Minggu, 16 Agu 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Catatan-Kaki Bukit » Sekolah Rakyat dan Janji Memutus Rantai Kemiskinan

Sekolah Rakyat dan Janji Memutus Rantai Kemiskinan

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month 13 jam yang lalu
  • visibility 5
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

SUMSELTERKINI.CO.ID – Ada kalimat Presiden Prabowo Subianto dalam pidato kenegaraan yang menarik dan bersemangat yang patut direnungkan bersama lebih jauh, yaitu tidak ada investasi yang lebih berharga daripada mengembalikan masa depan seorang anak.

Kalimat itu sepertinya terdengar sederhana. Namun, dibaliknya terdapat persoalan besar yang selama bertahun-tahun dihadapi Indonesia, bagaimana memastikan kemiskinan yang dialami orang tua tidak otomatis menjadi masa depan anak-anak mereka.

Kemiskinan bukan hanya perkara berapa rupiah yang dimiliki sebuah keluarga. Kemiskinan dapat hadir dalam bentuk lain, anak yang harus berhenti sekolah karena membantu orang tua bekerja, tidak memiliki tempat belajar yang layak, kekurangan gizi, tinggal terlalu jauh dari sekolah, atau tumbuh dalam lingkungan yang membuat kesempatan untuk berkembang menjadi semakin sempit.

Dalam kondisi seperti itu, pendidikan bukan hanya urusan sekolah, pendidikan dapat menjadi pintu keluar.

Disitu gagasan Sekolah Rakyat ditempatkan guna menolong anak-anak yang tak mampu. Program ini bukan hanya menawarkan pendidikan gratis, tetapi mencoba membangun sebuah ekosistem pendidikan bagi anak-anak dari keluarga yang berada dalam kondisi ekonomi paling rentan. Konsep berasrama memungkinkan kebutuhan pendidikan, tempat tinggal, makanan bergizi, pembinaan, kegiatan olahraga, hingga lingkungan belajar ditempatkan dalam satu sistem.

Pemerintah bahkan memasukkan pemberdayaan orang tua sebagai bagian dari pendekatan tersebut.

Nalar nya cukup jelas, sebab jika hanya anak saja yang mendapatkan pendidikan sementara keluarganya tetap berada dalam lingkaran persoalan ekonomi yang sama, maka intervensi terhadap kemiskinan tidak pernah benar-benar selesai.

Oleh karena itu, Sekolah Rakyat seharusnya tidak dipandang hanya sebagai proyek pembangunan gedung sekolah. Ia lebih tepat dilihat sebagai eksperimen kebijakan untuk memutus kemiskinan antargenerasi. Dan eksperimen seperti ini memang membutuhkan waktu.

Pemerintah menyebutkan jumlah Sekolah Rakyat terus bertambah. Pada 2026, puluhan sekolah permanen mulai beroperasi dan sekolah rintisan terus berkembang. Target ke depan juga jauh lebih besar.

Angka-angka tersebut penting, tetapi angka bukanlah ukuran terakhir keberhasilan, karena kita dapat dengan mudah menghitung berapa sekolah yang dibangun, berapa siswa yang diterima, berapa guru yang ditempatkan, dan berapa fasilitas yang tersedia.

Yang jauh lebih sulit adalah menghitung apakah sepuluh atau lima belas tahun kemudian anak-anak tersebut benar-benar memiliki kehidupan yang berbeda.

Apakah mereka dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi?, apakah mereka memperoleh pekerjaan yang lebih baik? da apakah mereka memiliki pendapatan yang membuat mereka tidak kembali ke dalam kemiskinan? serta apakah orang tua mereka menjadi lebih mandiri?

Namun yang paling penting, dari beberapa pertanyaan itu,  apakah anak-anak mereka kelak tidak lagi mengalami persoalan ekonomi yang sama? Maka itulah sebenarnya ukuran keberhasilan Sekolah Rakyat sesungguhnya.

Kisah para siswanya memberikan gambaran mengapa intervensi semacam ini diperlukan. Ada anak yang hampir meninggalkan sekolah karena harus membantu orang tua berjualan.

Ada  juga keluarga yang kehilangan salah satu pencari nafkah. Ada pula anak-anak yang sebelumnya memiliki kesempatan pendidikan sangat terbatas, tetapi kemudian dapat menunjukkan prestasi di bidang akademik maupun olahraga.

Kesempatan

Kisah-kisah tersebut memperlihatkan satu hal yang sangat penting, karena kemiskinan tidak identik dengan ketidakmampuan. Hanya saja, sering kali yang membedakan seseorang bukan semata-mata bakat atau kecerdasan, melainkan kesempatan.

Anak dari keluarga mampu mungkin memiliki buku, komputer, makanan bergizi, lingkungan belajar yang tenang, les tambahan, akses internet, dan dukungan orang tua.

Sementara anak dari keluarga sangat miskin mungkin harus memilih antara belajar dan membantu keluarganya mencari nafkah. Memberikan keduanya perlakuan yang persis sama belum tentu menghasilkan keadilan.

Pernyataan Presiden bahwa keadilan tidak selalu berarti memberikan semua orang perlakuan yang sama patut ditempatkan dalam konteks yang lebih luas.

Anak-anak yang memulai kehidupan dari titik yang berbeda memang membutuhkan dukungan yang berbeda pula, agar memiliki kesempatan yang lebih setara.

Namun, di sinilah negara juga harus berhati-hati, pasalnya Sekolah Rakyat tidak boleh berhenti pada romantisme semua masalah kemiskinan dapat diselesaikan dengan pendidikan.

Pendidikan sangat penting, tetapi bukan satu-satunya faktor. Kualitas guru, kurikulum, kesehatan anak, kondisi keluarga, kesempatan kerja setelah lulus, kualitas perguruan tinggi, hingga kondisi ekonomi secara keseluruhan akan menentukan apakah seorang anak benar-benar dapat melakukan mobilitas sosial.

Tantangan terbesar Sekolah Rakyat ke depan mungkin bukan lagi membangun sekolah. Sementara tantangan sebenarnya adalah membangun sistem yang mampu mengikuti perjalanan anak sampai ia benar-benar mandiri.

Jika seorang anak lulus dengan prestasi akademik yang baik tetapi tidak memiliki akses ke pendidikan lanjutan, pekerjaan, atau kesempatan untuk mengembangkan keterampilannya, maka sebagian mata rantai masih belum terputus.

Sebaliknya, jika lulusan Sekolah Rakyat mampu melanjutkan pendidikan, memperoleh pekerjaan yang layak, meningkatkan kondisi keluarganya, dan kemudian memberikan pendidikan yang lebih baik kepada anak-anaknya, saat itulah dampak kebijakan tersebut mulai terlihat.

Mungkin karena itu Sekolah Rakyat perlu dilihat sebagai investasi jangka panjang. Bukan investasi yang hasilnya dapat diumumkan setiap kali sebuah gedung diresmikan, melainkan investasi yang hasil akhirnya mungkin baru dapat dilihat ketika generasi pertama alumninya telah memasuki dunia kerja dan membangun keluarga.

Pada persoalan itu, kita baru bisa menjawab pertanyaan yang paling penting Apakah negara benar-benar berhasil mengembalikan masa depan mereka?, sebab membangun sekolah bisa selesai dalam hitungan bulan.

Memutus rantai kemiskinan membutuhkan waktu jauh lebih lama, dan mungkin, di situlah makna paling besar dari Sekolah Rakyat. Ia hanya tempat anak-anak miskin belajar serta upaya untuk memastikan kemiskinan orang tua tidak berubah menjadi takdir anak.

Jika itu berhasil, maka investasi yang dilakukan negara bukan hanya menghasilkan lulusan sekolah. Ia menghasilkan sebuah generasi yang memiliki kesempatan untuk menentukan nasibnya sendiri. (***)

 

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • MotoGP Mandalika, Jakarta Promosikan Pulau Seribu

    MotoGP Mandalika, Jakarta Promosikan Pulau Seribu

    • calendar_month Sabtu, 19 Mar 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 680
    • 0Komentar

    PEMPROV DKI Jakarta menampilkan keindahan Kepulauan Seribu, melalui acara Mandalika Experience Expo di area Sirkuit Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) guna menarik wisatawan berkunjung ke Jakarta. Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Provinsi DKI Jakarta dan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu berkolaborasi menghadirkan hal itu, untuk turut menyukseskan gelaran balap internasional paling bergengsi di […]

  • Laporan Diperiksa, Integritas Diuji

    Laporan Diperiksa, Integritas Diuji

    • calendar_month Sabtu, 10 Mei 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 822
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Di negeri yang pepatahnya lebih banyak dari jumlah kode anggaran belanja daerah, ada satu pelajaran penting dari Exit Meeting antara Pemkab Muba dan BPK Sumsel, Jumat kemarin. Seperti murid yang habis ujian lalu dipanggil wali kelas dan wali murid sekaligus, rapat ini bukan sekadar pamit-pamitan, tapi juga momen membedah catatan nilai, evaluasi PR, […]

  • Andi Lisso, Menemukan Formula Baru di Era Pandemi

    Andi Lisso, Menemukan Formula Baru di Era Pandemi

    • calendar_month Selasa, 24 Nov 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.762
    • 0Komentar

    Andi Lisso membocorkan lagunya yang akan datang yang saat ini masih setengah jalan, yaitu “Cuma Pempek yang Mengerti Perasaanku”.  Diakuinya, masa pandemi covid 19 tidak membuat dirinya terhenti berkreasi. “Kami akhirnya menemukan sendiri formulanya. Tak bisa tambil tatap muka, ternyata peluang tampil di daring, justru terbuka.” Saat ini, sejak berkarier 15 tahun lalu,  sudah lima […]

  • Cegah PMK Berkembang, Presiden Minta Maksimalkan Vaksin

    Cegah PMK Berkembang, Presiden Minta Maksimalkan Vaksin

    • calendar_month Senin, 20 Jun 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 565
    • 0Komentar

    PRESIDEN RI Joko Widodo (Jokowi) menegaskan bahwa pemerintah akan bertindak cepat untuk mengatasi masalah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang sejumlah hewan ternak di Tanah Air. Salah satunya, pemerintah telah mendatangkan 800 ribu vaksin untuk segera disuntikkan kepada hewan ternak di seluruh Indonesia sehingga penyakit tersebut tidak menular lagi. “Suntikkan cepat-cepat, cepat, sehingga bisa […]

  • Guru PAI Diminta Ciptakan Dunia Pendidikan Yang Semakin Baik dan Bermoral

    Guru PAI Diminta Ciptakan Dunia Pendidikan Yang Semakin Baik dan Bermoral

    • calendar_month Kamis, 9 Jan 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.740
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin mengadakan kegiatan Workshop Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) Bagi Guru PAI SD, SMP, SMA / SMK. Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Pemkab Muba, pada Kamis (9/1/2025) diharapkan mampu memberikan banyak dampak positif bagi para pesertanya. Pj Bupati Muba H Sandi Fahlepi melalui Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Dr H Iskandar […]

  • Begini Alasannya, Kenapa Bupati OKI Melakukan Mutasi ?

    Begini Alasannya, Kenapa Bupati OKI Melakukan Mutasi ?

    • calendar_month Selasa, 16 Jul 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.000
    • 0Komentar

    SEMBILAN orang pejabat Pimpinan Pratama, Pejabat Administrator dan Pengawas di lingkungan Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir dimutasi. Pelantikan ini sendiri, langsung dilantik Bupati Ogan Komering Ilir, Iskandar, Selasa (16/7/2019). Rotasi ini adalah yang pertama kali sejak dilakukan orang nomor satu di Bumi Bende Seguguk sejak dilantik bulan Januari lalu. “Restukturisasi organisasi itu penting agar ada percepatan-percepatan […]

expand_less
WordPress Archive WPMU DEV Pay Per View WPMU DEV PopUp Pro WPMU DEV Pretty Plugins WPMU DEV Private Messaging WPMU DEV Pro Sites WPMU DEV Shipper Pro WPMU DEV Site Categories WPMU DEV SmartCrawl Pro WPMU DEV Snapshot Pro WPMU DEV Subscribe by Email