Senin, 28 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Catatan-Kaki Bukit » Sekolah Rakyat dan Janji Memutus Rantai Kemiskinan

Sekolah Rakyat dan Janji Memutus Rantai Kemiskinan

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Sabtu, 15 Agt 2026
  • visibility 27
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

SUMSELTERKINI.CO.ID – Ada kalimat Presiden Prabowo Subianto dalam pidato kenegaraan yang menarik dan bersemangat yang patut direnungkan bersama lebih jauh, yaitu tidak ada investasi yang lebih berharga daripada mengembalikan masa depan seorang anak.

Kalimat itu sepertinya terdengar sederhana. Namun, dibaliknya terdapat persoalan besar yang selama bertahun-tahun dihadapi Indonesia, bagaimana memastikan kemiskinan yang dialami orang tua tidak otomatis menjadi masa depan anak-anak mereka.

Kemiskinan bukan hanya perkara berapa rupiah yang dimiliki sebuah keluarga. Kemiskinan dapat hadir dalam bentuk lain, anak yang harus berhenti sekolah karena membantu orang tua bekerja, tidak memiliki tempat belajar yang layak, kekurangan gizi, tinggal terlalu jauh dari sekolah, atau tumbuh dalam lingkungan yang membuat kesempatan untuk berkembang menjadi semakin sempit.

Dalam kondisi seperti itu, pendidikan bukan hanya urusan sekolah, pendidikan dapat menjadi pintu keluar.

Disitu gagasan Sekolah Rakyat ditempatkan guna menolong anak-anak yang tak mampu. Program ini bukan hanya menawarkan pendidikan gratis, tetapi mencoba membangun sebuah ekosistem pendidikan bagi anak-anak dari keluarga yang berada dalam kondisi ekonomi paling rentan. Konsep berasrama memungkinkan kebutuhan pendidikan, tempat tinggal, makanan bergizi, pembinaan, kegiatan olahraga, hingga lingkungan belajar ditempatkan dalam satu sistem.

Pemerintah bahkan memasukkan pemberdayaan orang tua sebagai bagian dari pendekatan tersebut.

Nalar nya cukup jelas, sebab jika hanya anak saja yang mendapatkan pendidikan sementara keluarganya tetap berada dalam lingkaran persoalan ekonomi yang sama, maka intervensi terhadap kemiskinan tidak pernah benar-benar selesai.

Oleh karena itu, Sekolah Rakyat seharusnya tidak dipandang hanya sebagai proyek pembangunan gedung sekolah. Ia lebih tepat dilihat sebagai eksperimen kebijakan untuk memutus kemiskinan antargenerasi. Dan eksperimen seperti ini memang membutuhkan waktu.

Pemerintah menyebutkan jumlah Sekolah Rakyat terus bertambah. Pada 2026, puluhan sekolah permanen mulai beroperasi dan sekolah rintisan terus berkembang. Target ke depan juga jauh lebih besar.

Angka-angka tersebut penting, tetapi angka bukanlah ukuran terakhir keberhasilan, karena kita dapat dengan mudah menghitung berapa sekolah yang dibangun, berapa siswa yang diterima, berapa guru yang ditempatkan, dan berapa fasilitas yang tersedia.

Yang jauh lebih sulit adalah menghitung apakah sepuluh atau lima belas tahun kemudian anak-anak tersebut benar-benar memiliki kehidupan yang berbeda.

Apakah mereka dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi?, apakah mereka memperoleh pekerjaan yang lebih baik? da apakah mereka memiliki pendapatan yang membuat mereka tidak kembali ke dalam kemiskinan? serta apakah orang tua mereka menjadi lebih mandiri?

Namun yang paling penting, dari beberapa pertanyaan itu,  apakah anak-anak mereka kelak tidak lagi mengalami persoalan ekonomi yang sama? Maka itulah sebenarnya ukuran keberhasilan Sekolah Rakyat sesungguhnya.

Kisah para siswanya memberikan gambaran mengapa intervensi semacam ini diperlukan. Ada anak yang hampir meninggalkan sekolah karena harus membantu orang tua berjualan.

Ada  juga keluarga yang kehilangan salah satu pencari nafkah. Ada pula anak-anak yang sebelumnya memiliki kesempatan pendidikan sangat terbatas, tetapi kemudian dapat menunjukkan prestasi di bidang akademik maupun olahraga.

Kesempatan

Kisah-kisah tersebut memperlihatkan satu hal yang sangat penting, karena kemiskinan tidak identik dengan ketidakmampuan. Hanya saja, sering kali yang membedakan seseorang bukan semata-mata bakat atau kecerdasan, melainkan kesempatan.

Anak dari keluarga mampu mungkin memiliki buku, komputer, makanan bergizi, lingkungan belajar yang tenang, les tambahan, akses internet, dan dukungan orang tua.

Sementara anak dari keluarga sangat miskin mungkin harus memilih antara belajar dan membantu keluarganya mencari nafkah. Memberikan keduanya perlakuan yang persis sama belum tentu menghasilkan keadilan.

Pernyataan Presiden bahwa keadilan tidak selalu berarti memberikan semua orang perlakuan yang sama patut ditempatkan dalam konteks yang lebih luas.

Anak-anak yang memulai kehidupan dari titik yang berbeda memang membutuhkan dukungan yang berbeda pula, agar memiliki kesempatan yang lebih setara.

Namun, di sinilah negara juga harus berhati-hati, pasalnya Sekolah Rakyat tidak boleh berhenti pada romantisme semua masalah kemiskinan dapat diselesaikan dengan pendidikan.

Pendidikan sangat penting, tetapi bukan satu-satunya faktor. Kualitas guru, kurikulum, kesehatan anak, kondisi keluarga, kesempatan kerja setelah lulus, kualitas perguruan tinggi, hingga kondisi ekonomi secara keseluruhan akan menentukan apakah seorang anak benar-benar dapat melakukan mobilitas sosial.

Tantangan terbesar Sekolah Rakyat ke depan mungkin bukan lagi membangun sekolah. Sementara tantangan sebenarnya adalah membangun sistem yang mampu mengikuti perjalanan anak sampai ia benar-benar mandiri.

Jika seorang anak lulus dengan prestasi akademik yang baik tetapi tidak memiliki akses ke pendidikan lanjutan, pekerjaan, atau kesempatan untuk mengembangkan keterampilannya, maka sebagian mata rantai masih belum terputus.

Sebaliknya, jika lulusan Sekolah Rakyat mampu melanjutkan pendidikan, memperoleh pekerjaan yang layak, meningkatkan kondisi keluarganya, dan kemudian memberikan pendidikan yang lebih baik kepada anak-anaknya, saat itulah dampak kebijakan tersebut mulai terlihat.

Mungkin karena itu Sekolah Rakyat perlu dilihat sebagai investasi jangka panjang. Bukan investasi yang hasilnya dapat diumumkan setiap kali sebuah gedung diresmikan, melainkan investasi yang hasil akhirnya mungkin baru dapat dilihat ketika generasi pertama alumninya telah memasuki dunia kerja dan membangun keluarga.

Pada persoalan itu, kita baru bisa menjawab pertanyaan yang paling penting Apakah negara benar-benar berhasil mengembalikan masa depan mereka?, sebab membangun sekolah bisa selesai dalam hitungan bulan.

Memutus rantai kemiskinan membutuhkan waktu jauh lebih lama, dan mungkin, di situlah makna paling besar dari Sekolah Rakyat. Ia hanya tempat anak-anak miskin belajar serta upaya untuk memastikan kemiskinan orang tua tidak berubah menjadi takdir anak.

Jika itu berhasil, maka investasi yang dilakukan negara bukan hanya menghasilkan lulusan sekolah. Ia menghasilkan sebuah generasi yang memiliki kesempatan untuk menentukan nasibnya sendiri. (***)

 

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • SKK Migas Dorong Peningkatan SDM  Muba di Sektor Migas

    SKK Migas Dorong Peningkatan SDM Muba di Sektor Migas

    • calendar_month Kamis, 7 Jan 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 3.074
    • 0Komentar

    Kekayaan sumber daya alam (SDA) utamanya di bidang minyak dan gas (Migas) di Bumi Serasan Sekate di handle Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin di bawah kepemimpinan Bupati Dr Dodi Reza Alex Noerdin Lic Econ MBA dan Wakil Bupati Beni Hernedi SIP dengan sangat baik. Bahkan, realisasi tersebut juga diimbangi dengan proyeksi pemanfaatan sumber daya manusia (SDM) […]

  • pendaftaran-cpns

    Catat..! Pemerintah Bakal Buka CPNS Lagi 2018 di Daerah

    • calendar_month Selasa, 14 Nov 2017
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.718
    • 0Komentar

    “Ada memang penerimaan CPNS pada 2018, CPNS yang akan dibuka tersebut sesuai dengan usulan dari pemerintah daerah, seperti Bupati, Walikota, maupun Gubernur,”

  • Bukan Jadi Menara Gading, Bangun IKN Kerjasama Dengan Daerah Mitra

    Bukan Jadi Menara Gading, Bangun IKN Kerjasama Dengan Daerah Mitra

    • calendar_month Sabtu, 9 Apr 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 3.596
    • 0Komentar

    KEMENTERIAN Dalam Negeri (Kemendagri) menyatakan Rancangan Peraturan Pelaksanaan (RPP) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2022 Tentang Ibu Kota Nusantara (IKN), akan mengatur kewenangan khusus kerja sama dengan daerah mitra supaya memiliki tanggung jawab bersama. Kerja sama tersebut bertujuan agar IKN Nusantara tidak menjadi “menara gading” bagi daerah mitra dan nantinya ada kebersamaan. Hal tersebut disampaikan Direktur […]

  • Jaga Ketersediaan Oksigen, Pemprov Sumsel Maksimalkan Pengawalan Distribusi Oksigen Medis untuk RS Rujukan Covid

    Jaga Ketersediaan Oksigen, Pemprov Sumsel Maksimalkan Pengawalan Distribusi Oksigen Medis untuk RS Rujukan Covid

    • calendar_month Selasa, 13 Jul 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 826
    • 0Komentar

    PLH Sekda Sumsel H. Akhmad Najib memimpin rapat koordinasi terkait distribusi oksigen medis untuk dibagikan ke RS rujukan Covid-19 di Sumsel. Rapat tersebut digelar di ruang rapat Setda Kantor Gubernur Sumsel, Selasa (13/07). Pada rapat tersebut Akhmad Najib  mengajak pihak korporasi dan vendor penyuplai oksigen bergerak cepat untuk memenuhi kebutuhan oksigen di 47 Rumah Sakit […]

  • Dorong Akses Keuangan Daerah,  Sumsel Miliki Koordinator TPAKD Kabupaten dan Kota

    Dorong Akses Keuangan Daerah, Sumsel Miliki Koordinator TPAKD Kabupaten dan Kota

    • calendar_month Rabu, 26 Jan 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 696
    • 0Komentar

    DALAM mempercepat akses keuangan bagi masyarakat guna mendukung pulihnya perekonomian di daerah.  Gubernur Sumsel H Herman Deru mengukuhkan 10 Sekda Kabupaten/Kota sebagai Kordinator Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) semester I tahun 2022 yang dipusatkan  di Ballroom Hotel Novotel Palembang, kemaren. 10 Kabupaten/Kota itu diantaranya Kabupaten Empat Lawang, Lahat, Lubullinggau, Muba, Musirawas, Muratara, Ogan Ilir, […]

  • TOP DIGITAL Award 2020, Beragam Inovasi Gigital Muba, Apa Komentar Juri ?

    TOP DIGITAL Award 2020, Beragam Inovasi Gigital Muba, Apa Komentar Juri ?

    • calendar_month Rabu, 4 Nov 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.151
    • 0Komentar

    PEMERINTAH Kabupaten Musi Banyuasin melalui Dinas Komunikasi dan informatika Muba ikuti sesi Presentasi dan wawancara dengan Dewan Juri TOP DIGITAL Awards 2020 secara virtual, Selasa (3/11/2020). Dalam kesempatan ini, Kepala Dinkominfo Muba Herryandi Sinulingga AP memaparkan beberapa implementasi inovasi layanan digital menuju Smart Regency Maju Berjaya 2022. Sesuai dengan visi dan misi smart regency, Herryandi […]

expand_less
WordPress Archive WPMU DEV Pay Per View WPMU DEV PopUp Pro WPMU DEV Pretty Plugins WPMU DEV Private Messaging WPMU DEV Pro Sites WPMU DEV Shipper Pro WPMU DEV Site Categories WPMU DEV SmartCrawl Pro WPMU DEV Snapshot Pro WPMU DEV Subscribe by Email