Wisata Belanja, Airlangga Dorong Ritel Jadi Motor Pertumbuhan Baru, Produk Lokal Ikut Dibidik
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 30 menit yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto :ekon.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Pemerintah mulai melihat wisata belanja bukan hanya aktivitas pelengkap di perjalanan wisata. Potensi konsumsi yang muncul dari pergerakan wisatawan dinilai bisa dimanfaatkan untuk memperkuat perdagangan domestik bahkan diyakini mampu membuka pasar lebih besar bagi produk dalam negeri.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pola belanja wisatawan perlu diarahkan, agar semakin banyak uang berputar di dalam negeri.
Menurutnya, seperti kuliner dan belanja merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengalaman wisata di berbagai negara.
Hal itu disampaikan Airlangga saat membuka Indonesia Retail Summit & Expo (IRSE) 2026 sekaligus menghadiri HARMONI Awards 2026 di Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Airlangga menjelaskan, Indonesia memiliki pasar yang besar untuk mengembangkan konsep wisata belanja.
Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dan perjalanan wisatawan nusantara pada semester pertama 2026 membuktikan aktivitas pariwisata dalam negeri tetap memiliki ruang untuk berkembang.
Badan Pusat Statistik mencatat kunjungan wisatawan mancanegara pada Januari-Juni 2026 mencapai 7,45 juta kunjungan atau naik 5,71 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada periode tersebut, perjalanan wisatawan nusantara mencapai 630,41 juta perjalanan dengan pertumbuhan 2,71 persen secara tahunan.
Besarnya mobilitas wisatawan membuat sektor ritel memiliki peluang untuk ikut tumbuh. Pusat perbelanjaan, pelaku UMKM, kuliner, hingga produsen barang lokal dapat mengambil bagian jika ekosistem wisata dan perdagangan dibangun secara lebih terintegrasi.
Pemerintah juga melihat pasar dari masyarakat Indonesia yang bepergian ke luar negeri.
Bank Indonesia mencatat sekitar 4,46 juta perjalanan wisatawan nasional ke luar negeri sepanjang Semester I 2026. Pembayaran jasa perjalanan wisatawan Indonesia di luar negeri pada periode tersebut mencapai sekitar USD6,7 miliar.
Angka itu menjadi gambaran terkait daya beli masyarakat Indonesia saat melakukan perjalanan cukup besar.
Tantangannya saat ini adalah bagaimana menciptakan pengalaman wisata belanja di dalam negeri yang menarik, sehingga aktivitas konsumsi semakin banyak memberikan manfaat bagi perekonomian nasional.
Ritel Didorong Masuk Desa
Pengembangan perdagangan domestik tidak hanya diarahkan ke pusat kota dan kawasan urban. Pemerintah ingin jaringan ritel menjangkau wilayah pedesaan sehingga masyarakat di daerah memiliki akses yang lebih luas terhadap kebutuhan sehari-hari sehingga bisa mendapatkan jalur pemasaran bagi hasil produksi lokal.
Airlangga mengatakan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dapat mengambil peran dalam ekosistem tersebut. Koperasi tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyedia barang ritel, tetapi juga dapat menjadi penghubung antara produk pertanian dan perikanan daerah dengan pasar.
Dengan pola itu, setidaknya dapat mengoptimalkan rantai perdagangan sehingga diharapkan tidak berhenti pada sisi konsumsi. Produk dihasilkan petani, nelayan, pelaku UMKM, dan produsen daerah dapat memperoleh akses pasar yang lebih dekat kepada konsumen.
Konsep ini setidaknya juga membuka peluang, agar pertumbuhan ritel ikut mendorong sektor produksi dalam negeri. Semakin kuat permintaan terhadap barang lokal, semakin besar pula kesempatan bagi pelaku usaha daerah untuk meningkatkan produksi dan memperluas pasar.
Konsumsi Domestik Masih Jadi Penopang
Dorongan terhadap perdagangan domestik datang ketika konsumsi rumah tangga masih menjadi salah satu penyangga utama ekonomi Indonesia.
Pada Triwulan II 2026, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06 persen secara tahunan dan menyumbang 53,32 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Sementara itu, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juli 2026 berada di level 116,8, masih berada di atas batas optimistis 100.
Hal itu sebagai gambaran pasar domestik sehingga tetap memiliki daya dorong yang besar. Oleh sebab itu, pemerintah ingin aktivitas konsumsi tidak hanya menghasilkan transaksi, tetapi juga memberikan efek berantai kepada produsen dan pelaku usaha di dalam negeri.
Digitalisasi pembayaran menjadi bagian lain dari penguatan ekosistem perdagangan. Hingga Juni 2026, QRIS telah digunakan 65,77 juta pengguna dan diterima 44,86 juta merchant. Sebanyak 96,68 persen merchant tersebut merupakan pelaku UMKM.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menilai transformasi perdagangan perlu melihat keseluruhan rantai ekonomi, mulai dari konsumen, pelaku usaha, produsen, distribusi hingga sistem pembayaran.
Dengan ekosistem yang semakin terhubung, wisata belanja diharapkan tidak hanya meningkatkan aktivitas ritel. Pergerakan wisatawan juga dapat menciptakan permintaan baru bagi produk lokal, memperluas pasar UMKM, dan membuat konsumsi masyarakat memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi ekonomi nasional. (****)
- Penulis: Irwan Wahyudi
