Minggu, 18 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Catatan-Kaki Bukit » Sekolah Rakyat dan Janji Memutus Rantai Kemiskinan

Sekolah Rakyat dan Janji Memutus Rantai Kemiskinan

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Sabtu, 15 Agt 2026
  • visibility 51
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

SUMSELTERKINI.CO.ID – Ada kalimat Presiden Prabowo Subianto dalam pidato kenegaraan yang menarik dan bersemangat yang patut direnungkan bersama lebih jauh, yaitu tidak ada investasi yang lebih berharga daripada mengembalikan masa depan seorang anak.

Kalimat itu sepertinya terdengar sederhana. Namun, dibaliknya terdapat persoalan besar yang selama bertahun-tahun dihadapi Indonesia, bagaimana memastikan kemiskinan yang dialami orang tua tidak otomatis menjadi masa depan anak-anak mereka.

Kemiskinan bukan hanya perkara berapa rupiah yang dimiliki sebuah keluarga. Kemiskinan dapat hadir dalam bentuk lain, anak yang harus berhenti sekolah karena membantu orang tua bekerja, tidak memiliki tempat belajar yang layak, kekurangan gizi, tinggal terlalu jauh dari sekolah, atau tumbuh dalam lingkungan yang membuat kesempatan untuk berkembang menjadi semakin sempit.

Dalam kondisi seperti itu, pendidikan bukan hanya urusan sekolah, pendidikan dapat menjadi pintu keluar.

Disitu gagasan Sekolah Rakyat ditempatkan guna menolong anak-anak yang tak mampu. Program ini bukan hanya menawarkan pendidikan gratis, tetapi mencoba membangun sebuah ekosistem pendidikan bagi anak-anak dari keluarga yang berada dalam kondisi ekonomi paling rentan. Konsep berasrama memungkinkan kebutuhan pendidikan, tempat tinggal, makanan bergizi, pembinaan, kegiatan olahraga, hingga lingkungan belajar ditempatkan dalam satu sistem.

Pemerintah bahkan memasukkan pemberdayaan orang tua sebagai bagian dari pendekatan tersebut.

Nalar nya cukup jelas, sebab jika hanya anak saja yang mendapatkan pendidikan sementara keluarganya tetap berada dalam lingkaran persoalan ekonomi yang sama, maka intervensi terhadap kemiskinan tidak pernah benar-benar selesai.

Oleh karena itu, Sekolah Rakyat seharusnya tidak dipandang hanya sebagai proyek pembangunan gedung sekolah. Ia lebih tepat dilihat sebagai eksperimen kebijakan untuk memutus kemiskinan antargenerasi. Dan eksperimen seperti ini memang membutuhkan waktu.

Pemerintah menyebutkan jumlah Sekolah Rakyat terus bertambah. Pada 2026, puluhan sekolah permanen mulai beroperasi dan sekolah rintisan terus berkembang. Target ke depan juga jauh lebih besar.

Angka-angka tersebut penting, tetapi angka bukanlah ukuran terakhir keberhasilan, karena kita dapat dengan mudah menghitung berapa sekolah yang dibangun, berapa siswa yang diterima, berapa guru yang ditempatkan, dan berapa fasilitas yang tersedia.

Yang jauh lebih sulit adalah menghitung apakah sepuluh atau lima belas tahun kemudian anak-anak tersebut benar-benar memiliki kehidupan yang berbeda.

Apakah mereka dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi?, apakah mereka memperoleh pekerjaan yang lebih baik? da apakah mereka memiliki pendapatan yang membuat mereka tidak kembali ke dalam kemiskinan? serta apakah orang tua mereka menjadi lebih mandiri?

Namun yang paling penting, dari beberapa pertanyaan itu,  apakah anak-anak mereka kelak tidak lagi mengalami persoalan ekonomi yang sama? Maka itulah sebenarnya ukuran keberhasilan Sekolah Rakyat sesungguhnya.

Kisah para siswanya memberikan gambaran mengapa intervensi semacam ini diperlukan. Ada anak yang hampir meninggalkan sekolah karena harus membantu orang tua berjualan.

Ada  juga keluarga yang kehilangan salah satu pencari nafkah. Ada pula anak-anak yang sebelumnya memiliki kesempatan pendidikan sangat terbatas, tetapi kemudian dapat menunjukkan prestasi di bidang akademik maupun olahraga.

Kesempatan

Kisah-kisah tersebut memperlihatkan satu hal yang sangat penting, karena kemiskinan tidak identik dengan ketidakmampuan. Hanya saja, sering kali yang membedakan seseorang bukan semata-mata bakat atau kecerdasan, melainkan kesempatan.

Anak dari keluarga mampu mungkin memiliki buku, komputer, makanan bergizi, lingkungan belajar yang tenang, les tambahan, akses internet, dan dukungan orang tua.

Sementara anak dari keluarga sangat miskin mungkin harus memilih antara belajar dan membantu keluarganya mencari nafkah. Memberikan keduanya perlakuan yang persis sama belum tentu menghasilkan keadilan.

Pernyataan Presiden bahwa keadilan tidak selalu berarti memberikan semua orang perlakuan yang sama patut ditempatkan dalam konteks yang lebih luas.

Anak-anak yang memulai kehidupan dari titik yang berbeda memang membutuhkan dukungan yang berbeda pula, agar memiliki kesempatan yang lebih setara.

Namun, di sinilah negara juga harus berhati-hati, pasalnya Sekolah Rakyat tidak boleh berhenti pada romantisme semua masalah kemiskinan dapat diselesaikan dengan pendidikan.

Pendidikan sangat penting, tetapi bukan satu-satunya faktor. Kualitas guru, kurikulum, kesehatan anak, kondisi keluarga, kesempatan kerja setelah lulus, kualitas perguruan tinggi, hingga kondisi ekonomi secara keseluruhan akan menentukan apakah seorang anak benar-benar dapat melakukan mobilitas sosial.

Tantangan terbesar Sekolah Rakyat ke depan mungkin bukan lagi membangun sekolah. Sementara tantangan sebenarnya adalah membangun sistem yang mampu mengikuti perjalanan anak sampai ia benar-benar mandiri.

Jika seorang anak lulus dengan prestasi akademik yang baik tetapi tidak memiliki akses ke pendidikan lanjutan, pekerjaan, atau kesempatan untuk mengembangkan keterampilannya, maka sebagian mata rantai masih belum terputus.

Sebaliknya, jika lulusan Sekolah Rakyat mampu melanjutkan pendidikan, memperoleh pekerjaan yang layak, meningkatkan kondisi keluarganya, dan kemudian memberikan pendidikan yang lebih baik kepada anak-anaknya, saat itulah dampak kebijakan tersebut mulai terlihat.

Mungkin karena itu Sekolah Rakyat perlu dilihat sebagai investasi jangka panjang. Bukan investasi yang hasilnya dapat diumumkan setiap kali sebuah gedung diresmikan, melainkan investasi yang hasil akhirnya mungkin baru dapat dilihat ketika generasi pertama alumninya telah memasuki dunia kerja dan membangun keluarga.

Pada persoalan itu, kita baru bisa menjawab pertanyaan yang paling penting Apakah negara benar-benar berhasil mengembalikan masa depan mereka?, sebab membangun sekolah bisa selesai dalam hitungan bulan.

Memutus rantai kemiskinan membutuhkan waktu jauh lebih lama, dan mungkin, di situlah makna paling besar dari Sekolah Rakyat. Ia hanya tempat anak-anak miskin belajar serta upaya untuk memastikan kemiskinan orang tua tidak berubah menjadi takdir anak.

Jika itu berhasil, maka investasi yang dilakukan negara bukan hanya menghasilkan lulusan sekolah. Ia menghasilkan sebuah generasi yang memiliki kesempatan untuk menentukan nasibnya sendiri. (***)

 

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Menurut Survei, 72,65% Masyarakat Indonesia Alami Mom-shaming yang Diutarakan Secara Langsung Kepadanya

    Menurut Survei, 72,65% Masyarakat Indonesia Alami Mom-shaming yang Diutarakan Secara Langsung Kepadanya

    • calendar_month Kamis, 11 Mei 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.141
    • 0Komentar

    Pembahasan mengenai working mom dan stay at home mom sudah menjadi hal yang sering dibahas sejak lama. Namun, akhir-akhir ini isu tersebut kembali diperbincangkan setelah opini dari salah satu pengguna Twitter @tweetsbyfarah yang menarik perhatian publik dan mengundang berbagai pendapat baik pro maupun kontra.  Ibu yang bekerja masih memiliki penilaian negatif karena dianggap mengabaikan anaknya. […]

  • Anak- anak & Covid-19

    Anak- anak & Covid-19

    • calendar_month Minggu, 21 Jun 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.278
    • 0Komentar

    UDARA pagi dibilangan Perum Pesona Harapan, Jalan KH. Azhari terlihat sejuk, embun pagi setelah hujan, terlihat membasahi rerumputan di pinggir jalan di perumahan yang terletak di daerah marjinal[pinggiran],Kecamatan Kalidoni. Membuat suasana di pagi minggu akhir pekan ini semakin asri, tak kalah angin yang bergoyong di dedaunan beberapa pohon karet yang rindang, menutupi rumah warga di […]

  • grab-rewards

    Di Unduh 60 Juta, Grap Luncurkan Program Grab Rewards

    • calendar_month Kamis, 21 Sep 2017
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.350
    • 0Komentar

    Grab luncurkan program GrabRewards setelah bergabungnya 150 merchant ke dalam ekosistem rekanan reward .

  • Ini kebiasaan yang membuat diri cepat tua, apa saja?

    Ini kebiasaan yang membuat diri cepat tua, apa saja?

    • calendar_month Kamis, 20 Mei 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 861
    • 0Komentar

    TETAP awet muda dan sehat mungkin telah menjadi dambaan sebagian besar orang. Tujuannya tidak hanya untuk hidup lebih lama, tetapi juga memperpanjang tahun untuk hidup sehat. Yang patut disadari bahwa penuaan memang tidak bisa dihindari. Hanya saja, Anda dapat mencegah proses ‘penuaan’ lebih cepat terjadi. Menurut Stephen Anton, ahli dari Institute on Aging di Department […]

  • Lahan Milik Pertamina di Kenten di Sulap Jadi Area Hijau Perkotaan

    Lahan Milik Pertamina di Kenten di Sulap Jadi Area Hijau Perkotaan

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.453
    • 0Komentar

    PERTAMINA akan menyulap kawasan Kenten Kota Palembang menjadi Are Hijau Perkotaan [Kenten Cultural Park]. Hal itu tertuang dalam kesepakatan yang ditandatangani antara ketiga belah pihak, Pemkot Palembang, Pemprov Sumsel dan Pertamina di Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (9/7/2020). Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati menjelaskan aset di Kawasan Kenten, Palembang ini akan disulap sebagai area hijau perkotaan […]

  • Membongkar Mitos Cacingan di Dapur Ibu-Ibu Sumsel

    Membongkar Mitos Cacingan di Dapur Ibu-Ibu Sumsel

    • calendar_month Kamis, 3 Jul 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 792
    • 0Komentar

    DI kampung saya, ada pepatah sakti dari zaman nenek moyang “Makan ikan bisa bikin cacingan, tapi gak makan ikan bisa bikin goblokan.“Nah lho, serba salah,  begitulah mitos kadang lebih kuat dari logika, apalagi kalau sudah diwariskan sambil nyuapin bubur ke cucu. Untungnya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sekarang mulai berani melawan mitos yang sudah berlumut […]

expand_less
WordPress Archive WPMU DEV Pay Per View WPMU DEV PopUp Pro WPMU DEV Pretty Plugins WPMU DEV Private Messaging WPMU DEV Pro Sites WPMU DEV Shipper Pro WPMU DEV Site Categories WPMU DEV SmartCrawl Pro WPMU DEV Snapshot Pro WPMU DEV Subscribe by Email