Transaksi BSB Lewat HP Melonjak 50,49 Persen, Kok Bisa?
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month Senin, 28 Sep 2026
- visibility 30
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : bsb
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – “Pakettt… paket!”
Suara tukang paket terdengar dari depan pagar rumahku dibilangan Perum Pesona Harapan Jaya, Tahap I, RT 50, Jalan Azhri, Kalidoni, Palembang saat pukul 14.00 WIB akhir pekan lalu.
Kalimat dari tukang anter yang menggunakan kendaraan roda dua kerap terdengar saat ada kiriman paket ke rumahku.
Belum sempat saya keluar, anak nomor duaku sudah lebih dulu berlari ke depan. Rupanya, dia memang sedang menunggu barang yang dipesannya melalui TikTok Shop.
Tak lama kemudian, dalam hitungan menit, paket yang dipesannya tiga hari lalu sudah berpindah tangan. Anak saya membayar dengan sistem cash on delivery (COD), tetapi uangnya tidak lagi berpindah dalam bentuk lembaran rupiah. Cukup dengan memindai QRIS, transaksi pun selesai. Gampang, kan?
Cara sederhana dan cepat seperti itulah yang kini menjadi bagian dari kebiasaan dalam bertransaksi. Tak perlu lagi mencari uang pas, bahkan tidak perlu repot merogoh kocek celana untuk menyiapkan kembalian.
Saya kemudian berpikir, mungkin beginilah cara transaksi berubah tanpa kita sadari. Dulu, ketika membeli sesuatu, kita menyiapkan uang tunai. Kalau uang tidak cukup, mencari ATM. Saldo ATM kurang, eh… pinjam dulu sama kakak, orang tua, bahkan teman dekat.
Sekarang? ponsel sudah berada di tangan, saldo tersedia, QRIS tinggal dipindai dan satu transaksi selesai hanya dalam hitungan detik. Kebetulan, rekening Bank Sumsel Babel (BSB) yang digunakan anak saya memang sering dipakai untuk berbagai kebutuhan pembayaran. Salah satunya membayar SPP kuliah yang dilakukan setiap enam bulan sekali di salah satu perguruan tinggi negeri di Palembang.
Untuk urusan seperti itu, saya menilai polanya terasa semakin praktis. Tak harus membawa uang tunai dalam jumlah besar dan tidak perlu datang hanya untuk melakukan pembayaran. Cukup menggunakan layanan digital yang tersedia.
Barangkali, contoh kecil di rumah saya ini bisa menjadi gambaran bagaimana teknologi perlahan masuk ke dalam kebiasaan transaksi sehari-hari, termasuk melalui layanan bank milik pemerintah daerah Sumsel dan Babel.
Kalau dipikir-pikir, ketika transaksi seperti itu terjadi setiap detik, menit dan jam, berapa banyak nasabah yang menggunakannya dalam sehari?, dari sinilah saya mulai melihat bahwa transaksi digital tak hanya fitur tambahan, setidaknya menjadi kebiasaan baru yang sedang tumbuh.
Transaksi BSB lewat HP ternyata memang sedang tumbuh, hal itu disampaikan Pemimpin Divisi Sekretaris Perusahaan Bank Sumsel Babel, Teddy Kurniawan, saat dikonfirmasi melalui WhatsApp. Ia mengatakan, hingga Agustus 2026, volume transaksi BSB Mobile meningkat 50,49 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. “Jumlah pengguna BSB Mobile juga meningkat 19,90 persen, sementara nilai transaksinya tumbuh 32,99 persen,” katanya, Senin (28/9).
Artinya, perubahan itu bukan semata-mata soal semakin banyak nasabah yang memiliki layanan mobile banking. Nasabah yang sudah menggunakannya juga semakin aktif bertransaksi melalui ponsel. Transfer, pembayaran, pembelian dan berbagai kebutuhan perbankan lainnya semakin mudah dilakukan tanpa harus datang ke kantor cabang.
QRIS juga ikut mengubah kebiasaan
Kalau BSB Mobile menggambarkan bagaimana ponsel digunakan untuk mengurus kebutuhan perbankan, QRIS menunjukkan perubahan lain, yaitu cara orang melakukan pembayaran karena cukup dengan membuka aplikasi, memindai kodenya, serta mengecek nominal, lalu terakhir transaksi selesai.
Data Bank Sumsel Babel menyebutkan, sampai Agustus 2026 jumlah merchant QRIS tumbuh 2,75 persen dibandingkan Agustus 2025. Volume transaksinya meningkat 24,57 persen. Namun, ada satu angka yang lebih menarik dan menjadiperhatian, yaitu nilai transaksi QRIS melonjak 68,02 persen.
Pertumbuhan tersebut membuktikan pembayaran digital semakin masuk ke berbagai aktivitas transaksi. Bukan hanya di toko atau pusat perbelanjaan.
Bahkan QRIS juga terus diperluas ke UMKM, pedagang, sekolah, rumah sakit, pemerintah dan berbagai sektor usaha. Jadi, mungkin persoalannya bukan lagi, apakah masyarakat akan menggunakan transaksi digital., Sebaliknya menjadi sebuah pertanyaannya yang justru, menyebutkan berapa jauh transaksi digital akan menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari?
Bukan berarti ATM dan uang tunai hilang
Tentu saja, memang tidak sesederhana itu, sebab uang tunai saat ini masih dibutuhkan. ATM dan kantor cabang juga tetap memiliki fungsi bagi masyarakat dengan kebutuhan transaksi tertentu. Namun, caranya memilih metode pembayaran memang semakin beragam. Untuk transaksi tertentu, QRIS bisa menjadi pilihan sedangkan untuk transfer, BSB Mobile tersedia di ponsel.
Sementara BI-FAST dan Virtual Account juga menjadi bagian dari layanan transaksi digital yang bisa digunakan sesuai kebutuhan. Oleh sebab itu, dengan berbagai pilihan tersebut, masyarakat tidak lagi hanya bergantung pada satu cara untuk menyelesaikan urusan keuangan. Perubahan seperti ini pun biasanya tidak datang secara tiba-tiba sebab, ia tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan yang kecil biasanya dilakukan berulang kali, dari pembayaran sehari-hari, transfer, pembelian, hingga kebutuhan pendidikan dan transaksi lainnya.
Bank Sumsel Babel menyiapkan langkah berikutnya
Hingga akhir 2026, Bank Sumsel Babel akan terus mendorong pertumbuhan transaksi digital. Fokusnya antara lain meningkatkan pengguna aktif BSB Mobile, memperluas QRIS dan merchant aktif, meningkatkan transaksi BI-FAST dan Virtual Account, serta mendorong digitalisasi transaksi pemerintah dan pendidikan.
Bank juga menargetkan peningkatan Fee Based Income dari transaksi digital, sehingga diharapkan akhirnya, digitalisasi perbankan mungkin bukan lagi soal teknologi yang terlihat canggih, sementara dengan layanan itu, nasabah dimanjakan, sebab dengan layanan tersebut membuat urusan menjadi lebih mudah?
Angka pertumbuhan BSB Mobile pun meningkat sebesar 50,49 persen sehingga memberi gambaran bahwa penggunaan layanan perbankan melalui ponsel semakin mendapat tempat dalam aktivitas transaksi, bukan berarti uang tunai akan hilang atau ATM tidak lagi dibutuhkan. Hanya saja, pilihan masyarakat dalam menyelesaikan urusan keuangan kini semakin banyak.
Dan ketika sebuah pilihan terasa lebih praktis, cepat dan mudah digunakan, bukan tidak mungkin pilihan itu perlahan berubah menjadi kebiasaan. Mungkin, di situlah wajah baru transaksi perbankan mulai terbentuk, pasalnya bukan karena orang berhenti menggunakan cara lama, tetapi karena semakin banyak urusan bisa diselesaikan dengan cara yang lebih sederhana. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
