DI balik riak ombak yang setia menyambut pagi, ada satu gelombang baru yang mulai menggulung pelan tapi pasti, Kopdeskel Merah Putih.
Tenang… ini bukan nama grup dangdut keliling atau minuman botol rasa patriotik yang merupakan jurus baru dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), didukung penuh Presiden RI Prabowo, yang ingin meng-upgrade nasib nelayan dari sekadar penjaring ikan jadi juragan bisnis kelautan.
Ya…, nelayan memang bukan lagi diposisikan sebagai figuran, harusnya dalam laporan pembangunan, melainkan sebagai tokoh utama dalam babak baru ekonomi biru Indonesia. Bahkan jika Koperasi, yang dulu sering cuma jadi tempat beli sabun batangan dan nyicil terigu kiloan, kini didorong naik kelas, dari warung gotong-royong jadi CEO sektor kelautan lokal.
Kalau dulu nelayan ke laut membawa jaring dan pulang bawa harapan, kini mereka juga harus bawa proposal bisnis dan akun marketplace. Pasalnya ikan bandeng bisa dijual sampai Beijing, ebi ke Eropa, dan tongkol ke Tokyo.
Asal semua lewat koperasi yang sehat, bukan lewat jalur tengkulak yang cuma pintar ngasih utang tapi lupa kasih pelatihan. “Kelembagaan nelayan bukan lagi sekadar organisasi, tapi harus jadi badan usaha mandiri, profesional, dan bisa kelola sumber daya perikanan,” ujar Pak Lotharia Latif, Plt Dirjen Perikanan Tangkap, dengan nada yang cocok dicetak di belakang truk box koperasi dalam keterangannya belum lama ini.
Dan nelayan tidak sendiri, ada penyuluh perikanan coach bisnis laut, yang kini ditugaskan bukan hanya mengajarkan cara memilih jaring, tapi juga menyusun laporan keuangan dan meyakinkan bank bahwa nelayan pun bisa punya ROI, bukan cuma ROI-roi capek narik jala.
Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih ini sejalan dengan semangat Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP). Jangan bayangkan kampung ini isinya gapura merah putih dan lomba makan kerupuk di tengah laut.Namun kampung yang mau dijadikan sentra ekonomi laut.
Nelayan diajak melek digital, paham branding, hingga bikin kemasan vakum dengan logo yang bisa bersaing di rak supermarket luar negeri.
Coba bayangkan ikan cakalang dari Pulau Seram dikemas rapi, diberi label “Cakalang Curhat, bikin nasi makin semangat”, lengkap dengan barcode, Instagram, dan testimoni pelanggan Korea yang bilang, “Spicy and lovely!”.
Kalau bisa sampai segitunya, kenapa nelayan harus terus jualan di pinggir jalan sambil teriak, “Ikan segar, ikan segar, tadi masih ngobrol sama lumba-lumba!”?
Namun, harus jujur juga, program bagus tak selalu berakhir bahagia, jangan sampai ini hanya jadi proyek seremoni potong pita, selfie bareng, lalu ditinggal seperti jaring bocor di dermaga.
Kalau nelayan diminta bikin koperasi, ya bantu juga urus legalitasnya, jangan mereka disuruh cari notaris pakai sandal jepit ke kota sambil bawa map kertas basah. Jangan biarkan pelatihan hanya berhenti di hotel bintang tiga, sementara di lapangan bintang laut pun tak kelihatan.
Pemerintah perlu konsisten, dari awal hingga akhir, karena koperasi bukan sulap, perlu pendampingan yang konkret, bukan cuma janji manis seperti brosur pinjaman online.
Untuk para nelayan, saatnya naik level, dari pemancing nasib menjadi pengelola hasil, dari ngopi di pos ronda menjadi pemilik brand seafood dengan sertifikat ekspor.
Laut sudah memberi, tinggal kita yang mesti mikir, jangan mau terus-terusan jadi korban tengkulak dan ombak. Sudah saatnya koperasi jadi ATM alami, bukan cuma tempat ngutang saat istri minta beli panci baru. “Yang rajin ke laut belum tentu pulang cuan, tapi yang pintar kelola koperasi, bisa bikin laut jadi penghasilan harian”.
Kopdeskel Merah Putih adalah peluang langka, ia bukan proyek lucu-lucuan atau sekadar sunatan anggaran, bisa dijadikan mesin pertumbuhan ekonomi pesisir, jika dikelola serius dan melibatkan nelayan sebagai aktor utama, bukan figuran di atas proposal, karena nelayan kita bukan cuma pengayuh perahu, tapi pemilik masa depan laut Indonesia.[***]