Juara MTQ Sudah Pulang, Kemenag Tegaskan Tugas Besar Baru Dimulai
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kemenag.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Juara MTQ Nasional XXXI sudah ditetapkan dan para pemenang akan kembali ke daerah masing-masing. Kepulangan para juara ternyata bukan menjadi akhir dari rangkaian perjuangan. Kementerian Agama (Kemenag) justru menegaskan, tugas besar baru dimulai setelah kompetisi berakhir, yakni membawa nilai-nilai Al-Qur’an semakin hadir dalam kehidupan masyarakat.
Pesan itu disampaikan Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam penutupan MTQ Nasional XXXI. Menurutnya, kemeriahan musabaqah tidak boleh berhenti ketika para peserta meninggalkan arena dan para juara menerima penghargaan.
“Malam ini musabaqah berakhir. Para juara telah ditetapkan dan mereka akan kembali ke daerah masing-masing. Namun, tugas kita untuk membumikan Al-Qur’an justru dimulai setelah kemeriahan ini,” tuturnya.
Pernyataan itu memberi gambaran tentang arah yang ingin dibangun Kemenag setelah MTQ Nasional XXXI berakhir. Ajang yang selama ini identik dengan perlombaan membaca, menghafal, memahami, hingga menulis Al-Qur’an didorong agar memiliki dampak yang lebih panjang di tengah masyarakat.
MTQ Tak Cukup Berhenti di Arena Lomba
Kemenag mendorong MTQ berkembang tak hanya kompetisi menjadi ekosistem pembelajaran dan peradaban Al-Qur’an.
Artinya, pembinaan tidak berhenti ketika pemenang sudah ditentukan. Para qari dan qariah, hafiz dan hafizah, mufasir, penulis, hingga kaligrafer perlu mendapat pembinaan secara terencana dan berkelanjutan.
MTQ juga tidak hanya melahirkan juara setiap kali digelar, tetapi juga membangun generasi yang terus mengembangkan kemampuan dan pemahaman terhadap Al-Qur’an.
Arah ini menjadi salah satu pesan penting Kemenag setelah penutupan MTQ Nasional XXXI. Panggung kompetisi boleh ditutup, tetapi pembinaan justru harus berjalan di daerah masing-masing.
Kemenag Dorong MTQ Lebih Inklusif
Pesan berikutnya berkaitan dengan akses. Kemenag ingin pengembangan MTQ semakin inklusif, termasuk bagi penyandang disabilitas.
Pengembangan cabang bagi penyandang disabilitas dinilai perlu dibarengi dengan ketersediaan tenaga pengajar, metode pembelajaran, serta fasilitas keagamaan yang ramah disabilitas.
Dengan demikian, semangat MTQ tidak hanya dirasakan oleh mereka yang memiliki akses dan kemampuan yang sama, tetapi dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.
“Begitu juga dengan metode pembelajaran, dan fasilitas keagamaan yang ramah disabilitas,” tegas Menag.
Generasi Qurani Diminta Tak Gagap Teknologi
Hal lain yang cukup mencuri perhatian dalam pesan Kemenag adalah soal teknologi.
Di tengah perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), generasi Qurani juga didorong untuk memahami dan memanfaatkan perkembangan teknologi tersebut.
Namun, pemanfaatannya tetap harus disertai integritas dan kompas moral. Teknologi dapat digunakan untuk memperluas pendidikan, dakwah, serta akses pengetahuan.
Di saat yang sama, Menag mengingatkan adanya risiko yang harus diwaspadai di ruang digital, mulai dari disinformasi, manipulasi, penyalahgunaan data hingga ujaran kebencian.
Penguasaan Al-Qur’an dan perkembangan teknologi, pesannya lagi, tidak harus berjalan di jalur yang berbeda. Generasi Qurani justru perlu mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan nilai yang menjadi pijakannya.
MTQ Juga Harus Berdampak ke Ekonomi
Kemenag juga melihat MTQ yang jarang menjadi perhatian utama dalam sebuah kompetisi keagamaan, yakni dampaknya terhadap perekonomian masyarakat.
Penyelenggaraan MTQ menggerakkan berbagai sektor, mulai dari perhotelan, transportasi, kuliner, perdagangan, UMKM hingga industri kreatif.
Berdasarkan perhitungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan BPS yang disampaikan dalam penutupan, perputaran ekonomi selama MTQ Nasional XXXI diperkirakan mencapai Rp1,2 triliun.
Sementara, penyelenggaraan MTQ tidak hanya menghasilkan aktivitas di arena perlombaan. Ada pergerakan ekonomi yang ikut dirasakan masyarakat selama ribuan peserta, pendamping, pejabat dan pihak terkait berada di lokasi kegiatan.
“Syiar Al-Qur’an berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi rakyat dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” kata Menag.
Setelah Juara Pulang, Apa yang Dibawa?
Pesan Kemenag setelah penutupan MTQ Nasional XXXI tidak berhenti pada siapa yang menjadi juara.
Para pemenang memang akan kembali ke daerah masing-masing. Namun, semangat yang terbentuk selama MTQ diharapkan ikut dibawa pulang dan diteruskan di tengah masyarakat.
Menag menyampaikan apresiasi kepada Jawa Tengah dan Kota Semarang serta seluruh pihak yang telah menyukseskan pelaksanaan MTQ Nasional XXXI.
Kepada seluruh kafilah, ia berpesan lagi agar semangat Al-Qur’an yang tumbuh selama penyelenggaraan MTQ tidak berhenti sebagai pengalaman di arena perlombaan.
“Sampaikan kepada masyarakatkita datang dari latar belakang berbeda, tetapi dipersatukan oleh kecintaan kepada Al-Qur’an dan pengabdian kepada Indonesia,” pungkasnya dalam keterangan rilis dilaman kemenag. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
