Tak Harus Tanam Pohon, 4 Cara Anak Muda Bisa Ikut Jaga Hutan dari Cabai hingga Cegah Karhutla
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 14 jam yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kehutanan.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Apa hubungan 100 benih cabai, hutan bambu, Gunung Dempo, dan latihan menghadapi kebakaran hutan dan lahan?
Sekilas, keempatnya seperti tidak berkaitan. Namun bagi empat anak muda yang berbagi pengalaman dalam sesi Youth Talk Forest Youthverse (FYV) Resilience Sumatera Selatan, semuanya bertemu pada satu hal: kepedulian terhadap hutan tidak cukup hanya disimpan sebagai pengetahuan, tetapi perlu diubah menjadi tindakan.
Menjaga hutan juga tidak selalu berarti harus melakukan hal yang sama. Ada yang memulainya dari budidaya tanaman dan kewirausahaan, ada yang melihat peluang ekonomi dari hutan bambu, ada yang belajar mencintai alam dengan mengenal keanekaragaman hayati secara langsung, dan ada pula yang membekali diri dengan pengetahuan menghadapi kebakaran hutan dan lahan atau karhutla.
Dari 100 Benih Cabai, Muncul Peluang
Bagi Aurellia Chaila Amanta, langkah itu bermula dari sesuatu yang sederhana: 100 benih cabai.
Benih tersebut diperolehnya dalam sebuah kompetisi yang diselenggarakan Bank Indonesia. Dari sana, Aurellia mengembangkan tanaman hingga dapat dipanen dan menghasilkan nilai ekonomi.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari pun bisa menjadi pintu masuk untuk membangun kepedulian lingkungan sekaligus kreativitas dan kewirausahaan.
Pengalamannya sebagai Green Ambassador dan relawan semakin memperkuat pandangan tersebut. Menurut Aurellia, anak muda memiliki banyak pilihan untuk berkontribusi, termasuk dengan mengembangkan potensi yang ada di sekitar mereka.
“Anak muda punya banyak cara untuk berkontribusi. Kita bisa memulai dari apa yang ada di sekitar kita, mengembangkan kreativitas dan kewirausahaan, sekaligus membawa pesan kepedulian terhadap lingkungan,” ujar Aurellia.
Ketika Hutan Bambu Menjadi Ekowisata
Jalan berbeda ditempuh Sella Islamiah melalui pengalamannya di Bamboe Wanadesa.
Di tempat tersebut, masyarakat melihat potensi hutan bambu bukan hanya sebagai bagian dari lingkungan, tetapi juga sebagai sumber daya yang dapat dikembangkan menjadi ekowisata.
Pengalaman itu menunjukkan bahwa menjaga lingkungan dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat. Potensi yang ada di sekitar hutan dapat dikembangkan sehingga memberikan manfaat, tanpa harus melepaskan nilai pelestariannya.
Bagi Sella, persoalan anak muda bukan semata-mata kekurangan gagasan. Banyak anak muda memiliki ide, tetapi membutuhkan ruang, jejaring, pendampingan, dan kesempatan untuk mengembangkannya.
“Banyak anak muda memiliki ide yang bagus. Yang kita butuhkan adalah ruang untuk bertumbuh, berkolaborasi, dan mengembangkan ide tersebut menjadi sesuatu yang memberikan manfaat,” kata Sella.
Mengenal Hutan untuk Menumbuhkan Rasa Memiliki
Pengalaman Indah Suci M. membawa cerita ke kawasan Gunung Dempo, Pagar Alam.
Dalam praktik lapangan, ia menyusuri kawasan hutan di tengah kondisi cuaca yang berubah, melakukan analisis vegetasi, mencari spesimen herbarium, serta mengenal keanekaragaman hayati secara langsung.
Pengalaman semacam itu memberikan pemahaman yang berbeda. Hutan tidak lagi sekadar menjadi istilah dalam buku atau materi pembelajaran, tetapi menjadi ruang yang dapat diamati dan dipelajari secara langsung.
Dari proses mengenal tersebut, tumbuh pemahaman bahwa menjaga alam membutuhkan rasa memiliki.
“Ketika kita mengenal alam secara langsung, akan tumbuh kepedulian. Dari kepedulian kemudian muncul rasa memiliki, dan dari rasa memiliki tumbuh keinginan untuk menjaga,” ujar Indah.
Peduli Karhutla Juga Berarti Belajar Sebelum Api Datang
Sementara M. Zaid Pramandhana, anggota Saka Wanabakti, memilih jalur yang lebih dekat dengan upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan.
Melalui pelatihan bersama Manggala Agni, Zaid berkesempatan mengenal peralatan dan teknik pemadaman. Pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa menghadapi karhutla tidak cukup hanya mengandalkan keberanian ketika api sudah muncul.
Ada pengetahuan dan keterampilan yang perlu disiapkan sejak awal. Pencegahan dan kesiapsiagaan menjadi bagian penting sebelum sebuah kebakaran berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.
“Peduli saja tidak cukup. Kita harus tahu apa yang bisa dilakukan dan berani mengambil aksi nyata. Saya belajar bahwa menghadapi kebakaran bukan hanya tentang memadamkan api, tetapi juga bagaimana kita melakukan pencegahan dan membangun kesiapsiagaan,” kata Zaid.
Dari Peduli Menjadi Berani Bertindak
Empat pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa peran generasi muda dalam pelestarian hutan memiliki banyak bentuk.
Tidak semuanya harus dimulai dengan kegiatan yang sama. Budidaya tanaman, kewirausahaan, ekowisata, pembelajaran keanekaragaman hayati, hingga peningkatan kemampuan menghadapi karhutla dapat menjadi bagian dari upaya membangun generasi yang lebih peduli terhadap lingkungan.
Gagasan itulah yang menjadi salah satu pesan dalam Forest Youthverse Resilience Sumatera Selatan. Kepala Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri), Luckmi Purwandari, menegaskan bahwa ruang bagi generasi muda perlu dibangun bukan sekadar untuk menambah pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, kepemimpinan, kemampuan berkolaborasi, dan keberanian mengambil peran.
“Kami tidak ingin Genries hanya menjadi generasi yang tahu bahwa kebakaran hutan dan lahan adalah persoalan. Kami ingin mereka menjadi generasi yang bertanya: apa yang bisa saya lakukan? Karena peduli saja tidak cukup. Kepedulian harus tumbuh menjadi gagasan, gagasan harus menjadi inovasi, dan inovasi harus berujung pada aksi nyata,” ujar Luckmi.
Plt. Kepala Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah II Palembang, Eko Widodo, mengatakan kesadaran tersebut perlu dibangun melalui pengalaman langsung. Dalam rangkaian Forest Youthverse, Genries juga mendapat kesempatan melihat Training Center Daops Manggala Agni dan mempelajari upaya pencegahan serta penanganan kebakaran.
“Kita mulai dari kesadaran, salah satunya dengan mengikuti Forest Youthverse. Genries juga telah melihat langsung Training Center Daops Manggala Agni dan belajar bagaimana upaya pencegahan dan penanganan kebakaran dilakukan. Harapannya, setelah kegiatan ini kesadaran tersebut berkembang menjadi aksi nyata,” ujar Eko.
Forest Youthverse Resilience Sumatera Selatan sendiri mengangkat tema “Peatland & Fire Resilience: Membangun Ketangguhan Ekosistem Gambut dan Generasi Muda untuk Mencegah Kebakaran Hutan dan Lahan.” Sesi Youth Talk yang dimoderatori Alifah Chitunnisa dari Saka Wanabakti Sumatera Selatan menghadirkan Aurellia, Sella, Indah, dan Zaid sebagai contoh bahwa kontribusi terhadap lingkungan dapat dimulai dari bidang yang berbeda.
Pada akhirnya, menjaga hutan bukan hanya pekerjaan mereka yang berada di garis depan ketika kebakaran terjadi. Ketangguhan ekosistem juga dibangun jauh sebelum api muncul, melalui pengetahuan, kepedulian, inovasi, pemberdayaan masyarakat, dan kesiapsiagaan.
Dan bagi anak muda, langkah pertama tidak harus menunggu menjadi besar.
Bisa dimulai dari 100 benih cabai, sebatang bambu, perjalanan mengenal hutan, atau kemauan untuk belajar mencegah karhutla. Yang penting, kepedulian tidak berhenti sebagai kata. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
