Hotspot Sumsel Tinggal 17, Tapi Sabtu PM2.5 Palembang Tembus 419
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 23 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kehutanan.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID, – Palembang belum benar-benar terbebas dari persoalan asap menyusuljumlah hotspot di Sumatera Selatan turun menjadi 17 titik, konsentrasi PM2.5 di Stasiun Musi 2 justru sempat mencapai 419,3 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada Sabtu (26/9/2026) dini hari.
Angka tersebut menunjukkan kualitas udara masih perlu diwaspadai, meski pemantauan titik panas menunjukkan penurunan dibandingkan hari sebelumnya.
Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari pemantauan satelit NASA Terra/Aqua, SNPP dan NOAA-20 hingga Jumat (25/9/2026) pukul 21.10 WIB, Sumatera Selatan terpantau memiliki 17 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence).
Jumlah itu turun dari 25 hotspot pada pemantauan sebelumnya. Namun, angka hotspot dan kondisi kualitas udara merupakan dua indikator yang berbeda. Hotspot merupakan titik anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak otomatis sama dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas lahan yang terbakar.
PM2.5 Palembang masih tinggi
Sementara kondisi udara Palembang pada Sabtu menunjukkan persoalan asap masih belum sepenuhnya berakhir, konsentrasi PM2.5 di Stasiun Musi 2 tercatat mencapai 419,3 µg/m³ sekitar pukul 02.00 WIB. Pada pukul 06.00 WIB, angkanya masih berada di kisaran 251 µg/m³.
Kondisi tersebut memperlihatkan penurunan jumlah hotspot tidak serta-merta membuat kualitas udara langsung membaik, dalam siaran persnya, Kementerian Kehutanan juga mencatat kondisi udara dan jarak pandang di sejumlah wilayah Sumatera masih dipengaruhi asap. Pemantauan BMKG Aviation pada Jumat (25/9) dini hari mencatat Palembang dalam kondisi berasap dengan jarak pandang sekitar 5 kilometer.
Hotspot turun, penanganan tetap berjalan
Kementerian Kehutanan menyebutkan pengendalian karhutla masih dilakukan melalui patroli, deteksi dini, pengecekan lapangan serta pemadaman di darat dan udara.
Penanganan juga tetap memperhatikan wilayah gambut. Bara yang berada di bawah permukaan dapat bertahan meskipun api di permukaan sudah terlihat padam, sehingga proses pendinginan dan pembasahan tetap diperlukan.
Dengan kondisi tersebut, penurunan hotspot Sumsel dari 25 menjadi 17 titik menjadi perkembangan positif dari sisi pemantauan satelit, tetapi belum dapat dijadikan satu-satunya ukuran untuk menyatakan persoalan karhutla dan asap telah selesai.
Terlebih, pada saat yang sama kualitas udara Palembang masih mencatat konsentrasi PM2.5 yang sangat tinggi. Data hari ini akhirnya keadaanya dua kondisi yang berjalan bersamaan, hotspot Sumsel menurun, tetapi udara Palembang masih menghadapi tekanan asap dan partikulat. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
