SUMSELTERKINI.CO.ID – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memburu kasus Tuberkulosis (TB) yang belum terdeteksi dengan memperluas pemeriksaan terhadap keluarga dan kontak erat pasien. Langkah ini dilakukan untuk menemukan pasien TB lebih cepat sekaligus memutus rantai penularan di masyarakat.
Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Benjamin Paulus Octavianus mengatakan, tantangan terbesar penanggulangan TB saat ini bukan hanya memastikan pasien yang sudah terdiagnosis mendapatkan pengobatan, tetapi juga menemukan orang yang telah terpapar namun belum mengetahui kondisinya.
“Indonesia masih menjadi negara dengan jumlah kasus Tuberkulosis terbesar kedua di dunia. Oleh karena itu kita harus melakukan langkah luar biasa. Pengobatan pasien TB sudah berjalan dengan baik, tetapi orang yang tinggal serumah atau kontak erat sering kali belum diperiksa,” ujar Benjamin saat meresmikan Program Homecare di Kabupaten Jember, Jumat (24/7/2026).
Menurut Benjamin, pemeriksaan terhadap kontak erat pasien TB menjadi langkah penting karena seseorang dapat membawa kuman TB tanpa langsung mengalami gejala.
Kondisi itu membuat penularan dapat terus berlangsung apabila tidak segera ditemukan dan ditangani.
Melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG), Kemenkes memperluas pemeriksaan TB dengan dukungan foto rontgen di berbagai wilayah.
Tahun ini, katanya pemeriksaan tersebut dilaksanakan di 53.335 lokasi di seluruh Indonesia, termasuk 228 lokasi di Kabupaten Jember.
Menurutnya pemeriksaan bukan hanya bertujuan menemukan pasien TB aktif, tetapi juga mengidentifikasi kelompok yang berisiko agar dapat memperoleh penanganan lebih awal.
Bagi kontak erat yang belum mengalami sakit, pemerintah menyiapkan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) untuk mencegah infeksi berkembang menjadi penyakit aktif.
“Yang sakit kita obati, sedangkan yang belum sakit kita berikan obat pencegahan. Kuman TB bisa berada di dalam tubuh seseorang dan baru menimbulkan penyakit satu sampai dua tahun kemudian,” jelas Benjamin.
Kemenkes menilai pendekatan berbasis keluarga menjadi salah satu strategi penting karena penularan TB sering terjadi di lingkungan terdekat pasien. Karena itu, keterlibatan pemerintah daerah, tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat dibutuhkan agar kasus dapat ditemukan lebih cepat.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui Program Homecare Kabupaten Jember bertajuk “Mewujudkan Dokter Keluarga untuk Masyarakat Tidak Mampu”.
Program ini dirancang untuk mendekatkan layanan kesehatan dengan mendatangi langsung rumah warga.
Bupati Jember Muhammad Fawait menambahkan, program Homecare dikembangkan setelah pemerintah daerah melihat masih adanya hambatan masyarakat dalam mengakses layanan kesehatan, meskipun sebagian besar warga telah memiliki perlindungan melalui Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
“Kami ingin memastikan masyarakat tidak hanya memiliki jaminan kesehatan, tetapi juga benar-benar bisa memperoleh pelayanan. Karena itu tenaga kesehatan akan datang langsung ke rumah-rumah warga,” kata Fawait.
Dalam pelaksanaannya, tenaga kesehatan akan melakukan pemeriksaan dasar, memberikan edukasi kesehatan, serta memanfaatkan layanan telemedicine apabila masyarakat membutuhkan konsultasi lebih lanjut dengan dokter.
Wakil Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Iwan Sumule menilai perluasan akses layanan kesehatan memiliki hubungan erat dengan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Menurut dia, persoalan kesehatan dan kemiskinan saling berkaitan. Ketika masyarakat terlambat mendapatkan layanan kesehatan, risiko kehilangan produktivitas dan meningkatnya beban ekonomi keluarga juga semakin besar.
Dengan integrasi deteksi dini TB, pemeriksaan kontak erat, dan layanan kesehatan berbasis rumah, pemerintah berharap lebih banyak kasus TB dapat ditemukan sejak awal sehingga pengobatan dan pencegahan dapat dilakukan lebih cepat. (***)

