Beruang Madu Serang Warga Pelalawan, BBKSDA Riau Turun Tangan
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 22 menit yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kehutanan.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Seekor beruang madu (Helarctos malayanus) dilaporkan menyerang seorang warga di Desa Pangkalan Gondai, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan, Riau. Peristiwa konflik manusia dan satwa liar yang terjadi saat warga beraktivitas di kebun tersebut membuat Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau segera bergerak melakukan penanganan untuk memastikan keselamatan masyarakat sekaligus memantau keberadaan satwa dilindungi itu.
Berdasarkan informasi dari pemerintah desa, kejadian bermula ketika korban sedang berada di kebun miliknya. Saat itu, seekor beruang madu datang dari arah belakang dan melakukan serangan secara tiba-tiba. Korban kemudian melakukan perlawanan hingga satwa tersebut melepaskan serangannya dan meninggalkan lokasi.
Akibat kejadian tersebut, korban mengalami luka dan kehilangan banyak darah. Setelah berhasil kembali ke rumah, kondisi korban dilaporkan sempat memburuk hingga pingsan. Keluarga kemudian segera membawa korban ke Rumah Sakit Selasih Pangkalan Kerinci untuk mendapatkan pertolongan medis.
Mendapat laporan mengenai konflik beruang madu di Pelalawan tersebut, BBKSDA Riau langsung mengerahkan Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) dari Pekanbaru menuju lokasi pada Rabu (5/8). Tim membawa satu unit kandang jebak (box trap) sebagai langkah kesiapsiagaan apabila satwa kembali muncul di sekitar area aktivitas warga.
Setibanya di Desa Pangkalan Gondai, Tim WRU BBKSDA Riau melakukan koordinasi dengan pemerintah desa dan pihak terkait untuk menggali informasi mengenai kronologi kejadian serta kondisi di lapangan. Langkah tersebut dilakukan sebagai dasar menentukan tindakan penanganan berikutnya.
Pada Kamis (6/8), Tim WRU bersama pemerintah desa dan aparat setempat melakukan pemasangan kandang jebak di sekitar lokasi kejadian. Pemasangan ini dilakukan untuk memantau keberadaan beruang madu sekaligus menjadi upaya mitigasi apabila satwa kembali memasuki wilayah yang berpotensi menimbulkan konflik dengan masyarakat.
Kepala Balai Besar KSDA Riau Supartono mengatakan penanganan konflik satwa liar harus dilakukan secara cepat, terukur, dan tetap memperhatikan keselamatan manusia serta keberlangsungan satwa yang dilindungi.
“Setiap laporan konflik satwa liar kami tindak lanjuti dengan menurunkan tim WRU ke lapangan. Penanganan dilakukan secara terukur dengan tetap mengutamakan keselamatan masyarakat serta menjaga kelestarian satwa liar yang dilindungi,” ujar Supartono.
Menurut Supartono, penyelesaian konflik manusia dan satwa liar membutuhkan koordinasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, aparat, hingga masyarakat. Upaya mitigasi menjadi bagian penting agar kejadian serupa dapat dicegah di kemudian hari.
Beruang madu merupakan salah satu satwa liar dilindungi di Indonesia. Kemunculannya di sekitar aktivitas manusia menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan masyarakat dan perlindungan habitat satwa.
BBKSDA Riau mengimbau masyarakat yang beraktivitas di kebun maupun kawasan yang berdekatan dengan habitat satwa liar untuk meningkatkan kewaspadaan. Masyarakat juga diminta menghindari bekerja seorang diri serta segera melapor kepada petugas apabila menemukan keberadaan satwa liar di sekitar permukiman atau area perkebunan.
Kementerian Kehutanan di bawah kepemimpinan Menteri Raja Juli Antoni terus memperkuat upaya mitigasi konflik manusia dan satwa liar melalui penanganan yang cepat, kolaboratif, dan berbasis konservasi. Langkah tersebut dilakukan agar keselamatan masyarakat tetap terjaga tanpa mengabaikan perlindungan terhadap keanekaragaman hayati Indonesia. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
