Hotspot Karhutla Nasional Naik Jadi 18.065 Titik, Sumsel-Riau-Jambi Justru Turun
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 16 menit yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kehutanan.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Hotspot karhutla di Indonesia kembali meningkat pada 28 Agustus 2026. Data SiPongi Kementerian Kehutanan mencatat 18.065 titik, naik dari 14.788 hotspot sehari sebelumnya.
Namun, kenaikan secara nasional itu tidak terjadi merata sebab di sejumlah wilayah di Sumatera justru terlihat adanya penurunan titik panas, termasuk Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi.
Sumatera Selatan mencatat 1.036 hotspot pada 28 Agustus, turun dari 1.281 titik sehari sebelumnya. Penurunan juga terlihat di Riau dan Jambi setelah kedua provinsi tersebut sempat mencatat angka lebih tinggi pada 23-24 Agustus.
Riau yang sempat mencapai 491 hotspot pada 23 Agustus dan 447 titik pada 24 Agustus, kini berada di angka 265 titik. Sementara Jambi turun menjadi 86 hotspot setelah sebelumnya mencapai 437 titik pada 23 Agustus.
Di saat sejumlah wilayah Sumatera menurun, tekanan karhutla justru menguat di Kalimantan. Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan lonjakan terbesar, dari 5.041 menjadi 7.703 hotspot dalam sehari.
Kalimantan Barat juga mengalami kenaikan dari 2.165 menjadi 3.384 titik. Adapun Kalimantan Selatan bertambah dari 899 menjadi 1.354 hotspot pada periode yang sama.
Kondisi tersebut membuat Kementerian Kehutanan tetap menempatkan enam provinsi sebagai prioritas pengendalian karhutla. Selain tiga provinsi di Kalimantan, wilayah prioritas mencakup Sumatera Selatan, Jambi, dan Riau.
Manggala Agni bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, BPBD, pemadam kebakaran, Masyarakat Peduli Api, dunia usaha, dan masyarakat terus melakukan patroli serta penanganan di lapangan.
Operasi tidak hanya berupa pemadaman. Tim juga melakukan groundcheck, penyekatan, mopping up, pendinginan, serta menyiapkan dukungan udara untuk patroli dan water bombing.
Perhatian khusus diberikan pada wilayah gambut. Pendinginan dilakukan berulang untuk memastikan bara di bawah permukaan tidak kembali menyala dan memicu kebakaran baru.
Kondisi asap juga masih terlihat di sejumlah wilayah. Berdasarkan pengamatan BMKG pada 29 Agustus pagi, jarak pandang di Banjarmasin hanya 0,5 kilometer, sedangkan Pontianak dan Jambi masing-masing tercatat 0,8 kilometer.
Palangka Raya memiliki jarak pandang 3 kilometer dan Pekanbaru 2,5 kilometer. Sementara Palembang relatif lebih baik dengan jarak pandang 6 kilometer dalam kondisi cerah berawan.
Kementerian Kehutanan mengingatkan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan dari penginderaan satelit dan tidak otomatis berarti satu kejadian kebakaran. Setiap indikasi tetap membutuhkan verifikasi melalui pemantauan dan pengecekan lapangan.
Pemantauan hotspot dilakukan menggunakan satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20. Masyarakat diminta segera melaporkan asap atau indikasi kebakaran melalui Posko Karhutla Kementerian Kehutanan. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
