Minggu, 8 Nov 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Industri Kreatif & UKM » Labelin Dulu Sebelum Di-Labelling-in!

Labelin Dulu Sebelum Di-Labelling-in!

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Senin, 26 Mei 2025
  • visibility 797
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sumselterkini.co.id, – Di negeri yang katanya laut lebih luas dari darat ini, terkadang ikan lokal kita bernasib seperti mantan yang gak sempat dihalalkan sudah dibesarkan dengan kasih sayang, eh diaku-aku orang lain. Padahal, dari ujung Sabang sampai Merauke, Indonesia punya lebih dari sekadar kecantikan pantai, kita punya harta karun rasa ikan asin, garam laut, rumput laut, hingga mutiara yang kalau dijual bisa bikin dompet nggak kempes pas akhir bulan.

Masalahnya? Banyak dari produk laut dan pesisir itu belum punya Indikasi Geografis (IndiGeo), semacam akta kelahiran resmi yang bilang, “Hei dunia, produk ini milik daerah kami, lho!”

Bayangkan, Garam Amed dari Bali awalnya cuma dihargai Rp5.000 per kilogram. Tapi begitu sah punya sertifikat IndiGeo, harganya melonjak jadi Rp20.000. Gara-gara apa? Gara-gara label. Luar biasa memang kekuatan satu lembar sertifikat bisa bikin garam naik kasta, dari garam dapur jadi garam artis.

Hal yang sama terjadi pada Mutiara Lombok. Begitu dapat cap IndiGeo, harga jualnya meledak kayak saldo e-wallet pas dapet cashback. Sebab apa? Pembeli percaya, ini bukan sembarang mutiara, ini mutiara yang tahu asal-usulnya. Ibarat jodoh, makin jelas latar belakangnya, makin mantap orang ngelamar.

Tapi mari kita jujur, dibanding potensi laut kita yang luasnya bikin nelayan bisa nyasar sinyal, baru 11 produk yang resmi terdaftar sebagai IndiGeo. Padahal kalau mau dihitung, dari ikan kerapu hingga rumput laut tenggiri, kita bisa punya puluhan, bahkan ratusan produk yang siap dipatenkan.

Sementara itu, negara-negara lain udah ngebut duluan, mereka nggak mau produk khasnya ‘diembat’ pihak lain.

Lihat Prancis, misalnya, mereka bela-belain bikin aturan ketat demi Champagne. Anggur bersoda itu cuma boleh disebut Champagne, kalau lahir di kawasan Champagne sana dan diperas dari anggur di luar wilayah itu, ya maaf, paling banter disebut sparkling wine. Mau enak kayak apa rasanya, gak akan lolos jadi ‘anak resmi’.

Italia juga punya kebanggaan pada Parmigiano Reggiano dan Prosciutto di Parma. Keju dan daging asap ini diawasi seperti anak kos yang baru pertama kali merantau. Salah prosedur dikit langsung dicoret dari daftar pewaris nama besar Italia. Bahkan, toko keju di negara lain bisa disomasi kalau berani mengaku-ngaku.

Giliran ke Asia, Thailand juga gak mau kalah, mereka ngurusin beras Jasmine, gula kelapa Phetchaburi, sampai mangga Nam Dok Mai, dengan semangat kayak ibu-ibu jaga arisan. Di bungkus rapi, dikasih label resmi, lalu dipromosiin ke Eropa. Thailand ngerti branding rasa bisa jadi pemasukan negara.

India pun demikian, dari Darjeeling Tea, Malabar Pepper, sampai Basmati Rice  semuanya diproteksi, mereka gak cuma jual rasa, tapi juga cerita. Rempah jadi rebutan dunia?. Tenang, India udah pasang pagar hukum. Sementara kita, kadang masih sibuk debat ini sambel terasi Betawi apa Bangka?

Contoh paling berbusa

Contoh paling ‘berbusa’ datang dari Meksiko, mereka bela mati-matian Tequila dan Mezcal. Hanya wilayah tertentu yang boleh produksi. Bahkan pabrik di luar zona itu, meskipun pakai resep sama, gak boleh pakai nama “Tequila”. Cuma gara-gara label, Meksiko bisa naikkan ekspor dan harga jual minuman lokal mereka. Coba bayangin, kalau kita bisa lakukan hal serupa pada arak Bali atau sopi Maluku, bisa-bisa masuk etalase restoran Michelin!

Dan jangan remehkan Vietnam. Mereka bukan cuma ngurus wisata Danang atau kopi di kafe hipster. Mereka daftarkan kopi Buon Ma Thuot, saus ikan Phu Quoc, hingga lada Quang Tri sebagai GI (Geographical Indications). Mereka bahkan bikin perjanjian khusus sama Uni Eropa supaya produk Vietnam makin susah ditiru.

Lha kita? Kadang masih bingung ini ikan tenggiri punya siapa, kok tiba-tiba muncul di restoran luar negeri tapi pakai nama “Asian Sea Delight”?

Indikasi Geografis itu bukan sekadar urusan stempel atau hiasan di kemasan. Ia adalah bentuk pengakuan atas keringat nelayan, budaya lokal, dan warisan rasa yang nggak bisa digandakan begitu saja. Negara yang cerdas bukan hanya memanen hasil laut, tapi juga memanen nilai tambah dari identitas produknya.

Jangan sampai kita cuma jadi penonton di panggung dunia kuliner, sementara hasil laut kita dipentaskan orang lain dengan label palsu dan harga tinggi. Ibarat pepatah lama “Kalau bukan kita yang daftarin, ya siap-siap dilabelin sama orang”.

Jadi sebelum ikan asin kita jadi bintang di restoran luar negeri tanpa KTP daerah, yuk kita bantu mereka punya identitas yang sah. Biar nanti, kalau dunia mencicipi rasa laut Indonesia, mereka tahu persis ini dari mana, oleh siapa, dan dengan cinta budaya apa ia diproduksi. Kalau cinta saja butuh status, apalagi ikan kerapu.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Resep Ajaib dari Samosir

    Resep Ajaib dari Samosir

    • calendar_month Senin, 5 Mei 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 935
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Dulu, sampah plastik di Bukit Holbung mengalir seperti air mancur dosa. Turun dari bukit, numpuk di jalan, meresahkan mata, dan merusak harum citra wisata. Tapi pepatah tua bilang, “kalau tak bisa menjadi pohon rindang, jadilah ilalang yang menghalau debu.” Maka warga Desa Hariara Pohan, Samosir, Sumatera Utara, memilih menjadi ilalang perlawanan terhadap sampah. […]

  • Rusli Habibie Ditunjuk Sebagai  Ketua DMDI  Gorontalo

    Rusli Habibie Ditunjuk Sebagai  Ketua DMDI  Gorontalo

    • calendar_month Sabtu, 31 Okt 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.408
    • 0Komentar

    GUBERNUR Sumatera Selatan (Sumsel) H.Herman Deru yang juga Ketua Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) Indonesia,  menyerahkan mandat kepada Gubernur Provinsi Gorontalo H. Rusli Habibie sebagai Ketua DMDI Provinsi Gorontalo. Penyerahan mandat sekaligus gelar Datuk Sri ini dilakukannya tak lain untuk mempercepat pembangunan dan pengembangan suku, adat serta budaya melayu di Provinsi yang dikenal dengan sebutan […]

  • Ikut Tangani Covid-19, Kemendes PDTT Lakukan dengan Rem & Gas Seimbang

    Ikut Tangani Covid-19, Kemendes PDTT Lakukan dengan Rem & Gas Seimbang

    • calendar_month Selasa, 9 Mar 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 907
    • 0Komentar

    Kementerian Desa, Pembangungan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT). Kemendes PDTT melakukan penanganan pandemi Covid-19 sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo yaitu dengan rem dan gas yang seimbang. Hal itu dilakukan sejak Maret 2020 hingga saat ini PDTT). Menteri Kemendes PDTT Abdul Halim Iskandar dalam paparan melalui sambungan virtual saat mengikuti Rapat Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana […]

  • TP PKK & BKPRMI, Bikin Keluarga Sakinah Tanpa Drama

    TP PKK & BKPRMI, Bikin Keluarga Sakinah Tanpa Drama

    • calendar_month Senin, 20 Okt 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.398
    • 0Komentar

    DI Ruang Kerja Dewi Sastrani Ratu Dewa, Ketua TP PKK Palembang, Senin (20/10/2025) mendadak ramai, bukan karena ada seleb, tapi karena kedatangan rombongan BKPRMI yang bawa misi sakinah tanpa drama, tapi plus bumbu tawa. Begitu masuk, Dewi langsung ngegas, “Eh, kalian jangan cuma bawa senyum, harusnya bawa solusi juga!, kopi ada, gosip ada, tapi drama […]

  • Rektor Universitas Tridinanti Ingin Hasilkan SDM Beriman dan Berkualitas

    Rektor Universitas Tridinanti Ingin Hasilkan SDM Beriman dan Berkualitas

    • calendar_month Minggu, 29 Jul 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.280
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID, Palembang – Rektor Universitas Tridinanti  Palembang Dr. Ir. Hj Nyimas Manisah M.P dalam mengatakan sangat bersyukur gedung kuliah dan auditorium ini bisa selesai dikerjakan dalam 2 tahun  pembangunan dengan lancar. “Semua ini berkat Ridho Allah. Dan yang membanggakan adalah ini dibangun dengan swadana,” jelasnya, dalam peresmian Gedung Kuliah dan Auditorium Universitas Tridinanti Palembang (UTP), […]

  • Pemprov Sumsel Distribusikan 2.000 Set APD ke Kabupaten/Kota

    Pemprov Sumsel Distribusikan 2.000 Set APD ke Kabupaten/Kota

    • calendar_month Sabtu, 28 Mar 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 732
    • 0Komentar

    PEMPROV. Sumsel mulai akan mendistribusikan alat pelindung diri (APD) ke seluruh Kabupaten/Kota di Sumsel. Untuk pertama diatribusi ini diserahkan secara simbolis sebanyak lima paket dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI yang  kepada Provinsi Sumsel melalui Gubernur Sumsel  H.Herman Deru, Jumat (27/3/2020) siang. Menurutnyabantuan ini sudah sangat ditunggu-tunggu oleh para tenaga medis yang saat ini tengah berjibaku […]

expand_less
WordPress Archive WordPress Banner Ads – AdvertPlaces WordPress Booking Hotel WordPress Cloud Manager | Dropbox – Google Drive – S3 Folder Sharing WordPress Country Selector WordPress Download Manager Pro + Addons WordPress Dynamic Keyword Insertion WordPress Easy Menu Editor WordPress Event Manager, Event Calendar and Booking Plugin WordPress Events Calendar Registration & Tickets WordPress Expire Passwords