Anak Sulit Fokus dan Membaca? Bisa Jadi Bukan Karena Malas
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 23 menit yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kemkes
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
ANAK sulit berkonsentrasi saat belajar sering kali dianggap tidak serius, mudah bosan, atau kurang berusaha. Begitu pula ketika anak membutuhkan waktu lebih lama untuk membaca, sebagian orang tua mungkin mengira ia kurang rajin berlatih.
Padahal, tidak semua kesulitan belajar disebabkan oleh kemalasan. Ada anak membutuhkan pendekatan belajar berbeda karena mengalami kesulitan memusatkan perhatian atau memproses informasi tertulis.
Kondisi seperti attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) dan disleksia menjadi dua hal yang perlu dipahami orang tua. Keduanya memiliki karakteristik berbeda, sehingga tidak tepat jika setiap anak yang sulit fokus atau lambat membaca langsung dianggap mengalami gangguan tersebut.
Hal terpenting adalah mengenali kesulitan yang dialami anak tanpa terburu-buru memberikan cap negatif.
Mengapa anak bisa kesulitan fokus atau membaca?
Setiap anak memiliki perkembangan dan cara belajar yang berbeda. Kesulitan berkonsentrasi bisa muncul karena berbagai hal, mulai dari kurang tidur, kelelahan, lingkungan belajar yang penuh gangguan, hingga masalah emosional.
Namun, jika kesulitan tersebut berlangsung terus-menerus dan mengganggu kegiatan sehari-hari, orang tua perlu memperhatikan lebih jauh.
ADHD merupakan gangguan perkembangan saraf yang dapat memengaruhi perhatian, pengendalian impuls, dan aktivitas. Anak dengan kondisi ini mungkin kesulitan mempertahankan perhatian, mengikuti instruksi, atau menyelesaikan tugas. Gejalanya dapat terlihat dalam lebih dari satu lingkungan, misalnya di rumah dan sekolah.
Sementara itu, disleksia merupakan gangguan belajar spesifik yang terutama memengaruhi kemampuan membaca. Anak mungkin kesulitan mengenali kata, menghubungkan huruf dengan bunyinya, mengeja, atau membaca dengan lancar meskipun sudah mendapatkan latihan.
Kedua kondisi ini tidak sama. Anak dengan ADHD belum tentu mengalami disleksia, begitu pula sebaliknya. Sebagian anak juga bisa mengalami keduanya.
Kemenkes RI melansir laman resmi kemkes, mengingatkan ADHD dan disleksia bukan bentuk kemalasan ataupun akibat kesalahan pola asuh. Pemahaman keluarga dan dukungan lingkungan diperlukan agar anak memperoleh bantuan sesuai kebutuhannya.
Tanda yang perlu diperhatikan orang tua
Orang tua tidak perlu langsung khawatir ketika anak sesekali kehilangan konsentrasi atau salah membaca. Hal yang lebih penting adalah melihat pola kesulitan, seberapa sering terjadi, dan dampaknya terhadap kegiatan sehari-hari.
Beberapa hal yang bisa diperhatikan antara lain:
- Anak berulang kali kesulitan menyelesaikan tugas karena kehilangan fokus.
- Anak membutuhkan bantuan berulang untuk mengikuti instruksi yang sesuai dengan usianya.
- Anak terus mengalami kesulitan mengenali kata, mengeja, atau membaca meskipun sudah berlatih.
- Anak terlihat sangat frustrasi ketika diminta membaca atau mengerjakan tugas tertentu.
- Kesulitan mulai memengaruhi kepercayaan diri, hubungan dengan teman, atau kegiatan di sekolah.
Tanda-tanda tersebut bukan alat untuk mendiagnosis ADHD maupun disleksia. Kesulitan yang terlihat serupa bisa memiliki penyebab berbeda dan perlu dinilai sesuai kondisi masing-masing anak.
Jika masalah terus berulang, orang tua dapat berdiskusi dengan guru dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau profesional yang memiliki kompetensi dalam perkembangan anak dan kesulitan belajar.
Lima cara membantu anak di rumah
Sambil mencari tahu penyebab kesulitan anak, ada sejumlah langkah sederhana yang bisa dicoba keluarga.
1. Hindari membandingkan anak dengan teman sebayanya
Membandingkan kemampuan membaca atau konsentrasi anak dengan saudara dan teman justru bisa membuatnya merasa tidak mampu. Lebih baik perhatikan kemajuannya sendiri, termasuk pencapaian kecil yang sebelumnya sulit dilakukan.
2. Bagi tugas menjadi bagian yang lebih pendek
Daripada meminta anak menyelesaikan banyak soal sekaligus, berikan satu tugas kecil terlebih dahulu. Setelah selesai, beri jeda singkat sebelum melanjutkan ke bagian berikutnya.
Cara ini dapat membantu membuat kegiatan belajar terasa lebih terarah. Namun, kebutuhan setiap anak berbeda sehingga durasi belajar perlu disesuaikan.
3. Ciptakan tempat belajar yang nyaman
Pilih tempat dengan pencahayaan cukup dan gangguan yang minim. Singkirkan benda yang tidak diperlukan ketika anak sedang mengerjakan tugas.
Jika anak lebih mudah memahami instruksi secara lisan daripada melalui tulisan, orang tua dapat mencoba menjelaskan langkah-langkahnya dengan kalimat sederhana.
4. Dampingi latihan membaca tanpa membuat anak tertekan
Ajak anak membaca buku yang sesuai dengan kemampuan dan minatnya. Orang tua bisa bergantian membaca kalimat, menggunakan buku bergambar, atau membagi bacaan menjadi bagian pendek.
Hindari memarahi anak setiap kali melakukan kesalahan. Jika kesulitan membaca terus berlanjut, latihan di rumah sebaiknya dilengkapi dengan evaluasi dan dukungan yang sesuai, bukan menjadi satu-satunya cara penanganan.
5. Bangun komunikasi dengan guru
Guru dapat membantu menjelaskan apakah kesulitan anak juga terlihat di kelas, misalnya ketika mengikuti instruksi, membaca, atau menyelesaikan pekerjaan sekolah.
Informasi dari rumah dan sekolah dapat membantu orang tua memahami pola kesulitan anak. Jika diperlukan, catatan tersebut bisa dibawa saat berkonsultasi dengan tenaga profesional.
Jangan menunggu sampai anak kehilangan kepercayaan diri
Kesulitan belajar tidak hanya berkaitan dengan nilai rapor. Anak yang terus merasa tertinggal atau sering dimarahi karena kesulitan tertentu juga dapat mengalami tekanan emosional.
Konsultan Neurologi Anak FK Unpad/RSHS, dr. Purboyo Solek, menjelaskan anak dengan disleksia dapat memiliki tingkat kecerdasan normal, tetapi memproses informasi dengan cara berbeda.
Tanpa dukungan yang tepat dari keluarga dan sekolah, anak dengan disleksia rentan mengalami perundungan, kecemasan, hingga masalah kesehatan jiwa.
Karena itu, penting bagi orang tua untuk tidak menjadikan kemampuan membaca atau berkonsentrasi sebagai satu-satunya ukuran kecerdasan anak. Dukungan yang sesuai dapat membantu anak belajar dengan cara yang lebih cocok dengan kebutuhannya.
Jika kesulitan membaca, perhatian, atau perilaku mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, jangan ragu mencari penilaian profesional. Semakin jelas kebutuhan anak, semakin mudah keluarga dan sekolah menyusun dukungan yang tepat.
Kesehatan jiwa anak juga perlu diperhatikan
Persoalan belajar tidak dapat dipisahkan sepenuhnya dari kondisi emosional anak. Anak yang mengalami kesulitan berkepanjangan bisa merasa malu, takut melakukan kesalahan, atau enggan mengikuti kegiatan sekolah.
Dalam konteks yang lebih luas, Kemenkes RI menyoroti pentingnya dukungan keluarga terhadap kesehatan jiwa. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, prevalensi depresi pada penduduk berusia di atas 15 tahun tercatat 1,4 persen, atau diperkirakan sekitar 2,5 juta hingga 3 juta orang.
Angka tersebut merupakan data depresi pada kelompok usia di atas 15 tahun, bukan angka depresi pada anak yang mengalami ADHD atau disleksia. Meski demikian, data itu memperlihatkan pentingnya perhatian terhadap kesehatan jiwa dan akses terhadap pertolongan yang sesuai.
Kemenkes juga terus mendorong perluasan layanan kesehatan jiwa di puskesmas. Orang tua dapat mencari informasi mengenai layanan yang tersedia di fasilitas kesehatan setempat apabila membutuhkan konsultasi atau rujukan.
Pada akhirnya, anak yang sulit fokus atau membaca tidak membutuhkan label negatif. Mereka membutuhkan orang dewasa yang mau memahami kesulitannya, memberikan kesempatan untuk berkembang, dan mencari bantuan ketika diperlukan.
Terkadang, perubahan pertama yang paling berarti bukanlah membuat anak belajar lebih lama, melainkan mengubah cara orang tua melihat dan mendampinginya./ sumber : kemkes
- Penulis: Irwan Wahyudi
