Cost of Fund Jadi Taruhan, Bank Sumsel Babel Perkuat Dana Murah
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 25 menit yang lalu
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto :ilustrasi/BSB
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Bank Sumsel Babel (BSB) memilih memperkuat dana murah atau current account saving account (CASA) untuk menjaga biaya dana (cost of fund) di tengah persaingan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) antarbank.
Pemimpin Divisi Sekretaris Perusahaan Bank Sumsel Babel Teddy Kurniawan mengatakan, perseroan tidak menjadikan penawaran bunga tinggi sebagai strategi utama untuk mengejar pertumbuhan DPK. Bank lebih mendorong pertumbuhan giro dan tabungan yang ditopang aktivitas transaksi nasabah.
“Pricing tetap dilakukan secara selektif. Kami tidak ingin mengejar pertumbuhan DPK dengan cara yang justru membuat biaya dana meningkat terlalu tinggi,” kata Teddy dalam keterangan resminya kepada sumselterkini.co.id, kemarin
Berdasarkan data per Juni 2026, DPK Bank Sumsel Babel mencapai Rp29,43 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp16,81 triliun berasal dari giro dan tabungan.
Menurut Teddy, penguatan dana murah dilakukan dengan mengembangkan berbagai ekosistem yang telah dimiliki perseroan, mulai dari pemerintah daerah, nasabah payroll, retail, UMKM, institusi hingga korporasi.
Ekosistem payroll menjadi salah satu sumber yang terus dikembangkan. Rekening payroll tidak hanya diarahkan sebagai rekening penerimaan gaji, tetapi juga didorong untuk digunakan dalam berbagai transaksi, seperti transfer, pembayaran dan aktivitas menabung.
“Semakin aktif rekening digunakan, semakin besar peluang dana tetap berada di bank. Dari hubungan payroll itu juga dapat dikembangkan layanan lain sesuai kebutuhan nasabah,” ujarnya.
Sementara itu, dana pemerintah daerah memiliki karakter pergerakan yang berbeda karena mengikuti siklus penerimaan dan belanja daerah. Kondisi tersebut membuat bank perlu memantau pergerakan saldo untuk memperkirakan kebutuhan funding dan likuiditas.
BSB juga terus melakukan diversifikasi sumber pendanaan melalui segmen retail, UMKM, institusi dan korporasi. Diversifikasi tersebut dinilai penting agar struktur funding tidak terlalu bergantung pada satu sumber dana.
Di tengah persaingan bunga antarbank, strategi tersebut menjadi salah satu cara BSB menjaga efisiensi pendanaan. Pertumbuhan DPK tidak semata-mata dikejar melalui harga bunga, tetapi melalui peningkatan dana murah dan dana berbasis transaksi.
Dengan porsi giro dan tabungan sekitar Rp16,81 triliun per Juni 2026, BSB memiliki basis dana murah yang menjadi salah satu penopang struktur pendanaan perseroan memasuki semester II-2026. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
