Ungkap Nasib 114 Anak Sungai Palembang, Ratu Dewa Beri Tugas Khusus Camat-Lurah
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 13 menit yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : ilustrasi/palembang.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Nasib 114 anak sungai Palembang menjadi perhatian Wali Kota Ratu Dewa, menyusul keberadaan sungai itu turut membentuk identitas Kota Palembang melalui cacatan sejarah, sementara masyarakat semakin jauh dari asal-usulnya. Oleh sebab ia, meminta camat dan lurah mendalami sejarah sungai di wilayah masing-masing.
Pesan tegas itu disampaikan Ratu Dewa saat membuka Seminar Sejarah 114 Sungai di Ruang Rapat Parameswara, Setda Kota Palembang, Rabu (14/10/2026).
Menurutnya menggali sejarah sungai tak hanya mengenang masa lalu, melainkan membangun kesadaran untuk menjaga warisan kota.
Selama ini, katanya Sungai Musi lebih dikenal sebagai ikon Palembang. Padahal, kota yang memiliki sejarah panjang ini juga menyimpan kisah dari 114 anak sungai yang menjadi bagian dari perjalanan peradaban, kehidupan masyarakat, dan perkembangan lingkungan.
Ratu Dewa ingin pengetahuan tersebut tidak berhenti di ruang seminar. Camat dan Lurah diminta memahami sejarah sungai di wilayah kerjanya, agar mampu menjelaskan asal-usulnya kepada masyarakat.
“Camat dan Lurah harus benar-benar mendalami seminar ini karena mereka merupakan salah satu pejabat setempat yang bisa menceritakan asal usul sungai tersebut,” tegas Ratu Dewa.
Instruksi ini, lanjut Dewa menjadi salah satu penekanan dalam seminar tersebut. Aparatur kewilayahan diharapkan tidak hanya mengetahui nama sungai, tetapi juga ikut menggali informasi sejarah yang masih tersimpan dalam ingatan masyarakat.
Ratu Dewa menambahkan, keberadaan 114 anak sungai perlu dipahami generasi muda sebagai bagian dari sejarah lingkungan Palembang.
“Butuh pengetahuan mengenai sungai dapat membantu masyarakat mengenali karakter wilayahnya serta memahami hubungan antara sungai dan perkembangan kota,”jelasnya.
Ia menilai seminar ini menjadi kesempatan untuk menghimpun kembali pengetahuan sejarah yang selama ini belum banyak diketahui masyarakat.
“Ini sudah lama kita nanti. Palembang sebagai kota tertua banyak sekali meninggalkan sejarah, terutama pada kajian seminar yang dibahas saat ini mengenai sungai,” ujarnya.
Ratu Dewa juga mendorong perubahan cara pandang terhadap sungai. Sungai, paparnya, tidak semestinya diperlakukan hanya sebagai peninggalan masa lalu, tetapi perlu ditempatkan sebagai bagian penting dari kehidupan kota.
Keberadaan sungai berkaitan dengan sistem tata air, lingkungan, kehidupan sosial, budaya, hingga potensi ekonomi masyarakat.
Oleh sebab, terangnya, upaya mengenali sejarahnya perlu berjalan seiring dengan kesadaran menjaga keberadaannya.
Data Sejarah 114 Sungai Bakal Diarahkan ke Digitalisasi
Upaya menggali sejarah 114 anak sungai Palembang tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah. Ratu Dewa mengajak akademisi, pemerhati sejarah, dan komunitas lingkungan ikut terlibat dalam pendokumentasian serta pelestarian sungai.
Kalangan akademisi dan pemerhati sejarah diharapkan memperkuat kajian berbasis bukti. Sementara itu, komunitas lingkungan dapat berperan dalam edukasi dan pengawasan partisipatif.
Camat dan Lurah juga diharapkan mendorong masyarakat mengenali sungai di lingkungan masing-masing. Informasi dari warga dapat menjadi bagian penting dalam menelusuri asal-usul sungai dan menghimpun pengetahuan lokal yang masih tersimpan.
Dengan keterlibatan berbagai pihak, sejarah sungai diharapkan tidak hanya tersimpan dalam dokumen, tetapi juga menjadi pengetahuan yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ratu Dewa turut mengemukakan gagasan pengembangan data digital sejarah 114 sungai secara bertahap. Melalui digitalisasi, informasi mengenai sungai di Palembang diharapkan dapat diakses lebih mudah, diperbarui, dan dimanfaatkan masyarakat.
“Saya juga berharap program digitalisasi data sejarah 114 sungai dapat dikembangkan secara bertahap menjadi sumber informasi yang mudah diakses, diperbarui, dan dimanfaatkan oleh masyarakat,” ungkapnya.
Jika dikembangkan, data tersebut berpotensi mendukung pendidikan sejarah lokal, pengenalan identitas wilayah, perencanaan lingkungan, serta partisipasi masyarakat dalam menjaga sungai.
Pendokumentasian sejarah 114 anak sungai, sebutnya menjadi langkah guna menghubungkan kembali masyarakat dengan warisan kotanya.
Apalagi, imbuh Ratu Dewa tantangannya bukan hanya mengetahui sungai apa saja yang pernah menjadi bagian dari perjalanan Palembang, melainkan juga memastikan pengetahuan tersebut tetap hidup dan berguna bagi masa depan kota. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
