“Buah Tangan”: Kisah Perjalanan Oleh-Oleh yang Bukan Berasal dari Pohon
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 35 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto :ilustrasi/AI
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Kalau ada satu istilah dalam bahasa Indonesia yang sering membuat orang salah paham, mungkin saya salah satunya. Nama saya “buah tangan”.
Jangan buru-buru mencari saya di kebun. Saya tidak tumbuh di pohon mangga, tidak menggantung di dahan seperti rambutan, dan tidak perlu disiram setiap pagi dan sore. Saya memang punya kata “buah” dan “tangan”, tetapi saya bukan buah yang bisa dimakan, dan tangan saya juga bukan tangan manusia.
Saya hanyalah sebuah ungkapan. Sebuah ungkapan yang sering muncul ketika seseorang pulang dari perjalanan lalu membawa sesuatu untuk orang yang disayanginya. “Ini ada buah tangan dari saya.”
Begitu pula biasanya manusia berkata sambil menyerahkan sebuah benda kecil dengan senyum bangga. Padahal kalau dipikir-pikir, lucu juga, misal kalau benar-benar tangan berbuah, mungkin dokter akan bingung memeriksa pasien yang datang sambil berkata. “Dok, tangan saya berbuah pisang.” Untungnya, bahasa Indonesia lebih kreatif daripada kebun.
Saya Bukan Buah, Saya Juga Bukan Tangan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), buah tangan berarti oleh-oleh atau barang yang dibawa dari bepergian untuk diberikan kepada orang lain. Jadi, ketika seseorang berkata “Jangan lupa buah tangan dari Jakarta, ya.”
Maksudnya bukan meminta membawa buah yang dipetik menggunakan tangan. Yang diminta adalah kenang-kenangan.
Sesuatu yang menjadi tanda seseorang mengingat kita dalam perjalanannya, karena terkadang sebuah benda kecil bisa membawa cerita yang besar.
Mengapa Disebut “Buah Tangan”?
Pertanyaan menariknya adalah, kenapa harus buah? bukankah oleh-oleh bisa berupa baju, makanan, gantungan kunci, bahkan magnet kulkas bergambar tempat wisata?
Ternyata dalam bahasa Indonesia, kata “buah” sering digunakan untuk menggambarkan hasil atau sesuatu yang dihasilkan.
Kita mengenal misalnya “buah pikiran”, “buah karya”, “buah hati”, dan tentu saja “buah tangan”.
“Buah” bukan hanya tentang sesuatu yang tumbuh di pohon. Kadang “buah” adalah hasil dari usaha, rasa, atau perhatian seseorang. Sedangkan “tangan” menggambarkan sesuatu yang dibawa atau diberikan langsung oleh manusia.
Jadi, buah tangan bisa dimaknai sebagai hasil pilihan seseorang yang dibawa dengan tangan untuk diberikan kepada orang lain.
Saya Sering Datang dari Perjalanan Kecil
Banyak orang mengira buah tangan harus mahal, padahal tidak. Saya pernah hadir dalam bentuk kue kecil dari kampung halaman.
Saya pernah menjadi selembar kain tradisional, saya pernah berubah menjadi sebungkus kerupuk yang dibawa naik bus selama berjam-jam.
Bahkan saya pernah menjadi sebuah batu kecil dari pantai. “Lho, batu kok dibawa pulang?” Tenang…..bukan berarti rumahnya kekurangan batu, batu itu punya cerita.
Bisa jadi batu tersebut mengingatkan seseorang pada suara ombak, perjalanan bersama keluarga, atau momen bahagia yang sulit dilupakan.
Saya Kadang Membuat Orang Panik
Ada satu hal lucu tentang saya, ketika seseorang berkata “Nanti saya bawakan buah tangan.”
Sebagian orang langsung membayangkan sesuatu yang besar. Padahal kadang hasilnya hanya sebuah cokelat kecil. Lalu penerima berkata “Ini buah tangan?”
“Iya.” “Buahnya mana?” Nah, di sinilah saya sering dituduh.
Padahal saya sudah menjelaskan dari awal bahwa saya bukan saudara dekat buah apel atau durian. Saya adalah buah yang hidup di dunia bahasa.
Bukan Harganya, Tetapi Maknanya
Manusia sering lupa nilai sebuah buah tangan bukan terletak pada mahalnya barang.
Sebuah oleh-oleh sederhana bisa terasa sangat berharga jika diberikan dengan ketulusan.
Secangkir kopi dari daerah tertentu, sebungkus makanan khas kampung halaman. Sebuah kartu kecil berisi tulisan. “Terima kasih sudah selalu mendukung saya.”
Kadang benda sederhana seperti itu justru lebih lama diingat, karena yang sampai bukan hanya barangnya. Namun yang sampai itu adalah perhatian.
Buah Tangan dan Cerita Manusia
Saya hanyalah dua kata sederhana, namun di balik nama saya, ada banyak cerita. Ada orang yang mengingat keluarga ketika bepergian. Ada orang yang ingin berbagi kebahagiaan setelah melihat tempat baru.
Ada orang yang pulang membawa sedikit bagian dari perjalanan hidupnya untuk diberikan kepada orang lain. Itulah keindahan bahasa Indonesia.
Kadang dua kata biasa bisa menyimpan makna luar biasa, saya bukan buah yang tumbuh di pohon. Saya bukan tangan yang bisa menggenggam.
Saya adalah “buah tangan” sebuah tanda kecil bahwa seseorang pernah pergi jauh, tetapi tetap membawa orang lain dalam ingatannya.
Dan mungkin itulah hadiah terbesar dari sebuah oleh-oleh, bukan benda yang dibawa pulang, tetapi rasa bahwa kita tidak pernah dilupakan. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
