Kebijakan

Diplomasi Pariwisata ala Wamenpar, Sate Kambing Dibakar di Madrid, Bikin Dunia Ngiler!

ist

Sumselterkini.co.id, – Kalau pariwisata Indonesia itu diibaratkan makanan, maka pariwisata kita adalah sate kambing legendaris yang bumbu rempahnya meresap sampai ke tulang. Tapi, gak gampang loh bikin sate kambing yang enak dan laris manis di pasar global! Nah, Wamenpar Ni Luh Puspa kemarin ke Madrid itu seperti tukang sate yang membawa resep rahasia Nusantara nggak cuma daging dan bumbu, tapi juga strategi diplomasi yang bikin dunia pengen nambah porsi terus.

Di panggung UN Tourism Executive Council yang super prestisius, Ni Luh nggak cuma duduk manis jadi tamu. Dia mewakili Indonesia sekaligus Komisi Asia Timur dan Pasifik dalam membawa misi besar pariwisata berkelanjutan.

Ini seperti memasak sate kambing dengan api kecil tapi konsisten, supaya hasilnya empuk dan harum sepanjang malam. Indonesia sadar, bahwa dunia butuh pariwisata yang nggak cuma ramai tapi juga ramah lingkungan dan memberdayakan masyarakat lokal lewat desa wisata dan green tourism investment.

Lalu, ada momen bersejarah terpilihnya Shaikha Al Nowais dari Uni Emirat Arab sebagai Sekjen UN Tourism perempuan pertama dalam 50 tahun! Ini ibarat sate kambing yang selama ini cuma dimasak oleh chef laki-laki tiba-tiba diambil alih oleh chef wanita yang punya sentuhan magis.

Dunia pariwisata pun berharap dengan kehadiran Shaikha, sektor ini makin inklusif, berkelanjutan, dan membuka pintu bagi lebih banyak perempuan untuk berperan aktif. Perubahan seperti ini membuat panggung dunia pariwisata jadi lebih seru dan adil, kayak bumbu kacang yang bikin semua lapisan rasa tercampur sempurna.

Kunjungan Ni Luh ke Madrid juga penuh aksi diplomasi bilateral. Dari Spanyol, India, Meksiko sampai Tunisia, dia ngobrol-ngobrol serius soal kerja sama pariwisata.

Bayangkan ini seperti pesta sate kambing antar tetangga yang lama nggak ketemu sambil ngobrol santai, sekaligus merencanakan bagaimana cara bikin sate kita lebih dikenal dan disukai di rumah tetangga. Lewat pertemuan ini, diharapkan kerja sama makin erat, program wisata semakin inovatif, dan pasar internasional semakin terbuka lebar.

Nah, lima program unggulan Kemenpar yang dipromosikan Ni Luh itu bagaikan lima tusuk sate kambing andalan  Gerakan Wisata Bersih yang bikin semua nyaman, Pariwisata 5.0 dengan AI dan digitalisasi yang bikin kita nggak ketinggalan zaman, Pariwisata Naik Kelas lewat gastronomy dan wellness tourism yang jadi bumbu utama, Event dengan IP asli Indonesia yang unik dan nggak ketularan, serta Desa Wisata yang jadi sentra kehidupan dan budaya lokal. Semua ini adalah resep lengkap supaya pariwisata kita makin gurih di lidah dunia.

Lalu, jangan lupa lima Destinasi Pariwisata Prioritas seperti Danau Toba dan Borobudur yang sudah terkenal tapi harus terus diasah popularitasnya, dan 10 Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata yang jadi “warung sate kambing” raksasa di mana ekonomi lokal bisa meledak dan bergairah. Ini adalah langkah konkret agar pariwisata bukan cuma cerita manis di atas kertas, tapi benar-benar jadi motor penggerak ekonomi rakyat yang berkelanjutan.

Momen paling manis? Saat Ni Luh mampir ke Restaurante Garuda Madrid, satu-satunya “warung sate kambing” Indonesia di negeri matador ini. Di tengah tapas dan paella, nasi goreng dan mie jawa hadir membawa aroma Nusantara yang membius lidah.

Bertemu Jose dan Paloma, pemilik restoran, bukan cuma ajang cicip-cicip tapi juga diskusi seru soal perjuangan mempopulerkan kuliner Indonesia di Spanyol. Ini adalah cermin nyata dari program “Indonesia Spice Up The World,” yang bertujuan memperkenalkan rempah-rempah dan pangan olahan kita ke seluruh penjuru dunia.

Sungguh, setiap gigitan nasi goreng di Madrid adalah bukti bahwa diplomasi kuliner bisa jadi senjata ampuh dalam mempererat hubungan antarbangsa.

Sebagai penutup, Ni Luh ajak para diaspora Indonesia di Spanyol jadi “agen sate kambing” yang tak kenal lelah mempromosikan keindahan dan keragaman budaya Indonesia. Diaspora ibarat duta besar tak resmi yang bisa menghubungkan hati dan budaya, jadi semacam jembatan emas yang menguatkan daya tarik Indonesia di mata dunia.

Kunjungan Wamenpar Ni Luh ke Madrid adalah bukti nyata bahwa diplomasi pariwisata Indonesia kini sedang dimasak dengan resep baru kombinasi antara strategi cerdas, teknologi modern, kerja sama bilateral, dan promosi budaya yang autentik. Layaknya sate kambing yang harus dibakar dengan sabar dan penuh cinta agar bumbu meresap sempurna, pariwisata kita butuh pendekatan yang konsisten, berkelanjutan, dan inovatif agar bisa dinikmati dunia.

Dengan hadirnya perempuan sebagai Sekjen UN Tourism, pembaruan cara pandang pun makin terasa, memberi peluang lebih besar bagi semua kalangan untuk berkontribusi, termasuk perempuan dan masyarakat lokal. Ini bukan sekadar soal jumlah wisatawan, tapi kualitas dan dampak jangka panjang bagi lingkungan dan sosial.

Program unggulan Kemenpar dan promosi DPP serta KEK Pariwisata menunjukkan kesiapan Indonesia menghadapi era pariwisata 5.0 yang semakin digital dan canggih, tanpa melupakan akar budaya dan kearifan lokal. Restoran Garuda Madrid menjadi simbol keberhasilan diplomasi kuliner yang memperkuat branding Indonesia di dunia internasional.

Terakhir, peran diaspora sangat strategis sebagai ujung tombak promosi budaya dan pariwisata. Mereka adalah “tukang sate kambing” yang bisa menjangkau pasar dan hati orang asing dengan cara yang lebih personal dan autentik.

Jadi, kalau pariwisata Indonesia adalah sate kambing yang lezat, Wamenpar Ni Luh adalah chef ulung yang sedang meracik hidangan terbaik untuk pesta dunia, mengundang semua untuk menikmati cita rasa Nusantara yang tak tertandingi.

Indonesia siap untuk jadi destinasi yang bukan cuma dikunjungi, tapi juga dicintai karena rasa dan semangatnya yang khas, hangat, dan mengikat erat hati setiap tamu yang datang.[***]

Terpopuler

To Top