Sumselterkini.co.id, – “Kau tahu, Le,” kata Pak Bejo sambil menebar senyum tipis dan menebar pakan ke kolam.
“Kalau dulu aku cinta sama ibumu setengah mati, sekarang aku cinta sama udang dua kali lipat.”
“Walah, Pak! Masa udang ngalahin ibu?”
“Ibumu dulu bikin aku deg-degan… sekarang udang yang bikin deg-degan kalau mati mendadak karena virus!”
Begitulah kira-kira obrolan pagi antara Pak Bejo, petambak veteran dari Kebumen, dengan anaknya, Seno pemuda jebolan teknik lingkungan yang baru pulang kampung. Tapi alih-alih bekerja di perusahaan tambang di Kalimantan, Seno memilih menambang harapan dari air payau jadi petambak udang modern.
Waktu berjalan seperti aerator berputar terus muter-muter, kadang muncrat juga. Tiba-tiba, datang undangan dari Jakarta Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) ngajak Seno ke konferensi di Bali. Bukan buat liburan, tapi buat ngisi seminar bareng Petambak Muda Indonesia (PMI). Temanya Shrimp Aquaculture Conference (SAC).
“Kamu siap, No? Ngomong di depan bule-bule juga tuh!”
“Tenang, Pak. Saya bakal cerita, udang-udang kita ini bukan cuma renyah digoreng, tapi juga renyah datanya.”
Perikanan budidaya ibarat mantan pacar yang dulu diremehkan tapi sekarang sukses jadi komisaris BUMN. Dulu dianggap hanya pekerjaan pinggiran, sekarang bisa menghidupi banyak orang, bahkan jadi harapan ekspor nasional.
Sejak ada Modeling Budidaya Udang Berbasis Kawasan (BUBK) di Kebumen, anak-anak muda seperti Seno tidak lagi gengsi nyemplung ke tambak. Yang dulu ke tambak cuma buat mojok atau cari sinyal, sekarang datang bawa laptop dan sensor DO.
“Jaman dulu, air tambak dibiarkan pasrah pada nasib,” ujar Pak Tebe, Dirjen Budi Daya KKP.
“Sekarang, air dicek, di-treatment, dikasih oksigen kayak pasien IGD.”
Kolam tambak kini seperti rumah sakit VIP buat udang. Ada tandon, ada IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah), bahkan ada kolam karantina. Udang masuk, diawasi, dan keluar dalam kondisi siap ekspor.
Apa yang terjadi di Kebumen bukan sulap, bukan sihir. Tapi strategi. Seperti kata Direktur Ikan Air Payau, Pak Nando “CBIB bukan cuma sekadar sertifikat, tapi gaya hidup.”
CBIB (Cara Budidaya Ikan yang Baik) itu ibarat SOP pacaran jaman sekarang harus bersih, transparan, dan kalau bisa terukur hasilnya.
Dan bukan cuma Kebumen yang unjuk gigi. Di luar negeri, Vietnam sudah duluan ngegas dengan sistem shrimp-rice rotation farming, artinya sawah bisa ganti jadi tambak udang pas musim kemarau. Thailand pun tak mau ketinggalan, mereka bikin tambak udang pakai sistem zero-water discharge, airnya dipakai ulang, hemat kayak emak-emak belanja pas tanggal tua.
Di Ekuador, yang kita kira cuma punya pisang dan pemain bola, ternyata punya tambak udang super modern, lengkap dengan drone pemantau dan teknologi AI buat ngitung pakan. Nah, kita di Indonesia? Sudah mulai bangkit! Udang bukan lagi cuma lauk, tapi peluang.
Rizky Darmawan dari PMI menyebut, petambak muda sekarang bukan cuma kerja di kolam, tapi juga aktif di medsos, jadi influencer udang. Ada yang bikin konten edukatif, ada juga yang bikin video before-after tambak kering dan panen.
“Dulu tagline-nya ‘dari kolam ke kantor’. Sekarang, ‘dari tambak ke TikTok, terus ke Tokyo!’”
Indonesia punya potensi jadi raja udang dunia. Kita punya garis pantai panjang, tenaga muda, dan semangat gotong-royong yang kuat. Tapi seperti kata pepatah tambak “Kolam besar tak berguna kalau tak ada aerator dan niat kerja”
BUBK di Kebumen dan ISF di Sumba Timur bukan sekadar proyek. Itu simbol bahwa budidaya tak harus identik dengan lumpur, tapi bisa bersanding dengan teknologi, inovasi, dan bahkan cinta.
Seno pun kini tak cuma anak Pak Bejo. Ia jadi inspirasi petambak muda Indonesia.
“Pak, saya tahu sekarang kenapa Bapak cinta sama udang lebih dari Ibu.”
“Kenapa?”
“Karena dari udang, kita bisa tetap makan bareng, mimpi bareng, dan panen bareng.”
“Hehehe… Tapi jangan bilang-bilang Ibumu ya.”
Jadi kalau masih ada yang bilang “jadi petambak itu kuno,” bolehlah diajak jalan-jalan ke Kebumen atau Sumba Timur. Lihat sendiri, gimana teknologi, ekologi, dan ekonomi bisa jadian harmonis kayak trio dangdut koplo. Anak muda sekarang bukan cuma bisa viral karena joget di TikTok, tapi juga bisa bikin udang panen besar dan air tambak tetap bening tanpa perlu filter selebgram.
Budidaya udang bukan cuma urusan pakan dan panen. Ini soal keberanian anak muda melawan arus, menata tambak seperti menata masa depan, dan membuktikan bahwa dari kolam kecil bisa lahir cerita besar. Dari air payau bisa tumbuh harapan yang manis, gurih, dan renyah kayak udang goreng tepung yang disajikan hangat di atas nasi.
Dan ingat, kata orang bijak dari dusun sebelah “Hidup itu kadang asin, kadang manis. Tapi kalau kamu budidaya udang dengan baik, insya Allah… gurihnya nempel sampai rekening!”
Kalau kamu galau karena patah hati atau gaji kecil, ingatlah di ujung tambak sana, ada harapan yang sedang berenang-renang menunggu dipanen. Dan siapa tahu, udang itulah yang akan membawamu ke panggung dunia.[***]