Bukan Sukawinatan, Truk Sampah Palembang Kini Punya Tujuan Baru
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 20 menit yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto :ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
ADA yang berubah dari perjalanan sampah di Kota Palembang, lantaran truk-truk pengangkut sampah yang selama ini identik dengan perjalanan menuju tempat pembuangan akhir, Saat ini secara bertahap memiliki tujuan baru.
Sebagian sampah yang sebelumnya dibawa ke TPA Sukawinatan mulai diarahkan ke sebuah fasilitas di kawasan Keramasan, Kecamatan Kertapati. Di sana, sampah tidak cukup diturunkan lalu ditinggalkan.
Namun sampah juga perlu di ditimbang, lalu tonasenya dicatat, selanjutnya truk-truk itu mendapat pemeriksaan secara ketat. Setelah itu, muatan diarahkan menuju area penerimaan dan bunker untuk dipersiapkan sebagai bahan bakar.
Tempat itu tak lain adalah fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Kota Palembang. Perubahan rute ini mungkin terlihat tak ribet. Namun roda-roda truk-truk sampah itu berjalan berlahan dihingga sampai ditempat tujuan.
Palembang memang tengah memasuki tahapan baru dalam pengelolaan sampah yang tadinya di buang di TPA Sukawinatan alias dulu, tahunya dikumpulkan, angkut, lalu buang, tetapi sampah mulai diposisikan sebagai bahan yang dapat diolah dan dimanfaatkan kembali untuk sumber energi listrik di PSEL.
Sejak 1 September 2026, Pemerintah Kota Palembang melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mulai melakukan suplai sampah ke fasilitas PSEL Keramasan. Proses tersebut menjadi bagian dari persiapan menuju pengoperasian fasilitas serta memastikan sistem penerimaan sampah dapat berjalan.
Selama periode 1 hingga 23 September, pengaturan armada dan ritase dilakukan secara bertahap.
Setiap kendaraan yang masuk harus melewati proses pemeriksaan dan penimbangan. Berat sampah yang dibawa menjadi bagian penting dari pencatatan sekaligus evaluasi sistem suplai.
Artinya, PSEL bukan hanya persoalan memiliki bangunan, mesin dan teknologi sebab ada pekerjaan besar yang justru berada di hulunya, yaitu memastikan sampah yang menjadi bahan baku terus tersedia dan datang dengan sistem yang teratur.
Apalagi, ketika sampah tidak masuk, teknologi di dalam fasilitas itu juga tidak dapat bekerja sebagaimana yang dirancang.
Sampah yang sebelumnya dipandang sebagai sesuatu yang harus segera disingkirkan kini justru menjadi sesuatu yang harus dikumpulkan, diangkut, ditimbang, dicatat dan dipasok secara berkelanjutan.
Api pertama menyala
Setelah melalui tahapan persiapan dan pengujian sistem, momen penting akhirnya terjadi pada 23 September 2026.
Saat jarum jam menunjuk tepat pukul 23.00 WIB ketika pembakaran perdana sampah dilakukan di fasilitas PSEL Kota Palembang. Api yang menyala malam itu menjadi salah satu penanda penting dalam perjalanan commissioning fasilitas tersebut.
Wali Kota Palembang Ratu Dewa menerangkan pembakaran perdana itu sebagai tonggak dalam proses commissioning sekaligus dimulainya pengujian pengolahan sampah secara langsung.
Sistem PSEL, pembakaran tak cukup menyalakan api, karena perlu rangkaian proses yang harus berjalan, misalnya sejak sampah tiba di fasilitas hingga akhirnya masuk ke sistem pengolahan.
Setelah ditimbang, sampah diarahkan menuju area penerimaan dan bunker. Dari sana, sampah dipersiapkan sebagai bahan bakar untuk proses pengolahan menggunakan teknologi stoker moving grate.
Teknologi tersebut menjadi bagian dari sistem yang dirancang untuk mengurangi volume sampah sekaligus memanfaatkan kandungan energi yang terdapat di dalamnya.
Dengan kata lain, yang selama ini dianggap sebagai akhir perjalanan sampah di tempat pembuangan, kini dicoba menjadi awal dari proses lain, dan sampah masuk serta mulai diolah kemudian proses terakhirnya tentu dari pengolahan itu menghasilkan energi yang kemudian dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat.
Namun perjalanan menuju pengoperasian penuh belum selesai, pasalnya pembakaran perdana masih menjadi bagian dari rangkaian commissioning. Berbagai sistem dan peralatan harus terus diuji untuk memastikan seluruh proses berjalan sesuai rancangan.
Aspek keselamatan, keandalan peralatan, sistem pendukung dan pengendalian emisi menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari tahapan tersebut.
PSEL Kota Palembang juga dilengkapi sistem pengendalian emisi, antara lain semi-dry deacidification, injeksi karbon aktif, bag filter, serta Continuous Emission Monitoring System atau CEMS.
Sistem tersebut digunakan untuk mendukung pengendalian dan pemantauan emisi selama proses pengolahan berlangsung.
Tantangan terbesar justru sebelum sampah dibakar
Kepala DLH Kota Palembang Ahmad Mustain menjelaskan, keberadaan fasilitas PSEL tidak otomatis menyelesaikan persoalan persampahan.
Sistem dari hulu harus ikut disiapkan, mulai dari pengumpulan, pengangkutan, penimbangan, pengaturan ritase hingga pencatatan tonase harus berjalan secara terintegrasi.
PSEL membutuhkan sampah sebagai bahan baku sehingga setidaknya pemerintah kota harus memastikan sistem pengangkutan mampu memasok kebutuhan fasilitas secara konsisten.
Armada yang selama ini bekerja mengangkut sampah dari berbagai wilayah Palembang harus diselaraskan dengan kebutuhan PSEL. Misalnya menyangkut rute, ritase dan jumlah sampah yang masuk menjadi bagian dari sistem yang harus terus dievaluasi.
Dengan demikian, perubahan yang sedang berlangsung sebenarnya bukan hanya terjadi di dalam fasilitas Keramasan. Perubahan itu juga terjadi di jalan-jalan kota, ketika truk pengangkut sampah mulai memiliki tujuan berbeda.
Jika sebelumnya perjalanan berakhir di TPA, kini sebagian perjalanan diarahkan menuju fasilitas pengolahan. Sampah yang datang pun tidak lagi dihitung sebagai muatan yang harus dibuang, karena harus tercatat dalam sistem sebagai bahan baku, dan nantinya diharapkan menjadi energi.
Perhatian pemerintah pusat
Tahapan penting tersebut kemudian mendapat perhatian pemerintah pusat, Menteri Koordinator Bidang Pangan Indonesia Zulkifli Hasan mengunjungi fasilitas PSEL Kota Palembang, Jumat, (25/9).
Ia didampingi Wali Kota Palembang Ratu Dewa bersama jajaran organisasi perangkat daerah terkait. Kunjungan tersebut berlangsung ketika PSEL tengah memasuki tahapan penting dalam proses commissioning.
Artinya, fasilitas yang selama ini berada dalam proses pembangunan dan persiapan mulai memasuki fase ketika sistemnya diuji secara langsung.
Keberadaan PSEL menjadi bagian dari upaya membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi di Kota Palembang.
Meski sudah masuk pada pembakaran perdana, tahapan selanjutnya masih mencakup penyempurnaan commissioning, pengujian sistem secara menyeluruh, evaluasi kinerja fasilitas serta memastikan aspek teknis dan lingkungan memenuhi ketentuan yang berlaku.
Sebab mengubah sampah menjadi energi bukan hanya persoalan menyalakan tungku. Ada sistem panjang yang harus bekerja bersama. Dari rumah dan sumber sampah, sampah dikumpulkan. Kemudian diangkut. Kendaraan masuk ke fasilitas, muatan ditimbang dan dicatat. Sampah masuk ke bunker. Setelah diproses, energi dari sampah dimanfaatkan.
Rantai tersebut harus berjalan terus-menerus, dan justru keberlanjutan rantai itulah yang akan menentukan perjalanan PSEL setelah tahap commissioning berakhir.
Ketika sampah memiliki perjalanan baru
Selama bertahun-tahun, persoalan sampah selalu berujung pada pertanyaan yang sama, dibawa ke mana setelah dikumpulkan? Kini Palembang mencoba mengubah pertanyaan itu.
Bukan hanya ke mana sampah dibawa, tetapi apa yang dapat dilakukan terhadap sampah setelah sampai di tempat pengolahan.
PSEL Keramasan menjadi bagian dari eksperimen besar tersebut, apalagi sampah yang sebelumnya berakhir di TPA secara bertahap diarahkan menjadi bahan baku energi. Perubahan itu belum selesai dan fasilitasnya juga belum sepenuhnya memasuki pengoperasian penuh.
Namun pembakaran perdana pada 23 September telah membuka satu babak baru, yaitu ketika truk-truk sampah yang datang ke Keramasan membawa sesuatu yang selama ini dianggap tidak bernilai. Tapin kini sangat bernilai karena timbunan itu terdapat kandungan energi yang sedang dicoba dimanfaatkan.
Maka, perjalanan sampah Palembang kini tidak lagi berhenti ketika pintu truk terbuka dan muatannya diturunkan. Di PSEL, perjalanan itu justru baru dimulai, dari sampah menuju proses, dan selanjutnya proses itu menuju energi.
Oleh sebab itu, Palembang sedang menguji apakah sampah yang selama ini menjadi persoalan kota dapat mengambil peran baru sebagai bagian dari sumber energi, selain itu sampah juga bisa menjadi penhasilan baru masyarakat Palembang yang memang benar-benar sadar bahwa sampah bukan lagi limbah kotor, busuk yang harus di buang di TPA, namun ke depannya bisa bernilai ekonomis. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
