Limbah Aren Diolah Jadi Plester Jerawat, Ini Inovasinya
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 1 menit yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : brin.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BATANG pohon aren yang selama ini belum banyak dimanfaatkan ternyata menyimpan potensi untuk dikembangkan menjadi material bernilai tinggi. Melalui riset berbasis biomassa, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan hidrogel dari pati aren yang salah satu pemanfaatannya ditujukan untuk pembuatan plester jerawat.
Inovasi ini menawarkan cara baru dalam memanfaatkan sumber daya lokal. Bagian dalam batang aren atau empulur mengandung pati, amilosa, dan polisakarida yang dapat diolah menjadi material dengan beragam fungsi. Selain berpotensi menjadi bahan baku produk perawatan kulit, pemanfaatannya juga membuka peluang untuk mengembangkan teknologi ramah lingkungan.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Witta Kartika Restu, menjelaskan bahwa pati aren memiliki sejumlah keunggulan untuk dikembangkan sebagai bahan hidrogel. Bahan ini berasal dari biomassa yang tidak harus bersaing dengan komoditas pangan utama dan berpotensi menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih besar.
Hidrogel Aren Tak Hanya untuk Perawatan Kulit
Hidrogel merupakan material yang mampu menyerap dan menahan cairan melalui struktur jaringannya. Karakteristik tersebut menjadi salah satu alasan material ini diteliti untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pengolahan air hingga aplikasi di bidang pertanian dan biomedis.
Dalam pengolahan air, hidrogel berbasis pati aren dikembangkan untuk membantu menyerap zat warna dari limbah industri tekstil, termasuk metilen biru. Struktur porinya berperan dalam menangkap polutan sehingga kejernihan larutan dapat meningkat.
Di bidang pertanian, material serupa juga diteliti sebagai pembawa bahan aktif herbisida. Hidrogel dirancang untuk menampung senyawa tertentu dan membantu mengatur pelepasannya ketika diaplikasikan pada gulma, termasuk tanaman putri malu (Mimosa pudica).
Ragam pemanfaatan tersebut memperlihatkan bahwa pati aren tidak hanya berpotensi menjadi bahan baku sederhana, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi material fungsional melalui rekayasa kimia.
Dikembangkan Menjadi Plester Jerawat
Salah satu aplikasi yang menarik perhatian adalah pemanfaatan hidrogel pati aren sebagai bahan plester jerawat (acne patch). Dalam pengembangannya, material ini dipadukan dengan bahan aktif asam salisilat dan minyak pohon teh (tea tree oil).
Plester dirancang agar praktis digunakan pada kulit wajah. Hidrogel diharapkan dapat menyerap cairan atau eksudat dari jerawat, sekaligus menjadi media untuk menampung dan melepaskan senyawa aktif.
Bentuknya yang bening juga menjadi pertimbangan karena pengguna dapat mengenakannya tanpa terlalu mengganggu penampilan. Meski demikian, efektivitas dan keamanan produk tetap perlu dinilai berdasarkan pengujian yang sesuai sebelum digunakan sebagai dasar klaim manfaat bagi konsumen.
Untuk membantu pembentukan struktur hidrogel, tim peneliti menggunakan asam sitrat sebagai zat pengikat silang. Pemilihan bahan ini berkaitan dengan upaya mengembangkan material yang sesuai untuk aplikasi yang bersentuhan langsung dengan kulit.
Peluang Produk Lokal Berbasis Biomassa
Pengembangan hidrogel dari batang aren menunjukkan bahwa limbah biomassa masih memiliki peluang ekonomi yang dapat digali melalui penelitian. Bahan yang sebelumnya kurang dimanfaatkan dapat diarahkan menjadi material dengan fungsi khusus dan nilai tambah lebih tinggi.
Inovasi ini juga berpotensi membuka ruang bagi industri dalam negeri untuk mengembangkan produk perawatan kulit berbasis bahan lokal. Dalam keterangannya, Witta menyampaikan harapan agar hasil penelitian tersebut dapat dikembangkan bersama mitra industri sehingga berpeluang diproduksi dalam skala lebih besar.
Hidrogel pati aren untuk plester jerawat dilaporkan telah memperoleh paten. Tahap berikutnya adalah mendorong pengembangan dan pemanfaatan hasil riset agar inovasi tersebut dapat menjangkau pasar yang lebih luas.
Jika pengembangan industri berjalan baik, pemanfaatan batang aren tidak hanya berhenti pada produk konvensional. Biomassa lokal ini berpeluang menjadi bagian dari pengembangan material modern yang menghubungkan riset, industri, dan upaya pemanfaatan sumber daya secara lebih berkelanjutan. (***) sumber : humas BRIN
- Penulis: Irwan Wahyudi
