Ratu Dewa Titip 3 Pesan Khusus untuk Ponpes Mahad Robbani
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 37 menit yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto :ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
WALI Kota Palembang Ratu Dewa menitipkan tiga pesan khusus kepada Pondok Pesantren Mahad Robbani Palembang, yakni edukasi bahaya penyalahgunaan narkoba, perhatian terhadap isu LGBT, serta pemberantasan buta aksara Al-Qur’an. Ia berharap pesantren dapat mengambil peran lebih luas dalam membina generasi muda melalui pendidikan agama dan dakwah yang menyentuh persoalan sosial masyarakat.
Dua tumpeng berwarna kuning tersaji di atas nampan, menjadi bagian dari suasana perayaan Milad ke-4 Pondok Pesantren Mahad Robbani Palembang. Di belakangnya, sebuah spanduk membentang sebagai latar panggung dengan tulisan “Robbani Fest se-Kota Palembang”.
Terlihat juga disisi kiri dan kanan, balon berwarna putih, biru tua, dan biru muda menghiasi area panggung, berpadu dengan rangkaian bunga plastik yang menambah semarak dekorasi. Karpet hijau sebagai alas terlihat dipanggung sederhana itu. Gambar Jembatan Ampera yang menjulang kokoh turut menghiasi spanduk tersebut, menghadirkan ikon kebanggaan Kota Palembang di tengah perayaan pesantren.
Di tengah latar sederhana itu, Ratu Dewa tampak mengenakan pakaian putih dengan kain selempang. Senyum ramah terlihat saat ia disambut pimpinan pesantren. Setelah bersalaman, ia diajak berfoto bersama. Momen tersebut menjadi bagian dari rangkaian kehadirannya dalam perayaan milad pesantren yang berlokasi di Jalan Pipa Reja, Kelurahan Suka Mulya, Kecamatan Sematang Borang, pada Rabu (21/10/2026).
Perayaan milad bukan hanya penanda bertambahnya usia sebuah lembaga pendidikan. Bagi pesantren, momen itu seperti ini juga dapat menjadi ruang untuk meneguhkan kembali peran pendidikan agama di tengah kehidupan masyarakat. Harapan itulah yang mengemuka dalam pesan Ratu Dewa kepada Mahad Robbani.
Ia berharap Mahad Robbani dapat menjadi inspirasi bagi pondok pesantren lainnya di Kota Palembang. Bukan hanya dalam menjalankan pendidikan keagamaan, tetapi juga dalam memperluas kegiatan syiar Islam serta menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Pesantren diharapkan mampu mengambil bagian dalam membangun masyarakat yang lebih peduli terhadap tantangan sosial, terutama yang berhubungan dengan pembinaan generasi muda.
Pembinaan Generasi Muda
Salah satu perhatian yang dititipkan ialah bahaya penyalahgunaan narkoba. Persoalan ini membutuhkan kepedulian bersama, karena dampaknya tidak hanya menyentuh kesehatan seseorang, tetapi juga dapat memengaruhi kehidupan keluarga, pendidikan, dan lingkungan pergaulan.
Edukasi menjadi salah satu langkah penting untuk membangun pemahaman sejak dini. Generasi muda perlu mendapatkan informasi yang benar mengenai risiko narkoba, sekaligus penguatan karakter agar mampu menghadapi tekanan lingkungan dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Dalam hal ini, pendidikan agama dapat berjalan berdampingan dengan pengetahuan yang tepat serta dukungan keluarga dan masyarakat. Pesan kedua yang disorot Ratu Dewa berkaitan dengan isu LGBT. Perhatian terhadap persoalan ini perlu disampaikan melalui pendidikan dan pembinaan yang tepat, dengan mempertimbangkan usia, pemahaman, serta kebutuhan peserta didik.
LGBT merupakan istilah yang mencakup lesbian, gay, biseksual, dan transgender. Lesbian, gay, dan biseksual berkaitan dengan orientasi seksual, sedangkan transgender berkaitan dengan identitas gender. Pemahaman terhadap istilah tersebut penting agar pembahasan tidak mencampuradukkan konsep yang berbeda.
Dalam lingkungan pendidikan, pesantren dapat menjalankan pembinaan agama dan akhlak dengan penjelasan yang akurat, dialog yang sesuai usia, serta pendekatan yang menghormati martabat setiap orang. Dengan begitu, pendidikan nilai dapat diberikan secara bertanggung jawab, tanpa menjadikan identitas seseorang sebagai alasan untuk merendahkan atau melakukan perlakuan diskriminatif.
Pesan berikutnya menyangkut pemberantasan buta aksara Al-Qur’an. Kemampuan membaca kitab suci merupakan bagian penting dalam pembelajaran agama bagi umat Islam. Namun, kesempatan untuk belajar tidak selalu dimiliki setiap orang dengan kondisi dan kemampuan yang sama.
Oleh sebab itu, pembelajaran membaca Al-Qur’an yang terbuka dan pendampingan berkelanjutan dapat menjadi salah satu bentuk pengabdian pesantren kepada masyarakat. Upaya tersebut bukan hanya membantu warga yang belum lancar membaca, tetapi juga membuka kesempatan bagi mereka untuk terus belajar sesuai kemampuan masing-masing.
Ketiga pesan itu memperlihatkan luasnya ruang pengabdian yang dapat dijalankan lembaga pendidikan keagamaan. Dakwah tidak harus berhenti pada ceramah atau kegiatan di lingkungan pesantren. Nilai-nilai yang diajarkan juga dapat diterapkan melalui pendidikan, pendampingan, serta kepedulian terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat sehari-hari.
Ratu Dewa berharap kegiatan syiar dan dakwah Islam di Mahad Robbani terus digalakkan. Harapan tersebut sekaligus menjadi dorongan agar pesantren terus memperkuat perannya dalam pendidikan agama dan pembinaan generasi muda.
Milad ke-4 Mahad Robbani pun menjadi momen untuk melihat kembali kontribusi yang dapat diberikan pesantren bagi masyarakat Palembang.
Di balik dekorasi panggung, balon warna-warni, bunga plastik, dan dua tumpeng yang menandai perayaan, terdapat harapan agar pendidikan agama terus memberi manfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan yang dititipkan Ratu Dewa menegaskan peran pesantren tidak hanya berkaitan dengan kegiatan belajar di dalam lingkungan pendidikan. Pesantren juga memiliki kesempatan untuk menumbuhkan kepedulian sosial, memperluas dakwah, dan ikut membangun generasi muda yang berpengetahuan serta berkarakter. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
