Jumat, 23 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Ekonomi » “Udara Dijual! Indonesia Buka Lapak Karbon Dunia”

“Udara Dijual! Indonesia Buka Lapak Karbon Dunia”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Senin, 10 Nov 2025
  • visibility 3.068
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

DI pasar ini gak ada yang jual cabe, sayur, apalagi sandal jepit bekas. Tapi yang dijual adalah… udara bersih!
Namanya pasar karbon. Kalau pasar Minggu bikin kenyang, pasar ini bikin bumi tenang. Dan percaya atau nggak, Indonesia lagi siap-siap buka lapak besarnya.

Kedengarannya aneh, ya?. Tapi begitulah dunia sekarang yang dijual bukan cuma hasil bumi, tapi juga napasnya bumi. Kalau dulu jualan hasil hutan itu artinya nebang pohon, sekarang justru menjaga pohon bisa jadi sumber penghasilan. Canggih kali, bos!

Jadi begini, Pasar karbon itu tempat di mana negara, perusahaan, atau lembaga bisa jual beli “izin” untuk memproduksi emisi gas rumah kaca.

Logikanya begini kalau kamu bisa mengurangi emisi (misal, dengan nanem pohon atau bikin energi bersih), kamu dapet “kredit karbon” yang bisa dijual ke pihak lain yang butuh menebus emisi mereka.

Singkatnya, yang rajin menjaga alam bisa jual oksigennya, yang bandel nyampah bayar denda lewat pasar karbon.

Nah, sekarang Indonesia gak mau cuma jadi penonton. Lewat Perpres 110/2025, Presiden Prabowo Subianto resmi buka jalan biar Indonesia bisa jadi pusat perdagangan karbon dunia.

Bayangin, dari dulu kita disebut “paru-paru dunia”, tapi paru-parunya belum pernah dibayar. Sekarang, waktunya tagihan dikirim ke dunia “Nafasnya kami, duitnya mana?”

Kalau dengar kata “pasar”, kita langsung kebayang teriak-teriak ibu-ibu “Cabe sekilo lima belas ribu, ayam dua puluh lima, bonus senyum manis ya bang!”.

Tapi di pasar karbon, gak ada tawar-menawar kayak gitu. Yang ditawar bukan harga tomat, tapi harga masa depan bumi.
Para pembeli di sini bukan emak-emak bawa tas belanja, tapi negara dan perusahaan raksasa yang mau ngurangin dosa karbonnya.

Nah, Indonesia, lewat duet maut Hashim Djojohadikusumo (Utusan Khusus Presiden untuk Iklim dan Energi) dan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, kemarin baru tampil di COP30 di São Paulo, Brasil.

Mereka bukan jualan rendang, tapi jualan komitmen hijau, pasar karbon Indonesia yang katanya bakal “berintegritas tinggi” alias gak abal-abal kayak diskon 11.11.

Raja Juli Antoni dengan gaya santainya bilang, hutan itu sekarang bukan cuma paru-paru dunia, tapi ATM dunia.
Bedanya, uangnya keluar bukan karena nebang, tapi karena menjaga.

Lewat skema Perhutanan Sosial, masyarakat sekitar hutan bakal bisa dapet penghasilan dari menjaga pohon, nanem lagi yang gundul, dan jaga supaya gak kebakar.

Kira-kira kayak jaga warung yang rajin buka tiap hari, dapet pelanggan setia. Yang malas, ya sepi.
Bedanya, pelanggan di sini bukan manusia, tapi… atmosfer bumi.

Dan nih, targetnya gak main-main, pemerintah mau ngedongkrak transaksi karbon sampai 7,7 miliar dolar AS per tahun!
Itu kalau dikursin, bisa buat beli cabe rawit se-Indonesia satu tahun, dengan bonus kipas angin buat tiap rumah biar gak kepanasan karena global warming.

Kebijakan karbon ini memang keren, tapi jangan lupa, kalau mau jualan oksigen, integritasnya harus oksigen murni, bukan campur nitrogen politik.

Core Carbon Principles

Makanya, pemerintah juga kerja bareng Integrity Council for the Voluntary Carbon Market (ICVCM), semacam “Badan Standar Udara Dunia”. Mereka membantu, biar pasar karbon Indonesia gak disamperin tuduhan palsu, kayak “kredit karbon palsu” atau “proyek pohon fiktif”.

Nah, dari sinilah muncul istilah keren Core Carbon Principles.
Artinya, tiap ton karbon yang dijual harus bisa diverifikasi, dilacak, dan dipertanggungjawabkan. Jadi gak bisa asal klaim “saya nanem seribu pohon”, padahal nanemnya cuma bibit di pot depan rumah.

Kata orang tua dulu, “Siapa menanam, dia yang menuai”. Dulu pepatah itu cuma buat sawah, sekarang berlaku juga buat planet.
Kalau sekarang kita tanam pohon, jaga hutan, rawat udara, besok kita menuai bukan cuma oksigen segar, tapi juga masa depan yang gak sesak napas.

Tapi ya begitu, semua tergantung dari niat dan konsistensi. Jangan sampe pasar karbon ini cuma jadi ajang “jualan janji hijau” kayak kampanye politik yang hijau di spanduk, tapi hitam di laporan.

Ngeliat ini semua, kadang lucu juga.
Dulu orang jual minyak, gas, batu bara. Sekarang, jualan udara.
Tapi jangan salah, justru inilah masa depan ekonomi, bukan lagi soal siapa paling kaya sumber daya, tapi siapa paling bijak menjaga alamnya.

Ironinya, di tengah bumi makin panas, kita malah adu cepat bikin AC. Padahal, solusi terbaik itu bukan nambah pendingin, tapi berhenti bikin panas.

Oleh sebab itu, pasar karbon ini bukan pasar bohongan. Ini cara baru manusia menebus dosa ekologinya.
Dan Indonesia dengan hutannya, dengan rakyatnya, dengan segala potensinya  punya peluang emas buat jadi pusat “dagang udara” paling keren di dunia.

Tapi ya, kalau mau sukses, jangan cuma niatnya hijau di PowerPoint. Harus hijau juga di lapangan.
Karena kalau gak, nanti pasar karbon cuma tinggal karbon copy dari kebijakan lama, ribut di awal, sepi di tengah, hilang di akhir.

Jadi, ayo, daripada cuma sibuk nyalahin udara panas, mending kita bantu jaga oksigen tetap dingin.
]Toh, kalau udara bersih, kepala juga adem, hati tenang, dompet pun  siapa tahu  ikut tebal.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jelang Idul Adha, PTPN VII Siapkan 1 Ton Gula untuk Pasar Murah

    Jelang Idul Adha, PTPN VII Siapkan 1 Ton Gula untuk Pasar Murah

    • calendar_month Rabu, 6 Jul 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.700
    • 0Komentar

    PTPN VII ikut serta membantu program pemerintah  daerah dalam menstabilkan harga bahan pokok, melalui pasar murah yang digelar Pemkab Lampung Selatan selama 4 hari (4-7 Juli/2022). “Selama gelaran pasar murah, PTPN VII menyediakan 1 ton gula untuk dijual di 4 titik lokasi pasar murah dengan harga Rp 12 ribu perkilogram,” kata  Sekretaris Perusahaan PTPN VII […]

  • Peremajaan Sawit di Muba Penopang Perekonomian Nasional, Tak Hanya Konsen dengan PSR, Hilirisasinya Juga Berjalan

    Peremajaan Sawit di Muba Penopang Perekonomian Nasional, Tak Hanya Konsen dengan PSR, Hilirisasinya Juga Berjalan

    • calendar_month Rabu, 30 Jun 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 841
    • 0Komentar

    SEBAGAI daerah yang pertama, tercepat, serta sukses dalam implementasi Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), Kabupaten Musi Banyuasin dibawah kepemimpinan Bupati Dr Dodi Reza Alex Noerdin Lic Econ MBA terus menjadi perhatian dari banyak pihak. Sorotan dialamatkan pada upaya Muba melakukan PSR hingga menjadi penopang perekonomian nasional dari sektor perkebunan. Inisiasi Bupati Dodi Reza dalam peremajaan atau […]

  • prabowo-sby

    Pertemuan SBY & Prabowo Malam Ini Tertutup

    • calendar_month Kamis, 27 Jul 2017
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.488
    • 0Komentar

    Rencananya malam ini Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto akan bertemu, pertemuan kedua purnawirawan Jenderal tersebut berlangsung tertutup di Puri Cikeas, Bogor, Kamis (28/7/2017).

  • Lahan Seluas 1 Hektare di Jalan Kol Burlian Terbakar, BPBD dan Dinas Kebakaran Palembang Padamkan Api

    Lahan Seluas 1 Hektare di Jalan Kol Burlian Terbakar, BPBD dan Dinas Kebakaran Palembang Padamkan Api

    • calendar_month Jumat, 23 Agt 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 749
    • 0Komentar

    “Alhamdulillah saat ini api tidak sampai merambat luas mana mana setelah dilakukan penyiraman. Saat ini tinggal melakukan pendinginan saja,”

  • Survei IPSOS: 80% Masyarakat Indonesia Sambut Vaksinasi

    Survei IPSOS: 80% Masyarakat Indonesia Sambut Vaksinasi

    • calendar_month Sabtu, 27 Mar 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.105
    • 0Komentar

    80% masyarakat Indonesia menyambut baik dan bersemangat mendapatkan vaksin COVID-19. Informasi ini berdasarkan hasil survei online terkait perilaku masyarakat selama pandemi COVID-19 gelombang ketiga yang diselenggarakan Ipsos, perusahaan peneliti pasar atau market research global. Survei ini dilakukan di 6 negara Asia Tenggara: Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina. Hasil survei tersebut menunjukkan program kampanye […]

  • Bahan Baku Halal Mudahkan Sertifikasi Produk UMK Ekspor, Mari Gunakan

    Bahan Baku Halal Mudahkan Sertifikasi Produk UMK Ekspor, Mari Gunakan

    • calendar_month Sabtu, 24 Apr 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 783
    • 0Komentar

    KETERSEDIAAN bahan baku halal sangat penting dalam memudahkan dan mempercepat pelaksanaan sertifikasi halal produk usaha mikro kecil (UMK) berorientasi ekspor. Hal itu ditekankan Plt. Kepala BPJPH Kemenag, Mastuki, dalam Workshop Diversifikasi & Adaptasi Produk Ekspor bertema “Pentingnya Sertifikasi Halal untuk Ekspor Dalam Peningkatan Daya Saing Produk Ekspor Indonesia” yang digelar Kementerian Perdagangan. “Sertifikasi halal adalah […]

expand_less
WordPress Archive AdAdmin – Easy full featured ad server ADAM – Minimal Responsive Portfolio WordPress Theme Add-on Booking Hotel for WooCommerce Add-on Bundle for eForm WordPress Form Builder Adda – Blog & Fashion WordPress Theme Addons Bundle for Lumise Product Designer Address Google Autocomplete In Gravity Forms Adelia – Corporate Business WordPress Theme Adeline – Photography Portfolio Theme ADF – Amazon Discount Finder for WordPress