Minggu, 11 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Infrastruktur & Transportasi » Hujan Turun, Tanah Longsor, Jalan Amblas, Pejabat Datang

Hujan Turun, Tanah Longsor, Jalan Amblas, Pejabat Datang

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Kamis, 20 Mar 2025
  • visibility 1.054
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sumselterkini.co.id, – Hujan turun, tanah longsor, jalan amblas, pejabat datang. Begitu terus polanya, berulang seperti kaset rusak yang diputar tiap musim penghujan. Kali ini, giliran bahu jalan penghubung Musi Rawas dan Musi Banyuasin yang jadi korban. Longsor di Kelurahan Pasar Muara Beliti ini bukan sekadar insiden biasa, tapi bukti nyata bahwa infrastruktur kita masih jauh dari kata kokoh. Apakah harus menunggu bencana datang baru kita panik dan bertindak?, Nah, PR berlanjut !

Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, langsung turun ke lokasi untuk melihat kondisi jalan yang longsor. Beliau mengecek kerusakan, memberi arahan kepada dinas terkait, dan membagikan sembako kepada warga terdampak. Langkah ini tentu baik, tapi bukan itu inti masalahnya. Kenapa kita selalu bergerak setelah musibah terjadi?

Bukankah lebih baik mengantisipasi sejak awal daripada sibuk menambal setelah rusak? Infrastruktur harusnya dibangun kuat sejak awal, bukan jadi proyek musiman yang baru diingat saat bencana datang. Jika sejak awal kualitas pembangunan diperhatikan dengan baik, kejadian seperti ini tidak perlu terjadi berulang kali.

Sayangnya, kasus jalan amblas atau longsor bukan kali pertama terjadi. Sudah sering infrastruktur publik tiba-tiba rusak dan memerlukan perbaikan mendadak. Padahal, anggaran untuk pembangunan dan perawatan jalan sudah ada. Tapi entah kenapa, jalanan tetap saja banyak yang berlubang, amblas, atau longsor ketika diterpa cuaca ekstrem. Apakah ada yang salah dalam pengawasan? Apakah perencanaannya kurang matang? Atau ada faktor lain yang menyebabkan infrastruktur kita seperti barang sekali pakai?

Rombongan pejabat setempat juga sudah turun tangan. Dari Bupati Musi Rawas Hj. Ratna Machmud hingga Kepala Dinas PU, semua berkumpul dan mengimbau warga untuk waspada. Tapi, rakyat butuh lebih dari sekadar imbauan. Masyarakat butuh jalan yang aman, kuat, dan nggak bikin deg-degan setiap musim hujan tiba. Rakyat juga butuh jaminan bahwa anggaran infrastruktur benar-benar dialokasikan untuk membangun jalan yang berkualitas, bukan sekadar proyek yang gampang rusak dalam hitungan bulan.

Langkah cepat yang diambil gubernur patut diapresiasi, tapi pertanyaannya, kenapa kita selalu gercep setelah bencana terjadi? Seandainya perencanaan infrastruktur kita lebih visioner dan tidak sekadar tambal sulam, mungkin kejadian seperti ini bisa dihindari.

Jalan utama yang jadi urat nadi masyarakat tak seharusnya menunggu longsor dulu baru diperhatikan. Perawatan rutin dan pengawasan kualitas pembangunan harus menjadi prioritas, bukan hanya seremoni peresmian. Pembangunan infrastruktur seharusnya tidak sekadar formalitas yang selesai dalam satu periode jabatan, tetapi investasi jangka panjang untuk kepentingan masyarakat.

Syukurnya, masih ada jalur alternatif Semambang-Cecar dan Semangus-Pali, yang baru saja diresmikan jembatannya. Setidaknya, ada jalan lain bagi masyarakat yang ingin bepergian tanpa harus menerjang risiko di jalur longsor. Tapi tetap saja, ini bukan solusi permanen. Jalur utama tetap harus diperbaiki dan diperkuat agar masyarakat tidak selalu dipaksa mencari jalan lain setiap kali ada musibah.

Selain infrastruktur, faktor lingkungan juga harus diperhatikan. Tanah longsor bukan hanya akibat curah hujan tinggi, tetapi juga bisa disebabkan oleh penggundulan hutan dan pembangunan yang tidak memperhitungkan dampak lingkungan. Pemerintah daerah dan pusat harus bekerja sama dalam menjaga ekosistem agar kejadian serupa tidak terus berulang. Jika setiap tahun kita menghadapi masalah yang sama, artinya ada yang tidak beres dalam cara kita mengelola pembangunan.

Pada akhirnya, rakyat berharap aksi ini bukan cuma sekadar blusukan pencitraan, tapi benar-benar jadi awal perubahan sistemik. Jangan sampai kejadian serupa terus terulang tanpa perbaikan yang benar-benar nyata. Infrastruktur bukan cuma soal aspal dan beton, tapi juga soal keberlanjutan, keselamatan, dan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah harus belajar dari kejadian ini dan mengubah pendekatan dalam membangun infrastruktur—bukan sekadar memperbaiki setelah rusak, tetapi membangun sejak awal dengan kualitas terbaik.

Mari  keluar dari siklus panik-reparasi-lupa ini, dan bangun infrastruktur yang tahan lama, bukan sekadar tambal sulam. Karena kalau cuma datang setelah longsor terjadi, ya… sama aja kayak kita baru beli payung setelah kebasahan! Atau lebih parah, beli payung, tapi bocor!, semoga jadi pertimbangan! [***]

 

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tips Agar Anak Mau Makan

    Tips Agar Anak Mau Makan

    • calendar_month Selasa, 27 Feb 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.170
    • 0Komentar

    Tentu saja berpengaruh pada pola makannya.

  • Tanam Bibit Pohon Ketapang di Pesisir ‘Bumi Minangkabau’, Doni : “Titip ini ya, Pak,”

    Tanam Bibit Pohon Ketapang di Pesisir ‘Bumi Minangkabau’, Doni : “Titip ini ya, Pak,”

    • calendar_month Rabu, 14 Apr 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.075
    • 0Komentar

    KEPALA Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr.(H.C.) Doni Monardo hadir di Pantai Kata, Desa Taluk, Kota Pariaman, Sumatera Barat, saat senja tiba sebelum berbuka puasa pada Rabu (14/4/2021). Kehadirannya itu tentu bukan untuk sekadar ngabuburit sembari menikmati pesona terbenamnya matahari di Samudera Hindia. Doni secara khusus datang ke wilayah pesisir ‘Bumi Minangkabau’ itu tak lain untuk […]

  • ‘Umpak-umpakan,’ Sebuah Tradisi Disaat Idul Fitri Yang Nyaris Lenyap Terdampak COVID-19

    ‘Umpak-umpakan,’ Sebuah Tradisi Disaat Idul Fitri Yang Nyaris Lenyap Terdampak COVID-19

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 3.168
    • 0Komentar

    MERAYAKAN hari kemanangan pada Lebaran Idul Fitri 1441 Hijriah yang jatuh pada minggu [24/5/2020] di perkampungan sangat terasa meriah. Namun, Lebaran Idul Fitri kali ini, sangat berbeda dari lebaran tahun-tahun sebelumnya. Dampak Covid-19 memang sangat dasyat. Selain menganggu sektor perekonomian, dan lainnya.  Wabah COVID-19 juga telah merusak tatanan dan tradisi masyarakat, terutama dalam berintraksi sosial […]

  • Masyarakat Harus Waspada dengan Penyakit NTDs, Apa Itu ?

    Masyarakat Harus Waspada dengan Penyakit NTDs, Apa Itu ?

    • calendar_month Selasa, 31 Jan 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 893
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, Jakarta – Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebut ada 20 penyakit yang termasuk Penyakit Tropis yang Terabaikan atau Neglected Tropical Diseases (NTDs) NDTs. Namun di Indonesia ada sejumlah penyakit NDTs yang diprioritaskan antara lain filariasis, cacingan, schistosomiasis, kusta, dan frambusia.   NTDs adalah Penyakit yang disebabkan oleh berbagai patogen, termasuk virus, bakteri, protozoa, dan cacing […]

  • Buka Posko Pengaduan, Kemenaker Beri Sanksi Perusahaan Tidak Bayar THR

    Buka Posko Pengaduan, Kemenaker Beri Sanksi Perusahaan Tidak Bayar THR

    • calendar_month Minggu, 10 Apr 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 640
    • 0Komentar

    KEMENTERIAN Ketenagakerjaan (Kemnaker) mengingatkan sejumlah pengusaha untuk memberikan Tunjangan Hari Raya (THR) kepada pekerja/buruh sesuai Surat Edaran (SE) Nomor M/1/HK.04/IV/2022 tanggal 6 April 2022 tentang Pelaksanaan Pemberian THR Keagamaan Tahun 2022 Bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan dan pihaknya akan memberikan sanksi. Dirjen Binwasnaker dan K3 Kemnaket, Haiyani Rumondang, mengatakan bahwa Pemberian THR Keagamaan merupakan kewajiban pengusaha […]

  • Kolaborasi 14 Lembaga Keuagan dengan Dukcapil, Ini Tujuannya 

    Kolaborasi 14 Lembaga Keuagan dengan Dukcapil, Ini Tujuannya 

    • calendar_month Sabtu, 28 Sep 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.800
    • 0Komentar

    DIREKTORAT Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menggandeng 14 Lembaga Keuangan guna peningkatan layanan kepada nasabah. 14 Lembaga keuangan tersebut melakukan penandatanganan kerja sama dengan Direktorat Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil). Kerja sama ini dilakukan untuk akses pemanfaatan Nomor induk kependudukan (NIK), data kependudukan, dan KTP elektronik (KTP-el). Penandatanganan kerja sama dilakukan oleh perwakilan pemimpin perusahaan […]

expand_less
WordPress Archive Guru | Learning Management WordPress Gustablo | Restaurant & Cafe Responsive WordPress Gustavo | Mexican Grill, Bar & Restaurant WordPress Theme Gute – Minimalist Blog Elementor Template Kit Gutenberg Clipboard – clipboard for Block Editor blocks GutenSearch – Amazon Affiliates Products Search and Embed Gutentype 100% Gutenberg WordPress Theme for Modern Blog Gwen – Blog & Magazine Elementor Template Kit Gwen - Creative Personal WordPress Blog Theme Gxber – Creative Agency WordPress Theme