MUBA Terkini

Tua Bukan Berarti Tiarap, Ketika Lansia Muba Jadi “Raja & Ratu Panggung”

ist

Sumselterkini.co.id,  – Kalau ada yang bilang lansia itu harus duduk manis di teras sambil melototi burung pipit, berarti dia belum sempat lihat aksi Oma dan Opa Muba di acara “Lansia Bugar dan Sehat” di halaman Rumah Cinta, suasana udah kayak konser dangdut koplo. Bedanya, penontonnya semua beruban, tapi semangatnya meledak kayak kembang api Tahun Baru. Ketua TP PKK Muba, Hj Patimah Toha menghadiri acara itu, jumat akhir pekan lalu.

Ibarat rendang bumbu lengkap nggak cuma sehat jasmani, tapi juga menyentuh batin. Ada senam sehat yang lebih rame dari kelas zumba emak-emak komplek, door prize yang bikin jantung deg-degan (bukan karena kolesterol), dan pemeriksaan kesehatan gratis yang bikin dompet ikut senyum.

“Semangat para lansia ini kayak lampu minyak tanah nggak pernah padam walau angin zaman terus bertiup,” ujar Hj Patimah sambil mengelap keringat dan membagi senyum lebih manis dari madu asli Tanjung Agung.

Tema acara “Lansia Sehat, Muba Kuat” itu bukan sekadar tempelan spanduk. Ini bukti bahwa Muba mulai paham menjaga lansia itu bukan urusan acara seremonial doang. Kita ini hidup di negeri yang suka kasih bunga di pemakaman tapi lupa kasih perhatian pas orangnya masih hidup. Nah, kegiatan macam ini jadi sinyal bagus kalau Muba lagi belajar jadi anak yang tahu diri.

Dari empat kelurahan di Sekayu, para lansia berdatangan dengan semangat yang bisa ngalahin anak muda rebutan tiket konser. Ada yang bawa tongkat, ada yang bawa tupperware buat bekal, tapi semuanya bawa satu hal yang sama senyum dan tawa.

“Ini bukan cuma senam, ini ajang reuni tulang belulang,” celetuk Pak Usman, 67 tahun, yang mengaku senam lebih asyik daripada main catur sendirian di rumah.

Ngomong-ngomong soal lansia, negara-negara lain udah duluan sadar pentingnya urus generasi sepuh. Contohnya Jepang
Negeri Sakura ini punya Respect for the Aged Day alias Hari Hormat Lansia setiap bulan September.

Mereka bukan cuma hormat, tapi juga kasih program pelayanan rumah, pengobatan gratis, sampe diskon sushi. Usia boleh 90, tapi pelayanan tetap level VIP.

Selain itu di Swedia, lansia bisa hidup mandiri karena ada sistem kesejahteraan super solid. Ada pensiun layak, rumah lansia kayak hotel, dan pelayanan medis 24 jam. Pokoknya, tua di Swedia itu kayak liburan panjang.

Di Indonesia seperti Bali,  jangan salah pulau dewata itu punya Posyandu Paripurna khusus lansia di beberapa desa. Selain cek kesehatan, ada yoga, tari tradisional, dan kegiatan rohani. Jadi, nenek-nenek di Bali bisa sehat jasmani-rohani sambil tetap lentur nari Pendet.

Nah, Muba? Baru mulai, tapi udah mengarah ke sana. Tinggal dijaga jangan cuma gebyar pas ada media doang. Orang tua bilang, “semut mati karena gula, manusia bisa layu karena lupa bahagia”.

Oleh sebab itu kegiatan seperti ini pentingnya kayak minyak goreng di dapur nggak ada, bisa kelabakan. Momen seperti ini menunjukkan bahwa usia tua bukan akhir cerita, tapi babak bonus dengan banyak tawa.

Dengan kegiatan bulanan seperti ini, lansia nggak cuma hidup lebih sehat, tapi juga punya alasan buat bangun pagi selain menyiram bonsai.

Kalau anak muda itu ibaratnya harapan bangsa, maka lansia adalah memoar hidup bangsa. Mereka bukan beban, tapi bukti sejarah. Dan seperti kata Ban Ki-moon, mantan Sekjen PBB, “Population ageing is a triumph of development.” [“Menuanya populasi adalah keberhasilan dari pembangunan”].

Kalimat ini menunjukkan bahwa banyaknya orang lanjut usia (lansia) bukanlah beban, melainkan tanda bahwa kesehatan, ekonomi, dan kualitas hidup masyarakat telah meningkat. Artinya, semakin banyak orang bisa hidup lebih lama karena gizi membaik, akses kesehatan membaik, dan kesejahteraan meningkat itu semua hasil pembangunan yang berhasil.

Kutipan mantan sekjen PBB itu sering digunakan  WHO dan lembaga internasional untuk mengajak pemerintah dunia agar tidak menganggap lansia sebagai masalah, tapi sebagai aset sosial yang perlu diberdayakan dan dihormati.

Jadi kalau Muba banyak lansia, itu bukan sinyal buat disuruh istirahat terus, tapi bukti pembangunan Muba udah berhasil, tinggal tambahin senam dan doorprize, lengkap sudah!”. he.he.., karena kalau bangsa menghargai lansia, itu tandanya kita udah lulus jadi negara yang beradab.

Oleh sebab itu tua itu pasti, tapi hidup bermakna dan bahagia itu pilihan. Muba udah mulai ambil langkah, jangan berhenti di senam, teruskan dengan sistem pelayanan yang ramah lansia.

Jangan kasih panggung sesaat, tapi kasih perhatian berkelanjutan, dan terakhir, kata Ibu Hj Patimah, “Selama napas masih ada, semangat harus tetap jaya!”. Nah, kalimat itu bisa dijadikan slogan buat PKK, buat pemerintah, bahkan buat cucu-cucu yang suka lupa ngajak jalan-jalan kakek-neneknya.[***]

Terpopuler

To Top