Jumat, 9 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Seni & Budaya » Inspirasi Bagi Pemuda : Keharusan Mencintai Ilmu ala Imam Khomeini

Inspirasi Bagi Pemuda : Keharusan Mencintai Ilmu ala Imam Khomeini

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Kamis, 5 Apr 2018
  • visibility 3.763
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

OLEH : Arafah Pramasto,S.Pd

(Penulis Buku Kesejarahan dan History Blogger Palembang)

 

PARA orang tua mempunyai kewajiban dalam mengasuh anak-anaknya dengan tujuan jelas sebagai kader bangsa yang cinta agama dan cinta negara. Seperti di dalam keluarga maka dalam bernegara pun pemerintah memegang kewajiban penuh untuk melestarikan semangat cinta tanah air yang tak boleh padam. Keberlangsungan hidup bernegara merupakan kesatuan seimbang lintas generasi di saat yang tua memberi pedoman dan yang muda mengambil langkah dan mencipta perubahan. Dalam tulisan ini akan diungkap beberapa tokoh revolusioner dari Timur Tengah yang bisa dijadikan role model dalam membangun semangat cinta tanah air. Kenapa harus diungkap juga tokoh-tokoh dari luar bangsa ini ? Jawabannya ialah karena sekarang kita berada di zaman globalisasi dan harus bisa menerima berbagai teladan dengan melakukan filtrasi selektif untuk meraih kemajuan peradaban Indonesia. Banyak sekali pemberitaan tentang wilayah Timur Tengah yang hanya disajikan dengan penuh tendensi kebencian antar-madzhab oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab Mengunduh makna dari karakter dan perjuangan dari para tokoh revolusioner tersebut bertujuan mewujudkan pemuda cinta tanah air 100% tanpa menutup diri dari dunia luar. Langkah-langkah yang mesti diambil yaitu mengetahui karakter dan kisah lahirnya pribadi para tokoh terkait dan bagaimana sebenarnya pola didikan yang mereka dapat sehingga memiliki jiwa kuat.

Ilmu ialah penggerak utama manusia untuk bertindak dan menjadi segala alasan serta landasan sebagai bahan prediksi di masa depan. Pentingnya ilmu pengetahuan itu sampai-sampai dalam HR Ibnu Majah diriwayatkan kewajiban setiap Muslim untuk mencari ilmu. Sayyidina Umar RA, salah satu manusia terbaik dan sahabat setia Nabiullah Saw mengatakan dalam sebuah riwayat : “Sungguh hampir-hampir terurai satu persatu ikatan Islam apabila tumbuh dari umat Islam ini generasi yang tidak memahami jahiliyyah.” [1] Keharusan menuntut ilmu pengetahuan adalah pembeda manusia yang telah menjadi Muslim dengan manusia Jahiliyyah. Ini juga harus diterapkan kepada para pemuda Indonesia. Di saat ini sering kita mendengar istilah “revolusi mental” yang mengedepankan kejujuran dan kesederhanaan. Revolusi mental ini harus dilengkapi dengan pengetahuan yang tinggi, karena kita tidak bisa membenarkan adanya kejujuran namun malah menjerumuskan kita menjadi korban penipuan dan kesederhanaan yang tidak bijak malah menimbulkan tidak efisiennya pemerintahan. Tokoh-tokoh revolusioner dunia dibentuk karakternya dengan kecintaan pada ilmu pengetahuan sebagai dasar dari pribadinya.

Ayatollah Ruhullah Khomeini (Lahir 1902) yang dikenal sebagai Rahbar atau pemimpin tertinggi Revolusi Islam Iran bisa diambil menjadi contoh tentang pemimpin yang mengutamakan ilmu pengetahuan. Di tahun 1920-1921, Said Morteza (kakak Ayatollah Khomeini) mengirimkan adiknya itu ke Arak (sekarang Sultanabad), wilayah yang tak jauh dari Khomein (kota kelahiran Ayatollah Khomeini), dengan maksud agar Khomeini memperoleh pendidikan yang lebih baik dengan fasilitas yang lebih memadai. Maka Ayatollah Ruhullah tidak menyia-nyiakan apa yang diusahakan kakanya itu (apalagi ia lahir tanpa sosok ayah dan kakaknya yang menanggung pendidikannya) dan langsung berguru kepada beberapa tokoh yang kelak membentuk pandangannya religiusnya seperti Akhund Molla Abolqasem, Mirza Mehdi Da’i, dan Aqa Najafi. Saat ia pindah ke kota Qom, ia berhuru kepada Ayatullah Abdul Karim Hairi-ye Zahdi untuk menyelesaikan studi Hukum Islam, Etika Islam, dan Filsafat Keagamaan dan bergabung dengan seminari Feyzieh yang didirikan gurunya itu. Ayatollah Khomeini memperluas pengetahuannya di bidang fiqh Islam, Ushul Islam dan ‘Irfan atau mistisisme Islam seperti yang ia pelajari dari Mirza Ali Akbar Yazdi dan dua guru lainnya seperti Javad Aqa Maleki Tabrizi dan Rafi’i Qazvini. Pada 1937 ia menjadi asisten khusus Ayatollah Seyyed Husayn Boroujerdi, sebagai ulama yang paling berpengaruh di Qom, Iran. [2]

Dahulu jauh sebelum kelahiran Ayatollah Khomeini para pemikir Islam sudah mencontohkan tentang keharusan mencintai ilmu sejak masa muda. Ibn Sina adalah contoh lainnya. Sejak berumur 10 tahun ia berhasil menguasai ilmu Al-Quran dan menghafal banyak bait-bait syair. Setelah itu dia mempelajari ilmu logika dari Abu Abdullah an-Na’ili. Ibnu Sina memulai karirnya sebagai dokter sejak berumur 16 tahun disamping terus mendalami pemikiran Aristoteles dan Al-Farabi. [3] Begitu juga halnya dengan Ibn ‘Arabi yang dikenal sebagai Syaikhul Akbar Tasawuf di masa mudanya yang pernah bergabung degan tentara Andalusia disamping ia tetap mempelajari Ilmu Tasawuf. [4] Kedua tokoh ini termasuk tokoh revolusioner, Ibn Sina dikenal sebagai bapak kedokteran Islam dan filsafat peripatetik, serta Ibn Arabi adalah pembawa nilai pluralisme Islam melalui Tasawufnya. Masa muda merupakan rentang periodik satu individu untuk memulai penanaman atas keberhasilannya kelak dan pilihannya ialah kepada penentuan diri menuju bidang keahlian atau sebatas bermain-main saja.

Tidaklah mengherankan kalau nantinya Ayatollah Ruhullah Khomeini terkenal dengan kesuksesannya menggulingkan pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlevi yang despotik dan didukung oleh negara-negara Barat. Ia  bukan saja inspirasi bagi Iran tapi juga bagi dunia. ia membuktikan loyalitasnya kepada Iran yang dirongrong oleh gangguan Barat. Saat Revolusi Islam 1979 berhasil diwujudkan dan menciptakan negara Iran dalam aturan Islam, gangguan-gannguan lain seperti Invasi Irak dan pengkhianatan MEK (Mojaheedin E-Khalq) dan Partai Tudeh yang beraliran komunis juga ia gagalkan. Sebagaimana mengutip Conger dan Kanungo, Bakhtiar dkk. mengemukakan mengenai salah satu karakteristik pemimpin kharismatik adalah adalah memilki komitmen yang kuat pada tujuan, tegas, dan percaya pada kemampuan diri. [5] Komitmen yang kuat dalam menuntut ilmu sejak muda itu membawa sosok Ayatollah Khomeini menjadi pejuang yang rela diasingkan berkali-kali dan konsekuen melawan pemerintahan diktator Shah, Ibn Sina juga memiliki sikap yang kuat dalam mengembangkan keilmuan Islam dalam bidang kedokteran dan filsafat sekalipun nantinya ia dihasut oleh pejabat-pejabat yang iri dengannya sehingga sempat dipenjarakan. Ibn Arabi hidup di masa kejayaan Andalusia sedang terancam oleh kebangkitan kekuatan Katholik yang ingin meruntuhkan peradaban tinggi Islam dan Ibn Arabi tetap konsisten dalam jalan Tasawuf yang penuh cinta.

Orang tua adalah element terbesar yang paling menentukan dalam memberi arahan dan perningatan kepada para pemuda. Untuk bisa mewujudkannya marilah kita melihat sosok ulama lainnya yang bernama Ayatollah Al-Uzhma Mirza Mahdi Syirazi, seorang ulama besar Karbala yang mengeluarkan fatwa jihad dan menggerakkan Ahlus Sunnah maupun Syiah Irak untuk melawan Inggris pada 1920. [6] Selaku seorang ulama di negerinya itu (dalam konteks  masyarakat) Ayatollah Mahdi Shirazi benar-benar memperhatikan pendidikan putranya (dalam konteks pribadi seorang ayah). Meskipun Ayatollah Mahdi Syirazi adalah orang besar tetapi dirinya tidak mau apabila kelak anaknya hanya mengambil manfaat dari kebesaran namanya. Sehingga putranya yang bernama Ayatollah al-Uzhma Imam Muhammad Syirazi (lahir tahun 1927) mempunyai keinginan belajar yang kuat serta komitmen yang yang tidak pernah terputus untuk meniti karir sebagai ulama. Pada usia 25 tahun, Ayatollah Muhammad Syirazi dianggap berhak menjadi mojtahed (ulama yang benar-benar kompeten dalam ilmu hukum dan yurisprudensi Islam) dan menjadi marji’ (ulama pemegang otoritas keagamaan) pada usia muda yakni 33 tahun. Tidak mengherankan jika Ayatollah Muhammad Syirazi terkenal sebagai penulis banyak tema kajian yang dianggap sebagai referensi yang paling baik dalam ilmu Islam yang berkaitan dengan teologi, akidah, akhlak, politik, ekonomi, sosiologi, hukum dan HAM. Karyanya berupa buku dan artikel itu memperkaya khazanah Islam dengan lebih dari 1000 buah. [7]

Inspirasi dari para ulama seperti Imam Khomeini ataupun Syirazi itu tergambar dalam sosok Mahmoud Ahmadinejad, presiden Iran ke-6 yang diangkat pada tahun 2005. Keberaniannya menentang dunia Barat di masa pemerintahannya bukanlah kejadian yang “instan”. Pada 1980, Ahmadinejad merupakan ketua perwakilan IUST (Iran University of Science and Technology) untuk perkumpulan mahasiswa se-Iran. Di masa-masa awal Revolusi Islam Iran, ia dan mahasiswa lain dalam organisasi Persaudaraan Islam sering berselisih dengan mahasiswa sayap kiri di kampus mereka yakni Elm-o-Sanat.[8] “Dialektika Materialisme” yang diagungkan oleh kaum Komunis tentang perkembangan materi sebagai tolak ukur telah mengingkari keberadaan ruh dan Allah. [9] Tidak perlu dipertanyakan apa yang melatarbelakangi tokoh seperti Mahmoud Ahmadinejad di masa mudanya bertentangan dengan para pengikut Marxisme karena ia terkenal dengan kesederhanaan dan keislamannya. Dengan mendalami nilai Islam itu juga Ahmadinejad mengambil keputusan tegas untuk bergabung dengan Korps Pengawal Revolusi Islam, tepatnya pada tahun 1986 saat terjadi Perang Irak-Iran. Ahmadinejad kemudian diangkat menjadi insinyur kepala pasukan keenam Korps dan kepala staf Korps di sebelah barat Iran. [10] Mantan Presiden Iran ini mampu menjadi teladan kepada para pemuda untuk tetap memperhatikan pendidikan serta siap sedia untuk dipanggil oleh negara dan memiliki komitmen kuat dalam pengabdian yang merakyat.

 

*) Artikel ini adalah tanggung jawab penulis sepenuhnya. Jika ada kritik dan saran, silahkan mengirim surat elektronik ke ggsejarah@gmail.com

Catatan Kaki :

  1. 2014. “ Mengenal Kejahiliyahan di Sekitar Kita”. Buletin At-Taqwa Edisi 63..
  2. Fauziana, Diyah Rahma, Izzudin Irsam Mujib, 2009, Khomeini dan Revolusi Iran, Yogyakarta : Narasi. Hlm. 11-13.
  3. Haddad, Khalid, 2009, 12 Tokoh Pengubah Dunia, Jakarta : Gema Insani. Hlm. 16.
  4. Almirzanah, Syafaatun, 2009, Whan Mystic Masters Meet, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. Hlm. 15.
  5. Bakhtiar dkk., 2000, Latihan Kepemimpinan Islam Tingkat Dasar Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta : UII Press. Hlm. 74.
  6. Tim, 2012, Buku Putih Madzhab Syiah, Jakarta : Dewan Pengurus Pusat Ahlul Bait Indonesia. Hlm. 65.
  7. Syirazi, Imam Muhammad, 2004, Islam Melindungi Hak-Hak Tahanan, Jakarta : Pustaka Zahra. Hlm. 129-130.
  8. Naji, Kasra, 2009, Ahmadinejad Kisah Rahasia Sang Pemimpin Radikal Iran, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.Hlm. 29.
  9. An-Nabhani, Taqiyuddin, 2001, Peraturan Hidup dalam Islam, Bogor : 2003. Hlm. 55.
  10. Krisnamurti, Affan, 2014, Berguru Sukses Menjadi Pemimpin Kharsimatis & Fenomenal, Yogyakarta : Araska. Hlm. 110.

 

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Menang Telak 3-0, Antarkan Muba Bebel United  Dipuncak Klasmen Sementara Liga 2

    Menang Telak 3-0, Antarkan Muba Bebel United  Dipuncak Klasmen Sementara Liga 2

    • calendar_month Minggu, 15 Mar 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.212
    • 0Komentar

    BERMAIN impresif sejak menit awal dipertandingan perdana,   Muba Babel United berhasil mengamankan poin penuh saat menjamu tamunya Persekat Tegal, di stadion Serasan Sekate, minggu  [15/3/2020]. Kemenangan menyakinkan dengan skor telak 3-0 juga membawa Laskar Ranggonang menjadi pemuncak klasemen sementara Liga 2 2020 bersama PSPS Riau yang juga meraih kemenangan dengan skor serupa. Gol bagi tim […]

  • Kebakaran Kebun Sawit Muba Berujung Perkara, Mahasiswa 23 Tahun Jadi Tersangka

    Kebakaran Kebun Sawit Muba Berujung Perkara, Mahasiswa 23 Tahun Jadi Tersangka

    • calendar_month Senin, 24 Agt 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 32
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID – Kebakaran lahan kebun kelapa sawit di Desa Sridamai, Kabupaten Musi Banyuasin, berujung pada proses hukum. Seorang mahasiswa berinisial AS (23) ditetapkan sebagai tersangka setelah polisi menemukan dugaan kelalaian yang berkaitan dengan aktivitas pembakaran di sekitar lokasi. Peristiwa itu terjadi Kamis, 20 Agustus 2026, sekitar pukul 11.30 WIB. Api muncul ketika kondisi lahan cukup […]

  • “Dari Tabrakan Jadi Berkah, Lalan Siap Punya Jembatan Ganteng!”

    “Dari Tabrakan Jadi Berkah, Lalan Siap Punya Jembatan Ganteng!”

    • calendar_month Jumat, 24 Okt 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.730
    • 0Komentar

    HIDUP itu seperti panggung sandiwara, bahkan lagi ngetren-nya FTV, jadi juga bisa dibilang seperti sinetron, Nah, inilah nasib Jembatan P6 Lalan, Kabupaten Musi Banyuasin [Muba], Sumatera Selatan yang saat ini udah masuk babak ke-37, hahaha ..”Dari Ambruk ke Bangkit Lagi”, mungkin itu judul yang paling pasnya. Tapi tenang dulu, kali ini bukan drama yang sedih […]

  • PMI di Malaysia, 1.500 WNI Kini Dapat Kepastian Kewarganegaraan, Ada Apa Sebelumnya?

    PMI di Malaysia, 1.500 WNI Kini Dapat Kepastian Kewarganegaraan, Ada Apa Sebelumnya?

    • calendar_month Sabtu, 5 Sep 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 28
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID – Sebanyak 1.500 WNI, termasuk Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Malaysia, kini mendapat kepastian status kewarganegaraan Republik Indonesia setelah menjalani pendataan, verifikasi, dan asesmen pemerintah. Pekerja Migran Indonesia (PMI), persoalan di negeri jiran tidak berhenti pada pekerjaan, upah, atau dokumen kerja. Ada persoalan lain yang tak kalah penting, kepastian sebagai warga negara Indonesia. Hal […]

  • Sero Survei : 86,6 % Populasi di RI Telah Miliki Antibodi SARS-COV2

    Sero Survei : 86,6 % Populasi di RI Telah Miliki Antibodi SARS-COV2

    • calendar_month Kamis, 6 Jan 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 699
    • 0Komentar

    JURU Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof. Wiku Adisasmito menyampaikan bahwa mayoritas penduduk di Indonesia 86,6% populasi telah memiliki antibodi SARS-COV2. Antibodi ini baik yang disebabkan terinfeksi sebelumnya atau yang dikarenakan vaksinasi COVID-19. Data ini dijelaskannya berdasarkan hasil sero survei yang dilakukan pada sebagian wilayah yaitu 100 kabupaten/kota baik pada wilayah aglomerasi maupun non aglomerasi sepanjang […]

  • Festival Anjungan, Upaya Dekranasda Lestarikan dan Promosikan Budaya Sumsel   

    Festival Anjungan, Upaya Dekranasda Lestarikan dan Promosikan Budaya Sumsel   

    • calendar_month Sabtu, 25 Jun 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 4.000
    • 0Komentar

    DEKRANASDA Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) di bawah komando Hj Febrita Lustia HD atau lebih akrab disapa Feby Deru tak berhenti melakukan terobosan. Paling baru, untuk melestarikan sekaligus mempromosikan budaya Sumsel, Dekranasda secara perdana menggelar Festival Anjungan Sumsel 2022. Festival yang digelar mulai 23-24 Juni ini berlokasi di kawasan Dekranasda Jakabaring  tersebut diikuti hampir seluruh Kabupaten/kota […]

expand_less
WordPress Archive Careera – Recruitment Agency Elementor Template Kit Careerfy – Job Board WordPress Theme Careerster CV Resume Elementor Template Kit CareerUp - Job Board WordPress Theme Carenow – Medical & Dentist Elementor Template Kit Careo – Elderly & Senior Care Elementor Template Kit Careox – Non Profit Charity WordPress Theme CarePress – Pet Care & Veterinary Elementor Template Kit CarForYou- Automotive Car Dealer WordPress Theme Cargel – Logistic Cargo Elementor Template Kit