Sumselterkini.co.id, – Dulu, batik dipandang seperti baju kondangan simpanan emak-emak di lemari tiga pintu cantik, tapi keluar cuma pas lebaran. Tapi sekarang, batik mulai menggeliat lagi dan bukan cuma karena digoyang setrika.
Di balik pola mega mendung yang menggoda dan motif kawung yang konsisten macam mantan yang susah move on, ada cerita tentang perajin, teknologi, dan perjuangan ekonomi kreatif yang bikin kita tepuk tangan sambil ngelus dompet.
Di Autograph Tower, Thamrin Nine, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya bertemu dengan Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB), dan bukannya ngebahas OOTD, mereka justru mengulik masa depan batik sebagai mesin ekonomi.
Ini bukan obrolan iseng sambil ngopi, tapi langkah konkret dari Kemenparekraf untuk bantu batik naik kelas. Bayangkan, batik kita nanti bukan cuma nampang di pasar minggu, tapi juga bisa nampang di Milan Fashion Week. Syahdu, kan?
Menteri Ekraf bilang mereka siap menjembatani kolaborasi hexahelix, sejenis jurus ninja ekonomi kreatif yang melibatkan pemerintah, swasta, akademisi, lembaga keuangan, komunitas, dan asosiasi.
Kalau ini berhasil, bisa-bisa perajin batik punya lebih banyak pembeli daripada admin fanbase K-Pop. “Kami tak ingin seni tradisi tergeser oleh tren semata,” kata Pak Menteri.
Nah, ini omongan bijak, semacam “Jangan ganti istri tiap ganti musim, yang lama juga bisa dipoles jadi menawan.”
Yang menarik, pengembangan batik Jawa Barat ini nggak asal jalan. Ada fasilitasi Kekayaan Intelektual (KI) juga—bukan “ki” yang bikin kerokan ya, tapi perlindungan hak merek biar karya perajin nggak dijiplak sembarangan. Jadi, bukan cuma batiknya yang nempel di badan, tapi juga nilai ekonominya yang nempel di rekening.
Biaya pendaftaran merek juga dibikin bersahabat Rp 500 ribu buat UMK. Asal punya surat rekomendasi, bisa didaftarin, dan hak ciptanya aman. Ini kayak nyimpen cincin kawin di brankas siapa pun mau ngaku-ngaku, tetap kita yang punya sah secara hukum.
YBJB, yang dipimpin Sendy Ramania Wurandani, udah punya lebih dari 4.000 perajin. Bahkan ada yang udah mainan AI buat desain batik. Bayangkan, canting digital! Tapi teknik tradisional tetap dipertahankan, karena katanya, “AI boleh masuk, tapi aroma malam tetap di hati.”
Di sisi lain, Komarudin Kudiya dari YBJB juga menyoroti keragaman perajin: ada yang masih belajar pegang canting, ada juga yang udah punya showroom online. Ini kayak nonton sinetron: dari pemeran figuran sampai aktor utama, semua dapet tempat.
Deputi Kemenparekraf Yuke Sri Rahayu menyebut batik bisa jadi The New Engine of Growth. Kalau ekonomi Indonesia adalah mobil, batik ini bensinnya. Dan kita tahu, nggak semua bensin punya motif sebagus ini. Contoh suksesnya? Sepatu Aerostreet yang motifnya ngambil dari wastra nasional. Sepatu jalan-jalan, tapi nilai budayanya tetap nempel di setiap langkah.
Kalau kita sering dengar pepatah “bagai pungguk merindukan bulan”, maka saat ini batik Jawa Barat tak perlu merindukan lagi. Ia tinggal dibantu ‘meloncat’ lewat kerja sama, teknologi, dan perlindungan hukum yang tepat. Jangan biarkan batik hanya jadi penghias etalase museum—tapi hidup, bernapas, dan berdetak di tubuh ekonomi bangsa.
Karena batik bukan cuma kain bermotif, tapi juga identitas yang menguntungkan dari canting hingga cuan, dari tradisi hingga transformasi.
Dan ingat, di tengah gempuran budaya pop Korea, kita harus tetap cinta lokal. Kalau oppa bisa nyanyi sambil goyang, perajin batik juga bisa menari bersama pertumbuhan ekonomi asal semua kompak. Karena, seperti kata pepatah Sunda, “moal leungit ku hujan, moal luntur ku panas”. Kebudayaan kuat takkan hilang ditimpa zaman.[***]