Sudah 69 Kali OMC, Waterbombing Karhutla Palembang Terganggu Asap
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 21 menit yang lalu
- visibility 10
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Karhutla di Palembang belum juga benar-benar lepas dari kepungan asap. Pada Rabu (7/10/2026) pagi, kualitas udara di dua titik pemantauan BMKG masih berada pada kategori berbahaya.
Data BMKG pukul 06.00 WIB mencatat konsentrasi PM2.5 di Musi 2 mencapai 478,4 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Sementara di Talang Betutu mencapai 470,2 µg/m³. Angka tersebut jauh di atas ambang kategori berbahaya BMKG, yakni lebih dari 250,5 µg/m³.
Kondisi udara itu menggambarkan betapa pekatnya asap yang masih menyelimuti Palembang. Bahkan sebelum pagi, konsentrasi PM2.5 di Talang Betutu sempat melonjak hingga 781 µg/m³ pada pukul 02.00 WIB. Di Musi 2, angka tertinggi tercatat 564,2 µg/m³ pada pukul 05.00 WIB.
Di tengah kondisi tersebut, persoalan lain muncul di lapangan. Pemadaman dari udara ikut menghadapi hambatan karena jarak pandang sangat terbatas akibat asap.
Helikopter waterbombing memang tetap menjadi bagian dari operasi pemadaman. Namun, kondisi atmosfer yang dipenuhi asap membuat penerbangan tidak dapat dilakukan secara optimal.
Situasi inilah yang membuat penanganan karhutla di Sumatera Selatan tidak cukup hanya mengandalkan satu cara.
Pemerintah terus mengerahkan personel melalui jalur darat, memperkuat pemadaman dari udara dan menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Hingga Rabu, operasi tersebut disebut telah memasuki pelaksanaan ke-69.
Wakil Menteri Lingkungan Hidup RI Diaz Faisal Malik Hendropriyono melihat langsung kondisi tersebut saat mendampingi Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru meninjau lokasi karhutla di Kelurahan Talang Jambe, Kecamatan Sukarame, Palembang, Rabu.
Diaz mengapresiasi upaya pemadaman yang dilakukan pemerintah daerah. Namun, ia juga menyoroti perlunya langkah lain untuk kawasan gambut agar kebakaran tidak terus berulang.
“Sudah melakukan pemadaman baik darat dan udara waterbombing, ke depan bagaimana kita kaji untuk sekat kanal untuk lahan-lahan gambut ini,” ujar Diaz di lokasi.
Dari Talang Jambe, rombongan kemudian meninjau lokasi lain di lahan perkebunan sawit milik PT PRAGA di Desa Gasing, kawasan perbatasan Kabupaten Banyuasin dengan Kota Palembang.
Di lokasi tersebut, skala kebakaran jauh lebih besar. Herman Deru menyebutkan lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 125 hektare dan seluruhnya ludes terbakar.
“Upaya ini tidak berhenti, siang dan malam kami kerahkan baik jalur udara, darat, maupun OMC. Kebakaran di lahan milik PT PRAGA diperkirakan mencapai 125 hektare dan seluruhnya ludes terbakar,” tegas Herman Deru.
Menurut Herman Deru, tim gabungan tetap bekerja tanpa mengenal waktu untuk mengejar titik-titik api yang masih harus ditangani.
Namun, kondisi udara Palembang pada Rabu pagi memperlihatkan tantangan yang tidak ringan. Saat operasi pemadaman terus berjalan, asap masih membuat kualitas udara berada pada level berbahaya dan sekaligus mengganggu upaya pemadaman dari udara.
Penanganan karhutla kini tidak hanya berbicara soal mengejar api. Pemerintah juga mulai menyiapkan langkah jangka panjang, terutama untuk kawasan gambut, termasuk pengkajian sekat kanal agar kebakaran tidak mudah kembali meluas.
Dengan pemadaman darat, waterbombing dan OMC yang terus berjalan, pemerintah masih harus menghadapi satu persoalan besar di lapangan: asap yang begitu pekat hingga ikut menyulitkan upaya memadamkan api dari udara. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
