Harvest Now, Decrypt Later Ancam Data Indonesia, Pemerintah Dorong Kriptografi Tahan Kuantum
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 16 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : komdigi.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Harvest now, decrypt later menjadi ancaman baru bagi keamanan data Indonesia seiring perkembangan teknologi komputasi kuantum. Pelaku siber dapat mencuri data yang sudah terenkripsi, menyimpannya, lalu membukanya di masa depan ketika teknologi mampu memecahkan sistem enkripsi yang digunakan saat ini.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi) Nezar Patria mengatakan pola tersebut membuat Indonesia perlu mulai menyiapkan sistem keamanan yang mampu menghadapi perkembangan komputasi kuantum.
Menurut Nezar, pelaku tidak harus langsung bisa membaca data yang mereka curi. Data yang sudah dienkripsi dapat disimpan terlebih dahulu dan baru didekripsi ketika kemampuan teknologi sudah memungkinkan.
“Ada data-data yang sudah mereka curi, mereka enggak bisa buka, karena sudah ada enkripsinya. Cuma data itu dia simpan, diambil,” ujar Nezar dalam ITSEC Cyber & AI Academy Grand Launching di Jakarta Selatan, Senin (10/8/2026).
Nezar mengatakan kondisi itu mengubah cara pandang terhadap keamanan data. Perlindungan informasi tidak cukup hanya menggunakan sistem kriptografi yang dirancang untuk menghadapi kemampuan komputasi saat ini.
Indonesia, kata dia, perlu mulai mempersiapkan post-quantum cryptography atau kriptografi pascakuantum untuk mengantisipasi kemampuan komputer kuantum di masa mendatang.
“Kita juga harus bersiap-siap, terutama untuk keamanan data kita, untuk sistem kriptografi kita, itu adalah post-quantum cryptography,” tegasnya.
Persiapan tersebut dinilai perlu dilakukan sejak sekarang karena data yang dicuri hari ini masih dapat memiliki nilai di masa depan.
Infrastruktur digital dibangun saat ini juga dapat digunakan dalam jangka panjang sehingga aspek keamanan perlu memperhitungkan perkembangan teknologi yang belum sepenuhnya tersedia.
Perubahan pendekatan keamanan siber juga menjadi perhatian pemerintah setelah serangan ransomware terhadap Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) 2 pada Juni 2024.
Menurut Nezar, pengalaman tersebut menjadi salah satu pelajaran dalam membangun sistem digital pemerintah. Keamanan tidak seharusnya baru diperhatikan setelah sistem selesai dibangun, tetapi sudah dimasukkan sejak tahap perencanaan melalui pendekatan security by design.
“Security harus sudah masuk dalam perencanaan,” kata Nezar.
Di sisi lain, perkembangan kecerdasan artifisial (AI) turut mengubah peta ancaman siber. Menurut Nezar, AI dapat dimanfaatkan untuk memperkuat sistem pertahanan sekaligus digunakan untuk melakukan serangan.
Perkembangan agentic AI, lanjut dia, bahkan memungkinkan sejumlah aktivitas serangan dilakukan secara lebih otomatis dan tidak sepenuhnya bergantung pada peretas manusia.
“Yang bekerja bukan lagi hacker, tapi agentic AI yang melakukan serangan-serangan siber itu,” ungkapnya.
Menghadapi perkembangan tersebut, pemerintah juga menyoroti kebutuhan sumber daya manusia di bidang digital. Kebutuhan talenta digital Indonesia diperkirakan mencapai sekitar sembilan juta orang pada 2030, sedangkan kemampuan menghasilkan talenta saat ini baru sekitar tiga juta lebih.
Nezar menilai kehadiran ITSEC Cyber & AI Academy dapat menjadi salah satu jembatan antara kebutuhan industri dan kompetensi yang diperoleh mahasiswa di perguruan tinggi, khususnya dalam menghadapi perkembangan keamanan siber dan teknologi baru.
“Tanpa talent yang kuat, saya kira kekayaan data kita pada akhirnya akan berserak ke mana-mana dan akan dicuri, akan dibaca, akan di-capture oleh mereka yang lebih powerful,” tandasnya.
Ancaman harvest now, decrypt later membuktikankeamanan data tidak hanya menyangkut serangan yang terjadi hari ini. Data yang dicuri dan disimpan dapat tetap menjadi target hingga teknologi yang mampu membukanya tersedia, sehingga persiapan menghadapi era komputasi kuantum perlu dilakukan sebelum ancaman tersebut benar-benar datang. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
