Agribisnis

MubaTawarkan Peluang Usaha Ekonomi Hijau 

foto : ist

KAB. Muba menawarkan peluang usaha ekonomi hijau guna meningkatkan pendapatan daerah tanpa harus merusak lingkungan.

Wakil Bupati, Beni Hernedi, menyampaikan sangat serius untuk fasilitasi kerjasama multipihak yang dapat dijalin antara dunia usaha, masyarakat dan pemerintah kabupaten untuk mengembangkan inovasi usaha yang menjaga lingkungan dan mensejahterakan masyarakat.

Menurutnya Muba telah meluncurkan Pusat Unggulan Komoditi Lestari (PUKL), suatu inovasi kelembagaan yang dapat menjadi wadah kerjasama multipihak yang tepat sasaran.

“Kabupaten kami serius untuk jemput bola investasi yang tepat karena kami sadar betul peluang masa depan cerah untuk masyarakat kami apabila Muba fokus pada hilirisasi produk bernilai tambah yang tidak perlu mengorbankan lahan,” tukasnya.

Kepala Bappeda Muba, Drs Iskandar Syahrianto, juga menegaskan menjaga hutan harus melibatkan pemerintah dan swasta, namun yang terpenting juga masyarakat – terutama yang tinggal di buffer zone area ekosistem penting.

Masyarakat harus berdaya dengan kemampuan produktivitas yang tinggi sehingga pendapatan juga naik” ujarnya saat memaparkan pencapaian Kabupaten Musi Banyuasin dalam acara Webinar “Invest in Sustainable Business: Opportunities in Musi Banyuasin,” kemarin.

Ketua Yayasan Inisiatif Dagang Hijau, Fitrian Ardiansyah, menambahkan bahwa untuk menunjukan hal tersebut perlu diterapkan metode 3S yakni skala, stamina, dan sama-sama gotong royong.

“Prinsip ini memuat semangat penting dimana perlu keterlibatan berbagai pihak khususnya petani yang berada pada lini terdepan. Karena pemahaman Pemerintah Kabupaten Muba yang mendalam terkait model bisnis hijau, sesungguhnya Muba berpeluang emas untuk memanfaatkan berbagai peluang kerjasama dan investasi hijau termasuk melalui skema Verified Sourcing Area (VSA) yang dikembangkan oleh Yayasan Inisiatif Dagang Hijau dan jejaringnya,” tambahnya.

Widyantoko Sumarlin, Chief Sustainability Officer Kirana Megatara Group juga menilai, perdebatan antara bisnis dan kepentingan lingkungan seharusnya sudah tidak menjadi halangan.

“Project aspal karet bagus untuk meningkatkan konsumsi dalam negeri. 90% produksi karet untuk di ekspor. Ketika 50% dalam negeri bisa menyerap, maka domestik bisa menentukan harga yang baik. Apalagi jika pemerintah pusat mau turun tangan memastikan praktek yang juga lestari, ” ujar Widyantoko.

Rizky Permana, sector lead agriculture dari SNV, menanggapi upaya ini juga sudah banyak didukung oleh sejumlah pebisnis yang tertarik menanamkan modalnya di daerah salah satunya di Muba.

Namun ke depan, perusahaan-perusahaan tersebut juga harus berkontribusi dalam peningkatan skill para petani yang ada di lapangan.

“Peran pemerintah sebagai fasilitator dan regulator menjadi amat penting untuk  menyeimbangkan kemudahan berusaha dengan komitmen praktek berkelanjutan  sehingga produk yang dihasilkan juga terjaga kualitasnya,”.[***]

 

One

 

Comments

Terpopuler

To Top