Titik Api Nasional Anjlok Drastis, Karhutla Sumsel Malah Makin Membara, Tertinggi di 6 Provinsi Prioritas
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month Selasa, 8 Sep 2026
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kehutanan.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Jumlah titik panas (hotspot) di Indonesia menunjukkan penurunan cukup tajam pada pemantauan terakhir. Namun, kondisi berbeda terlihat di Sumatera Selatan (Sumsel) yang justru mencatat jumlah hotspot high confidence tertinggi di antara enam provinsi prioritas.
Sumsel tercatat memiliki 88 hotspot high confidence. Angka tersebut menjadi perhatian pemerintah karena menunjukkan masih adanya indikasi anomali suhu permukaan yang perlu diperiksa lebih lanjut di lapangan.
Sementara itu, penurunan cukup besar terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan.
Kalimantan Tengah mengalami pengurangan 197 hotspot high confidence dalam satu hari. Kalimantan Barat juga turun 107 titik. Penurunan turut terjadi di Jambi dan Kalimantan Selatan sehingga ikut mendorong turunnya jumlah hotspot secara nasional.
Di tengah tren penurunan tersebut, Sumsel justru menjadi wilayah dengan jumlah hotspot high confidence tertinggi dari enam provinsi prioritas yang dipantau.
Kondisi ini menjadi dasar bagi pemerintah untuk memperkuat perhatian dan operasi lapangan di Sumsel, tanpa mengendurkan kewaspadaan di wilayah prioritas lainnya.
88 Hotspot Bukan Berarti 88 Kebakaran
Meski angka hotspot Sumsel cukup tinggi, Kementerian Kehutanan mengingatkan agar data tersebut tidak langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran.
Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit. Satu kejadian kebakaran bahkan dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot.
Karena itu, setiap titik yang terpantau tetap membutuhkan verifikasi melalui groundcheck dan pemantauan kondisi sebenarnya di lapangan.
Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, serta para pihak terus melakukan berbagai langkah penanganan.
Operasi tersebut meliputi patroli, groundcheck, pemadaman darat, penyekatan penjalaran api, mopping up, pendinginan, hingga pemantauan lokasi yang berpotensi kembali terbakar.
53 Armada Udara Disiagakan
Penanganan tidak hanya dilakukan dari darat.
Pemerintah mengerahkan 53 unit armada udara untuk mendukung operasi karhutla di enam provinsi prioritas, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.
Sebanyak 19 armada digunakan untuk patroli udara sekaligus mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Sementara 34 armada lainnya digunakan untuk operasi water bombing.
Pengerahan armada tersebut disesuaikan dengan perkembangan situasi dan kebutuhan di lapangan.
Untuk OMC, pelaksanaannya juga menyesuaikan kondisi meteorologis. Operasi ini terus diupayakan pada wilayah dan waktu yang memungkinkan untuk membantu pembasahan lahan dan pengendalian karhutla.
Asap Masih Ganggu Jarak Pandang Palembang
Selain memantau titik panas dan kondisi api, pemerintah juga terus mengawasi kualitas udara serta sebaran asap.
Berdasarkan pemantauan PM2,5, kualitas udara di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Sementara sebagian besar wilayah lainnya berada dalam kategori baik hingga sedang.
Kondisi asap juga masih terlihat dalam pemantauan meteorologi penerbangan BMKG pada Selasa pagi, 8 September 2026.
Di Palembang, jarak pandang tercatat sekitar 3,3 kilometer dengan kondisi berasap.
Jarak pandang yang lebih rendah terpantau di Pontianak, yakni sekitar 1,7 kilometer dan juga berada dalam kondisi berasap.
Sementara itu, jarak pandang di beberapa wilayah lainnya tercatat sekitar 4 kilometer di Palangka Raya, 4 kilometer di Pekanbaru, 6 kilometer di Jambi, dan 9 kilometer di Banjarmasin.
Khusus Palembang, kondisi tersebut menjadi perhatian karena terjadi bersamaan dengan tingginya hotspot high confidence di Sumsel.
Namun, kondisi jarak pandang tidak bersifat tetap. Konsentrasi asap, aktivitas kebakaran, arah dan kecepatan angin, kelembapan, curah hujan, hingga dinamika atmosfer dapat membuat kondisi berubah sewaktu-waktu.
Karena itu, pemerintah memantau seluruh indikator secara terpadu, mulai dari hotspot, kondisi api, kualitas udara, sebaran asap, cuaca, curah hujan, sampai jarak pandang.
Warga Diminta Tidak Membakar Lahan
Kementerian Kehutanan kembali mengingatkan masyarakat agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar.
Bagi masyarakat yang berada di wilayah terdampak asap, pemerintah juga meminta agar informasi resmi mengenai kualitas udara, cuaca, dan jarak pandang terus diperhatikan. Aktivitas masyarakat perlu disesuaikan apabila kondisi lingkungan memburuk.
Warga yang menemukan asap, titik api, maupun indikasi kebakaran juga diminta segera melapor agar dapat ditindaklanjuti petugas sedini mungkin.
Laporan dapat disampaikan melalui Posko Karhutla Kementerian Kehutanan di nomor 021-5704618, WhatsApp +62 8131-00-35000, atau email posko.karhutla@kehutanan.go.id.
Penurunan hotspot di sejumlah wilayah memang menjadi perkembangan positif dalam penanganan karhutla nasional. Namun, tingginya 88 hotspot high confidence di Sumsel membuat provinsi ini tetap membutuhkan perhatian serius.
Dengan operasi darat yang terus berjalan, puluhan armada udara yang dikerahkan, serta OMC yang disesuaikan dengan kondisi cuaca, pemerintah masih berupaya menekan risiko karhutla dan mencegah titik api berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
