa Orang Indonesia Pilih Go-Jek daripada Grab &Uber ? Ini Faktanya

Hingga sekarang mencapai lebih dari 654.000 pengemudi di 50 kota di Indonesia.

foto : ilustrasi

SUMSELTERKINI.ID, Jakarta  – ecommerceIQ (eIQ), sebuah brand market riset di Asia Tenggara pada Januari 2018 lalu melakukan sebuah riset dengan melibatkan 515 orang responden di kota-kota besar di Indonesia untuk mengetahui aplikasi transportasi online (Go-Jek, Grab, dan Uber) yang digunakan setiap hari oleh masyarakat Indonesia.

Hasil riset tersebut menunjukkan bahwa Go-Jek jadi aplikasi yang paling banyak digunakan responden. Bekerja dengan slogan “Karya Anak Bangsa”, perusahaan ini menjadi favorit di antara responden survei (56%) dan orang Indonesia sejak didirikan pada 2010.

Perusahaan teknologi Indonesia pertama yang telah meraih gelar Unicorn ini mengawali bisnisnya dari call center dengan hanya memiliki 20 pengemudi hingga sekarang mencapai lebih dari 654.000 pengemudi di 50 kota di Indonesia.

Pemain baru (later entrants) mendapatkan keuntungan dari investasi Go-Jek dalam memasarkan dan memperkenalkan transportasi berbasis aplikasi di Indonesia. Konsumen sekarang telah lebih memahami tentang transportasi berbasis aplikasi dan pemain baru (Uber dan Grab) tidak perlu menghabiskan waktu mereka untuk memperkenalkan aplikasi mereka yang pada dasarnya memiliki konsep yang sama.

Menyusul Go-Jek, Grab berada dalam urutan kedua dengan 33 persen. Beberapa bulan yang lalu, Grab mengumumkan ekspansi ke 100 kota di Indonesia, menjadikannya pemain dominan di negara ini. Sementara itu, Go-Jek dan Uber hanya bisa diakses di 50 kota dan 34 kota di Indonesia.

Di urutan terakhir, Uber dipilih 8 persen responden. Meski hadir lebih dulu dari transportasi online lainnya, Uber tetap menunjukkan eksistensinya di bisnis aplikasi transportasi online.

Harga dan promo juga membawa lebih banyak bobot setelah Kementerian Perhubungan mengumumkan tarif dasar untuk semua layanan taksi online Rp3.000-Rp6.000 (US$0,23-US$0,45) per kilometer di wilayah Jawa, Bali, dan Sumatera. Untuk Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua, tarifnya lebih besar yaitu Rp3.700-Rp6.500 (US$0,28-US$0,49) per kilometer.

Sementara itu, pemerintah Indonesia belum mengumumkan peraturan tarif dasar untuk layanan ojek online. Berdasarkan penelitian eIQ, tarif bervariasi di antara masing-masing aplikasi.

Go-Jek mematok harga Rp45.000 IDR (US$3,38) untuk jam sibuk, yang lebih mahal dibandingkan dengan Grab and Uber yang menawarkan tingkat lonjakan hingga Rp32.500 (US$2,44) dan Rp28.000 (US$2,10). Tarif berdasarkan perjalanan sepanjang 15 km yang tim eIQ coba untuk masing-masing aplikasi selama jam sibuk

Sebanyak 46 persen responden mengaku memiliki dua aplikasi terpasang di ponsel pintar mereka. Lalu, 23 persen responden memiliki tiga aplikasi yang terpasang, 29 persen memiliki satu aplikasi, dan 2 persen tidak menggunakan aplikasi apa pun.

Tidak sulit untuk memahami mengapa penduduk di setiap kota memprioritaskan beberapa fitur tertentu dibandingkan yang lain. Responden dari Semarang, Surabaya, dan Jabodetabek menilai diskon dan promosi lebih banyak daripada opsi lainnya. Hal itu mungkin karena mereka memiliki akses lebih terhadap pilihan transportasi.

Berdasarkan data yang terkumpul, menyediakan helm, hair net, dan asuransi adalah standar keselamatan yang harus dipenuhi oleh semua aplikasi yang disambut dengan baik.

Poin penting lainnya adalah bahwa menjadi penggerak pertama di industri mungkin tidak selalu menjamin keuntungan. Go-Jek adalah perusahaan pertama yang memperkenalkan transportasi berbasis aplikasi di Indonesia, tetapi Grab dengan cepat mengembangkan dan memperluas operasinya di Indonesia dan menjadi pemain dominan di negara ini. (Sumber : Warta Ekonomi.co.id)

 

Comments

Terpopuler

To Top
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com