HUT RI ke-81, Kilang Tertua Berumur 122 Tahun di Musi Ini Justru Makin Garang Racik Energi Masa Depan
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 35 menit yang lalu
- visibility 10
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto :ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Momen perayaan HUT RI ke-81 padaAgustus 2026 ini menjadi bukti nyata ketahanan Kilang Plaju, pasalnya kilang minyak tertua di Indonesia ini tetap berdiri kokoh di tepian Sungai Musi sejak 1904 (berumur 122 tahun) meski disaat instalasi industri seumurnya banyak yang telah bertumbangan atau berakhir jadi museum tua, malah sebaliknya kilang bersejarah ini justru makin lincah berinovasi, ngeracik bahan bakar masa depan yang berbasis bahan baku kelapa sawit demi menjaga kemandirian energi nasional.
Beroperasinya fasilitas penopang energi ini melintasi lima generasi terbukti bukan cuma soal merawat kenangan sejarah. Kilang di Palembang ini terus bersolek mengikuti zaman, mengubah wajah minyak fosil konvensional menjadi pusat inovasi bioenergi domestik.
Fosil Murni Mulai Bergeser ke Energi Sawit
Banyak yang ngira kilang berusia lebih dari satu abad cuma bisa ngolah bahan bakar fosil mentah. Padahal, dari balik fasilitas berkapasitas 120 ribu barel per hari yang ditopang 5 unit Crude Distillation Unit (CDU) ini, lahir transisi besar-besaran menuju energi ramah lingkungan.
Tengok saja gebrakan penting pada 22 Juli 2026 lalu. Kilang Plaju sukses meluncurkan penyaluran (lifting) perdana Biosolar B50 ke Integrated Terminal Palembang. Formula yang memadukan 50% Fatty Acid Methyl Ester (FAME) kelapa sawit dengan 50% solar ini langsung digelontorkan untuk mengamankan pasokan energi masyarakat di wilayah Sumatera Bagian Selatan.
Implementasi mandatori B50 ini dampaknya tidak main-main. Konsumsi bahan bakar fosil bisa ditekan, ketergantungan pada BBM impor makin berkurang, dan hasil olahan sawit peternak lokal punya penyerap yang pasti.
Hasil Orek-Orek Inovasi Pekerja Lokal
Bertahannya Kilang Plaju menembus lintas zaman sebenarnya tidak lepas dari kultur riset para pekerjanya sendiri. Di luar urusan ngeracik BBM harian, ada dua inovasi non-BBM bernilai tinggi yang berhasil mereka tetaskan, yaitu Breezon MC-32 (Pendingin Hemat Listrik), yang diolah dari riset panjang sejak 2018, refrigeran berbasis propylene ini sanggup memangkas penggunaan daya listrik 20 sampai 30 persen. Sekarang, produk ini sudah dipakai resmi buat menopang operasional fasilitas gas di Lapangan Cepu, Jawa Tengah.
Selain itu Bijih Plastik Polytam, produk bahan baku plastik yang sudah digarap lebih dari lima dekade ini juga terus cetak rekor. Sepanjang tahun 2025 kemarin, produksinya tembus 50.050 ton—atau 114% melampaui target yang ditetapkan. Biji plastik ini jadi bahan baku vital buat industri kemasan, otomotif, sampai perabot rumah tangga di dalam negeri.
Menjaga Lingkungan di Tengah Operasional Berat
Menjalankan operasional kilang raksasa tepat di samping pemukiman dan aliran sungai besar tentu punya tantangan lingkungan tersendiri. Namun, komitmen hijau kilang ini terbukti konsisten lewat raihan PROPER Emas 4 tahun berturut-turut (2022–2025) dari pemerintah.
Bahkan sampai pertengahan Agustus 2026 ini, Kilang Plaju sudah mengantongi tidak kurang dari 26 penghargaan tingkat nasional untuk urusan keselamatan kerja, keberlanjutan lingkungan, dan kontribusi sosial.
Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Plaju, Khabibullah Khanafie, menerangkan rekam jejak panjang kilang justru jadi pelecut semangat para pekerja untuk terus beradaptasi dengan kebutuhan zaman.
Menjaga ketahanan energi nasional memang perjalanan panjang yang tidak ada habisnya, apalagi dari era ke era, teknologi terus berganti dan generasi pekerja bakal terus berputar, meski demikian Kilang Plaju telah membuktikan satu hal, yaitu warisan sejarah bisa terus dirawat tanpa harus kehilangan daya inovasi. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
